Minggu, 30 Maret 2014

cerpenku

Bunga Taman
Devi Artati /10201244039

Hari ini cahaya matahari semakin redup di ufuk barat. Awan tebal telah menyelimuti kota Jogja sejak siang hari. Kini langit tak secerah hari-hari kemarin. Itu menandakan hujan segera turun membasahi seisi bumi. Seorang wanita muda terlihat berjalan dengan tempo langkah yang cepat. Dia menggendong tas yang sepertinya berisi banyak barang. Sebuah map plastik di taruh di atas kepala untuk menghindari rintik-rintik air hujan yang semakin lama semakin banyak. Wanita itu adalah sahabatku, Dia bernama Ratna. Kami teman satu kost di tanah rantau ini. Ratna adalah seorang mahasiswa di salah satu universitas ternama di Yogyakarta. Selain kuliah, dia juga mengajar les privat di rumah-rumah untuk menambah penghasilan dan menutup biaya kuliahnya.
Aku dan Ratna bersahabat sejak kami masuk kuliah dan menempati kost yang sama. Sejak saat itu kami saling percaya untuk mencurahkan isi hati yang sedang kami rasakan. Kami kerap sekali bercerita tentang apa yang menjadi masalah dalam hidup. Walaupun kami berumur sama, namun Ratna bisa lebih dewasa dari aku. Hal itulah yang membuat aku nyaman bersahabat dengan Ratna. Dia sering sekali memberikan solusi-solusi jitu untuk masalah-masalah yang aku ceritakan kepadanya.
***
Dua puluh Oktober, aku berulang tahun. Ucapan selamat berdatangan dari teman-teman. Tak ada kodo yang menghampiri pintu kamarku. Namun ketika aku pulang dari kampus terdapat setangkai bunga mawar yang sangat indah. Karangan bunga itu disertai tulisan di selembar kertas yang berbunyi “Peliharalah Aku, karena kelak kamu pasti akan menjadi seperti aku”. Aku tak tahu apa yang hendak disampaikan kata-kata itu. Aku tak bisa bertanya, karena tak ada siapa-siapa. Ratna yang biasanya sebagai kunci jawaban setiap soal dalam benakku, kini dia tak ada karena sedang ngeles dan pulang ketika hari malam telah tiba. Aku bawa bunga itu ke dalam kamar dan ku taruh bunga ini di gelas berisi air. Bunga  mawar yang terlihat layu, setelah beberapa menit kemudian terlihat segar kembali. Ternyata walau hanya air, sangatlah berarti dalam membuat keindahan yang tercermin dalam bunga ini.
Pukul 14.00 di ruang kamar tempat aku beristirahat handphoneku bergetar menandakan adanya panggilan telepon yang masuk. Tertulis di layar adalah salah satu kerabatku di rumah.
“Hallo, asalamu’alaikum…”. Aku menyapa dalam telepon.
“Wa’alaikumsalam,, Dini lagi ngapain Nak?”, tanya saudaraku di telepon.
“Lagi baca buku Bi, ada apa ya?”
“Kalau hari ini pulang ke rumah, bisa nggak?”
“Emang ada apa Bi?”
“Bapakmu di rumah sakit, pengin ketemu Kamu katanya. Kamu pulang ya?”
“lho sakit apa? Kalo gitu Aku usahakan Bi.”
“Cuma sakit ringan kok. Ya udah, Kami tunggu ya,,, hati-hati di jalan!”
Aku pun bergegas segera membenahi barang-barang yang akan Aku bawa. Ku taruh dalam satu tas. Aku segera pulang dan berpamitan ke Ratna. Dia kaget dengan kepulanganku secara mendadak. Dia hanya bisa mendoakan agar aku dan keluargaku di rumah baik-baik saja.
***
Beberapa jam kemudian aku sampai di terminal terdekat di rumahku. Aku mendapat telepon dari orang rumah. Tak seperti biasanya, orang-orang rumah menginginkan  untuk menjemput aku di terminal. Aku pun merasa senang karena tidak harus repot-repot naik turun kendaraan seperti biasanya. Disekitar rumah terlihat ramai para tetangga berduyun-duyun menghampiri rumahku. Dan ketika melihatku melewati mereka semua, mereka mengatakan, “Yang sabar ya Nduk!”. Aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi. Tak kuasa aku menahan air mata yang keluar dari mataku. Terlihat Ayah yang sudah terbujur kaku di ruang tamu menggunakan kain putih yang orang sebut dengan kain kafan. Badanku mendadak lemas tak berdaya. Mataku menjadi gelap, dan entah apa yang selanjutnya terjadi di ruang itu.
Jenazah Ayah segera dibawa untuk disemayamkan di tempat peristirahatan terakhirnya. Semoga di sana Ayah tenang dan diterima oleh Tuhan. Kini aku harus berpikir maju ke depan. Aku masih punya keluarga. “Tanpa Ayah apakah aku dapat melanjutkan kuliahku?”. Aku bertanya kepada diriku sendiri. Sedangkan yang membutuhkan biaya banyak tidak hanya aku, namun adik dan kakakku juga.
Tujuh hari paska Ayah meninggal, aku harus kembali ke Jogja untuk melanjutkan aktivitasku seperti biasa. Aku mendapat sambutan yang baik dari teman-temanku dan juga sahabatku Ratna ketika pertama kali sampai di kost. Kini aku mempunyai tekat untuk berusaha lebih keras untuk mencapai cita-cita di masa depan. Aku harus sadar bahwa Ayah sebagai penopang hidup keluarga, kini sudah tiada. Air mata berlinang membasahi pipi. Aku tak kuasa menahannya. Ku buka kamar, masih ada bunga mawar yang layu di atas gelas. Mungkin meninggalnya Ayah adalah salah satu cobaan untukku agar aku lebih giat berusaha. Bunga yang indah memang tak selamanya indah tapi kadang kala ada masanya dia menjadi layu. Jadi hidup tak selamany mulus, tapi pasti ada halangan dalam hidup.
***
Kesekian harinya, Ratna mengajakku pergi ke taman untuk menghiburku dari sedih yang masih membekas di raut mukaku. Kami duduk di bangku yang tersedia di taman, menikmati hiruk pikuk kesibukan dunia di sekitar taman. Ada dua sijoli yang sedang bergandengan tangan sambil berjalan menyusuri taman. Ada yang sedang asyik menawarkan barang dagangan kepada pengunjung taman. Ada pula yang mempersembahkan satu atau dua lagu di depan pengunjung lantas sebagai imbalannya diberilah uang koin maupun sebatang rokok yang pengunjung punya.
Ratna mempunyai tempat singgah favorit setiap kali kami ke taman. Tempat itu adalah pinggiran taman sebelah barat yang terdapat sekelompok bunga mawar yang tumbuh indah dan segar. Ternyata ini adalah jawaban dari Ratna. Ketika aku berulang tahun, Ratna yang memberiku bunga mawar yang indah itu. Dia bermaksud untuk memberiku motivasi. Terlebih sekarang, dimana aku baru saja mendapat musibah yang dapat menghambatku dalam menjalani hidup. Setiap kali kami ke taman, kami duduk dan menikmati bunga yang indah itu. Sebenarnya aku tak mempermasalahkan tempat duduk yang harus kita tempati setiap kali kami mengunjungi taman itu. Namun berbeda dengan Ratna, entah motivasi apa yang yang ada dalam hati Ratna, ketika ke taman itu harus duduk di sekitar taman bunga mawar itu.
“kenapa sih setiap kita kesini harus duduk di sini Na? padahal lebih enak di pingiran kolam sana deh.”
Ratna tidak langsung menjawab apa yang aku tanyakan kepadanya. Dia berdiri dan mengelilingi tumbuhan bunga mawar di taman itu. Sambil menunjuk bunga yang masih kuncup dan bunga yang sudah mekar nan indah dia berkata:
“Bunga-bunga ini lah yang membuatku senang ada di sini. Bunga-bunga ini memiliki arti bagiku. Mungkin orang-orang sekitar sini tidak berpikir seperti aku. Termasuk kamu, Din.”
“Memang apa yang kamu pikirkan tentang bunga-bunga ini?”. Aku bertanya sambil mendekati Ratna.
“Bagiku bunga ini adalah inspirasi hidup.”
“Kok begitu?”. Aku bertanya dengan penuh penasaran.
Bagi Ratna bunga mawar adalah inspirasi hidup. Ratna memandang sebuah bunga mawar bagaikan seseorang yang telah berhasil mewujudkan cita-citanya. Tak hanya bunga mawar yang telah mekar menjadi indah, namun proses menjadi bunga mawar yang indah adalah proses dalam hidup ketika akan menjadi orang yang bermakna bagi orang banyak. Ratna berkata kepadaku tentang apa makna bunga mawar bagi dirinya. Kini dia memotivasiku, bahwa ketika halangan mengmapiri, jadikanlah hal itu sebagai tantangan dalam mencapai kesuksesan.
Bunga mawar berproses panjang untuk menjadi indah. Bunga mawar yang indah tidak semata-mata bisa menjadi indah. Awalnya bunga berasal dari bakal buah yang berbentuk kecil dan masih terbungkus dengan kelopak bunga. Seperti manusia yang mengawali usaha dalam mencapai kesuksesan. Untuk menjadi sukses seseorang tak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Seperti halnya bunga yang diawali bakal buah yang kecil dan belum menarik orang banyak.
Kelopak bunga yang membungkus bakal bunga bagaikan belenggu yang menghalangi seseorang dalam memulai untuk berusaha mencapai kesuksesan. Salah satu yang terjadi padaku saat ini adalah sepeninggalnya Ayah, merupakan salah satu belenggu dalam mencapai kesuksesanku. Namun jika bunga sudah berlahan mekar dan terlepas dari bungkusan kelopak bunga menggambarkan seperti halnya seseorang mampu mampu melawan belenggu itu untuk mencapai kesuksesan.
Warnanya yang cerah dan indah membuat bunga ini banyak disukai oleh orang lain. Warna bunga yang cerah bagaikan nama orang yang telah sukses maka akan dikenal oleh orang lain. Sedangkan bunga yang terlihat indah itu juga menggambarkan seseorang yang telah mencapai kesuksesan itu akan dipandang baik oleh orang lain dan tentunya akan lebih dihargai. Seseorang yang menarik dan mencolok dalam hal baik pasti akan disukai banyak orang.

Terlalu asyik aku dan Ratna membicarakan tentang bunga mawar di taman. Tidak disadari pula jam tangan telah menunjukan pukul 22.00. Kami bergegas pulang untuk segera beristirahat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar