Bunga Taman
Devi Artati /10201244039
Hari
ini cahaya matahari semakin redup di ufuk barat. Awan tebal telah menyelimuti
kota Jogja sejak siang hari. Kini langit tak secerah hari-hari kemarin. Itu
menandakan hujan segera turun membasahi seisi bumi. Seorang wanita muda
terlihat berjalan dengan tempo langkah yang cepat. Dia menggendong tas yang
sepertinya berisi banyak barang. Sebuah map plastik di taruh di atas kepala
untuk menghindari rintik-rintik air hujan yang semakin lama semakin banyak.
Wanita itu adalah sahabatku, Dia bernama Ratna. Kami teman satu kost di tanah
rantau ini. Ratna adalah seorang mahasiswa di salah satu universitas ternama di
Yogyakarta. Selain kuliah, dia juga mengajar les privat di rumah-rumah untuk
menambah penghasilan dan menutup biaya kuliahnya.
Aku
dan Ratna bersahabat sejak kami masuk kuliah dan menempati kost yang sama.
Sejak saat itu kami saling percaya untuk mencurahkan isi hati yang sedang kami
rasakan. Kami kerap sekali bercerita tentang apa yang menjadi masalah dalam
hidup. Walaupun kami berumur sama, namun Ratna bisa lebih dewasa dari aku. Hal
itulah yang membuat aku nyaman bersahabat dengan Ratna. Dia sering sekali
memberikan solusi-solusi jitu untuk masalah-masalah yang aku ceritakan
kepadanya.
***
Dua
puluh Oktober, aku berulang tahun. Ucapan selamat berdatangan dari teman-teman.
Tak ada kodo yang menghampiri pintu kamarku. Namun ketika aku pulang dari kampus
terdapat setangkai bunga mawar yang sangat indah. Karangan bunga itu disertai
tulisan di selembar kertas yang berbunyi “Peliharalah Aku, karena kelak kamu
pasti akan menjadi seperti aku”. Aku tak tahu apa yang hendak disampaikan
kata-kata itu. Aku tak bisa bertanya, karena tak ada siapa-siapa. Ratna yang biasanya
sebagai kunci jawaban setiap soal dalam benakku, kini dia tak ada karena sedang
ngeles dan pulang ketika hari malam telah tiba. Aku bawa bunga itu ke dalam
kamar dan ku taruh bunga ini di gelas berisi air. Bunga mawar yang terlihat layu, setelah beberapa
menit kemudian terlihat segar kembali. Ternyata walau hanya air, sangatlah
berarti dalam membuat keindahan yang tercermin dalam bunga ini.
Pukul
14.00 di ruang kamar tempat aku beristirahat handphoneku bergetar menandakan adanya
panggilan telepon yang masuk. Tertulis di layar adalah salah satu kerabatku di rumah.
“Hallo,
asalamu’alaikum…”. Aku menyapa dalam telepon.
“Wa’alaikumsalam,,
Dini lagi ngapain Nak?”, tanya saudaraku di telepon.
“Lagi
baca buku Bi, ada apa ya?”
“Kalau
hari ini pulang ke rumah, bisa nggak?”
“Emang
ada apa Bi?”
“Bapakmu
di rumah sakit, pengin ketemu Kamu katanya. Kamu pulang ya?”
“lho
sakit apa? Kalo gitu Aku usahakan Bi.”
“Cuma
sakit ringan kok. Ya udah, Kami tunggu ya,,, hati-hati di jalan!”
Aku
pun bergegas segera membenahi barang-barang yang akan Aku bawa. Ku taruh dalam
satu tas. Aku segera pulang dan berpamitan ke Ratna. Dia kaget dengan
kepulanganku secara mendadak. Dia hanya bisa mendoakan agar aku dan keluargaku
di rumah baik-baik saja.
***
Beberapa
jam kemudian aku sampai di terminal terdekat di rumahku. Aku mendapat telepon
dari orang rumah. Tak seperti biasanya, orang-orang rumah menginginkan untuk menjemput aku di terminal. Aku pun
merasa senang karena tidak harus repot-repot naik turun kendaraan seperti
biasanya. Disekitar rumah terlihat ramai para tetangga berduyun-duyun
menghampiri rumahku. Dan ketika melihatku melewati mereka semua, mereka
mengatakan, “Yang sabar ya Nduk!”. Aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi. Tak
kuasa aku menahan air mata yang keluar dari mataku. Terlihat Ayah yang sudah
terbujur kaku di ruang tamu menggunakan kain putih yang orang sebut dengan kain
kafan. Badanku mendadak lemas tak berdaya. Mataku menjadi gelap, dan entah apa yang
selanjutnya terjadi di ruang itu.
Jenazah
Ayah segera dibawa untuk disemayamkan di tempat peristirahatan terakhirnya.
Semoga di sana Ayah tenang dan diterima oleh Tuhan. Kini aku harus berpikir
maju ke depan. Aku masih punya keluarga. “Tanpa Ayah apakah aku dapat
melanjutkan kuliahku?”. Aku bertanya kepada diriku sendiri. Sedangkan yang
membutuhkan biaya banyak tidak hanya aku, namun adik dan kakakku juga.
Tujuh
hari paska Ayah meninggal, aku harus kembali ke Jogja untuk melanjutkan aktivitasku
seperti biasa. Aku mendapat sambutan yang baik dari teman-temanku dan juga
sahabatku Ratna ketika pertama kali sampai di kost. Kini aku mempunyai tekat
untuk berusaha lebih keras untuk mencapai cita-cita di masa depan. Aku harus
sadar bahwa Ayah sebagai penopang hidup keluarga, kini sudah tiada. Air mata
berlinang membasahi pipi. Aku tak kuasa menahannya. Ku buka kamar, masih ada
bunga mawar yang layu di atas gelas. Mungkin meninggalnya Ayah adalah salah
satu cobaan untukku agar aku lebih giat berusaha. Bunga yang indah memang tak
selamanya indah tapi kadang kala ada masanya dia menjadi layu. Jadi hidup tak
selamany mulus, tapi pasti ada halangan dalam hidup.
***
Kesekian
harinya, Ratna mengajakku pergi ke taman untuk menghiburku dari sedih yang
masih membekas di raut mukaku. Kami duduk di bangku yang tersedia di taman,
menikmati hiruk pikuk kesibukan dunia di sekitar taman. Ada dua sijoli yang
sedang bergandengan tangan sambil berjalan menyusuri taman. Ada yang sedang
asyik menawarkan barang dagangan kepada pengunjung taman. Ada pula yang
mempersembahkan satu atau dua lagu di depan pengunjung lantas sebagai
imbalannya diberilah uang koin maupun sebatang rokok yang pengunjung punya.
Ratna
mempunyai tempat singgah favorit setiap kali kami ke taman. Tempat itu adalah
pinggiran taman sebelah barat yang terdapat sekelompok bunga mawar yang tumbuh
indah dan segar. Ternyata ini adalah jawaban dari Ratna. Ketika aku berulang
tahun, Ratna yang memberiku bunga mawar yang indah itu. Dia bermaksud untuk
memberiku motivasi. Terlebih sekarang, dimana aku
baru saja mendapat musibah yang dapat menghambatku dalam menjalani hidup.
Setiap kali kami ke taman, kami duduk dan menikmati bunga yang indah itu.
Sebenarnya aku tak mempermasalahkan tempat duduk yang harus kita tempati setiap
kali kami mengunjungi taman itu. Namun berbeda dengan Ratna, entah motivasi apa
yang yang ada dalam hati Ratna, ketika ke taman itu harus duduk di sekitar
taman bunga mawar itu.
“kenapa
sih setiap kita kesini harus duduk di sini Na? padahal lebih enak di pingiran
kolam sana deh.”
Ratna
tidak langsung menjawab apa yang aku tanyakan kepadanya. Dia berdiri dan
mengelilingi tumbuhan bunga mawar di taman itu. Sambil menunjuk bunga yang
masih kuncup dan bunga yang sudah mekar nan indah dia berkata:
“Bunga-bunga
ini lah yang membuatku senang ada di sini. Bunga-bunga ini memiliki arti bagiku.
Mungkin orang-orang sekitar sini tidak berpikir seperti aku. Termasuk kamu, Din.”
“Memang
apa yang kamu pikirkan tentang bunga-bunga ini?”. Aku bertanya sambil mendekati
Ratna.
“Bagiku
bunga ini adalah inspirasi hidup.”
“Kok
begitu?”. Aku bertanya dengan penuh penasaran.
Bagi
Ratna bunga mawar adalah inspirasi hidup. Ratna memandang sebuah bunga mawar
bagaikan seseorang yang telah berhasil mewujudkan cita-citanya. Tak hanya bunga
mawar yang telah mekar menjadi indah, namun proses menjadi bunga mawar yang indah
adalah proses dalam hidup ketika akan menjadi orang yang bermakna bagi orang
banyak. Ratna berkata kepadaku tentang apa makna bunga mawar bagi dirinya. Kini
dia memotivasiku, bahwa ketika halangan mengmapiri, jadikanlah hal itu sebagai
tantangan dalam mencapai kesuksesan.
Bunga
mawar berproses panjang untuk menjadi indah. Bunga mawar
yang indah tidak semata-mata bisa menjadi indah. Awalnya bunga berasal dari
bakal buah yang berbentuk kecil dan masih terbungkus dengan kelopak bunga. Seperti
manusia yang mengawali usaha dalam mencapai kesuksesan. Untuk menjadi sukses
seseorang tak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Seperti halnya bunga
yang diawali bakal buah yang kecil dan belum menarik orang banyak.
Kelopak bunga yang membungkus bakal bunga bagaikan belenggu
yang menghalangi seseorang dalam memulai untuk berusaha mencapai kesuksesan. Salah satu yang terjadi padaku saat ini adalah
sepeninggalnya Ayah, merupakan salah satu belenggu dalam mencapai kesuksesanku.
Namun
jika bunga sudah berlahan mekar dan terlepas dari bungkusan kelopak bunga
menggambarkan seperti halnya seseorang mampu mampu melawan belenggu itu untuk
mencapai kesuksesan.
Warnanya yang cerah dan indah membuat bunga ini banyak
disukai oleh orang lain. Warna bunga yang cerah bagaikan nama orang yang telah
sukses maka akan dikenal oleh orang lain. Sedangkan bunga yang terlihat indah
itu juga menggambarkan seseorang yang telah mencapai kesuksesan itu akan dipandang
baik oleh orang lain dan tentunya akan lebih dihargai. Seseorang yang menarik
dan mencolok dalam hal baik pasti akan disukai banyak orang.
Terlalu asyik aku dan Ratna membicarakan tentang bunga
mawar di taman. Tidak disadari pula jam tangan telah menunjukan pukul 22.00.
Kami bergegas pulang untuk segera beristirahat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar