USAHA DALAM HIDUPNYA
Rasa syukur
adalah ucapan paling pantas saat ini ketika apa yang saya inginkan bisa tercapai.
Tekadnya untuk keluar dari belenggu kemiskinan membuatnya yakin akan kesuksesan
yang akan menghampiri dirinya dimasa depan. Berbagai macam kesulitan dan pahit
manisnya kehidupan telah dia rasakan selama ini bersam keluarganya. Orang-orang
yang ada disekelilingnya telah membuatnya sadar akan segala sesuatu itu harus
diraih dengan usaha yang keras. Seseorang telah membuat saya lebih sadar akan kemudahan
yang telah Allah berikan kepada saya selama ini. Dia bernama Naning Anjarwati.
Dia mahasiswa pendidikan ekonomi di
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dia berasal dari salah satu desa terpencil
di Gunung Kidul Yogyakarta. Dia anak ke-3 dari tiga bersaudara yang semuanya
perempuan. Sedangkan mata pencaharian bapaknya hanya sebagai tukang jual ronde
keliling di kota Yogyakarta dan ibunya hanya sebagai petani bayam yang tidak
seberapa pendapatannya. Kehidupan ekonomi mereka sangatlah sederhana ataupun
bisa dibilang kurang mampu. Namun mereka sadar bahwa kesuksesan itu harus diperoleh
melalui usaha yang keras terlebih dahulu.
Menurut
cerita ayahnya, kelahiran Naning sebagai anak permpuan kurang diharapkan oleh
ayahnya. Ayah Naning menginginkan anak ketiganya lahir laki-laki tapi Tuhan
berkehendak lain. Naning pun lahir kedunia sebagai anak permpuan.Dampaknya
ketika dia tumbuh dari anak-anak hingga dewasa dia tumbuh sebagai anak yang
kurang patuh kepada kedua orang tuanya.Dia suka bermain sampai larut malam
walaupun dia adalah anak perempuan.Dia juga tidak pernah belajar seperti
kakak-kakaknya yang pandai dan pintar. Tapi sayangnya kakak-kakaknya tidak bisa melanjutkan sekolah sampai ke perguruan
tinggi karena kendala keuangan keluarga mereka.
Perjalanan
Naning sampai saat ini diawali dari sekolah SD. Dia sekolah di SD MI Negeri
Wonosari. Dia tidak penah memakai seragam sekolah baru seperti teman-teman yang
lain ketika tahun pelajaran baru. Dia hanya memakai baju seragam bekas kakaknya
yang kebetualan masih bisa dipakai. Dia sering diejek oleh teman-temanya namun
Naning tak pernah mempedulikannya. Sifatnya yang bandal dank eras kepala
memberikan satu keuntungan tersendiri sehingga dia tetap bertahan dengan
ekjekan-ejekan yang teman-temannya lontarkan untuk Naning. Semasa SD dia tak
pernah menjadi juara kelas. Peringkat terbaik yang pernah dia peroleh adalah
peringkat ke-5 pada saat kelas 6.
Setelah
lulus dari SD Naning ingin melanjutkan sekolahnya ke tingkat SMP. Namun dia
bingung akan masuk ke sekolah yang mana karena menurutnya sekolah itu
membutuhkan biaya yang mahal sedangkan kakaknya yang kedua masih sekolah di
tingkat SMK. Inilah awal yang membuatnya sadar untuk bisa melihat jauh ke depan
tentang cita-cita yang harus dia raih dengan berbagi alang merintang yang
dihadapi.
“ Kamu mau melanjutkan ke
sekolah mana Ning? ” Tanya ibunya.
“ Di sekolah muhamadiyah
saja lah bu. ” Jawab Naning.
“ Kenapa kamu milih di
sekolah muhamadiyah? Tidak pengen yang negeri?” Tanya ibunya lagi.
“ Pengin si bu, tapi kalau
di negeri uang bayarannya tidak bisa diangsur. Kalau di muhamadiyah kan bisa di
angsur. Iya kan bu? ” Naning menjawab dengan polosnya.
Ibu Naning
menangis mendengar jawaban dari Naning yang begitu polosnya menyadari keadaan
mereka. Naning dipeluknya. Tanpa sadar pula Naning ikut menangis melihat ibunya
menangis.
Satu hari
sebelum pembayaran registrasi sekolah, secara diam-diam ibu Naning membawa
sepeda ontelnya ke salah satu tetangganya untuk digadaikan guna membayar
registrasi sekolah Naning yang baru.Sepeda itu biasa dipakai ibu Naning untuk
membawa bayam-bayamnya ke pasar. Kini Naning tak pernah melihat ibunya memakai
sepedanya ke pasar.Ibunya hanya bilang kalau sepedanya tersebut sedang dipinjam
oleh tetangganya sehingga beliau tidak memakai sepedanya ke pasar. Hingga suatu
saat pun kebohongan ibunya diketahui oleh Naning karena sepedanya dipakai oleh
temannya bernama Vita.
“ Vita, kalau pinjem sepeda
di kembalikan dong, itu kan sepeda ibuku!” perintah Naning.
“ Inikan sepeda saya ning,
ibumu menjualnya ke ibu saya waktu itu.” Jawab Vita.
Naning
segera pulang kerumah untuk mencari kejelasan tentang sepeda itu. Dia tahu
bahwa ibunya telah menjual sepedanya ke tetangganya untuk biaya sekolahnya. Tapi
ibunya berbohong kepada Naning tentang penjualan sepeda tersebut.
“ Ibu berbohong pada saya
tentang sepeda ibu yang ibu jual itu ya? Ibu sendiri yang bilang bahwa ketika
orang tua itu buruk sifatnya maka sifat anaknya akan lebih buruk dari pada
orang tuanya. Iya kan bu? Tapi sekarang ibu berbohong pada saya, ibu bilang
sepeda ibu hanya dipinjam oleh tetangga tetapi nyatanya ibu menjualnya kan?”
“ Iya nak, maafkan ibu.Ibu
hanya tidak mau membebani kamu dengan kesusahan ibu dalam membiayai sekolahmu.”
Mereka menangis bersama dan saling berpelukan.
Sampai saat
itu Naning masih masih saja tetap bersifat keras kepala. Dia pernah meminta
sepeda motor kepada kedua orangtuanya tanpa memandang keadaan ekonomi mereka.
Dia seperti itu karena dia iri kepada teman-temannya yang saat itu sudah
berangkat sekolah menggumakan sepeda motor sedangkan dia selalu berjalan kaki
melewati sawah dan kebun. Dia nekad untuk latihan menggunakan sepeda motor
tetangganya. Namun karena mungkin ibunya telah kesal kepada Naning, maka dia
jatuh dari dari sepeda motor dengan luka yang parah. Kaki dan tangannya terluka.
Sejak saat
itu Naning jadi menyadari keaadan kelurganya yang sulit. Maka dia mulai sadar
bahwa apa yang bisa dia banggakan kepada orang lain dari dirinya dan keluarganya.
Selama di SMP Muhamadiyah 2 Playan, dia mulai sadar untuk belajar dan
meningkatkan presasinya.Hal itu terbukti dia selalu mendapat peringkat pertama
sehingga dia tidak pernah membayar biaya sekolah.
Naning
lulus dari SMP Muhamadiyah 2 Playan pada tahun 2007. Dia melanjutkan sekolahnya
ke SMK Muhamadiyah 2 Playan mengambil jurusan akutansi. Pada kelas dua dia dipercaya
sekolah untuk mewakili sekolahnya lomba koperasi ditingkat kabupaten. Dia mendapat
juara satu kemudian maju ketingkat provinsi mendapatkan juara ke tiga.
Kini dia
sudah kelas tiga. Kegiatan pengayaan
dilakukan sekolah setiap hari. Dia selalu berangkat pagi dan pulang sore hari
dengan jalan kaki melewati sawah yang berlumpur dan kebun yang gelap. Suatu
hari sekolah mengumumkan adanya pendaftaran beasiswa bidik misi di perguruan
tinggi untuk jenjang S1. Naning berniat untuk mendaftarkan diri.Pulang sekolah
dia membicarakannya kepada kedua orangtuanya. Tapi ibunya menentang Naning
untuk mendaftar beasiswa tersebut walaupun naming telah memberikan pengertian
kepada ibunya. Naning hanya akan meminta doa restu kepada ibunya.
“ Ibu tidak mau kamu
mendaftar beasiswa itu. Walaupun beasiswa pasti tetep membayar kan? Kamu harus
sadar siapa bapak dan ibumu.Bapakmu hanya seoarang pedagang wedang ronde dan
ibumu petani bayam kecil-kecilan. Dari mana orang tuamu bisa membiayai kuliah
mu nanti Ning?”
“ Bu, Naning hanya minta doa
restu dari ibu saja. Mudah-mudahan saya bisa diterima.Ibu tidak usah memikirkan
tentang biaya.Apa ibu tidak ingin melihat anaknya sukses. Naning ingin sukses
bu… Naning ingin merubah kehidupan kita yang insya Allah menjadi lebih baik.
Tidak melulu seperti ini…”
Ibu Naning
tetap saja kekeh tidak mengijinkan Naning mendaftar ke perguruan tinggi melalui
jalur bidik misi. Tapi Naning tetap melengkapi persyaratan yang diperlukan
untuk mendaftar dengan dibantu oleh ayahnya. Setelah kejadian itu, Naning tidak
pernah berbincang dengan ibunya saat di rumah. Sampai-sampai dia tidak ingin
pulang kerumah karena keadaan yang seperti itu. Setiap
kali Naning pulang sekolah dia selalau langsung pergi ke kamarnya dan keluar
ketika sekolah saja.
Ujian
nasional telah dilaksanakan. Naning melawati dengan mudah. Naning percaya bahwa
dia bisa lulus. Tapi untuk mendapat beasiswa bidik misi itu baginya mustahil
dia peroleh. Menjelang hari pengumuman ujian nasional, sekolah Naning
mengadakan perpisahan untuk para sisiwa kelas XII.Naning ditugasi untuk menjadi
MC dalam acara itu. Tapi sebelum pelaksanaan Naning memepersiapkan baju seragam yang akan dipakai dalam acara perpisahahan itu. Di tengah-tengah Naning menyetrika bajunya,
dia meluruskan kabel setrikaan yang menggulung. Naas, Naning pun tersengat
listrik yang ada dalam kabel yang lecet itu. Naning meminta tolong tapi tidak
ada yang mendengar.Tubuh Naning tak bisa digerakan lagi. Dia tak sadarkan diri
sampai dia siuman sudah ada di puskesmas.Dia sadar saat sedang ditranfusi darah
dari ibunya. Tak lama setelah mendapat tranfusi darah, Naning merasa membaik. Dia
memutuskan untuk kembali ke sekolah menyelesaikan tanggungjawabnya sebagai MC
pada acara perpisahan kelas XII. Tak ada warga sekolah yang mengetahui
peristiwa yang telah Naning alami. Hal itu sengaja Naning rahasiakan agar acara
bisa berjalan dengan lancar.
Inilah
waktu yang ditunggu-tunggu oleh para siswa kelas XII yaitu hari pengumuman
ujian nasional. Semua anak kelas XII datang ke sekolah untuk melihat pengumuman
yang dipampang di papan mading sekolah. Semua siswa berebut untuk melihatnya. Ada
yang bersorak kegirangan setelah mereka mengetahui bahwa nama-nama mereka
tertera pada pengumuman tersebut. Namun lain dengan yang Naning. Dia mencari
namanya di papan pengumuman tersebut tidak ada. Namanya telah terlewati oleh nama
teman-temannya yang lain. Naning segera bertanya pada salah seorang gurunya.
Ternyata yang menghabat pengumuman Naning adalah karena dia belum melunasi
semua tanggungan sebesar Rp. 300.000, -. Dia tak mungkin meminta kepada
orangtunya karena mereka pasti tidak punya uang simpanan sebesar itu. Kemudian
dia segera menelepon kakaknya untuk segera membawakan uang kesekolahan agar
pengumumannya dapat diambil.Entah dari mana kakanya mendapat uang sebesar itu
dalam waktu singkat, tak lama kemudian kakaknya datang membawa uang sebesar RP.
300.000,-. Amplop pengumuman pun diberikan kepada Naning.Setelah membukanya Naning
tak membaca secara seksama.Dia hanya melihat ada tulisan yang memandakan bahwa
dia tidak lulus. Naning langsung menangis dan berlari ke kamar mandi. Disana
dia mengunci pitunya. Dia merasa malu kepada semua teman-temannya. Semua
teman-temannya tidak mempercayai kalau Naning tidak lulus. Ternyata setelah
diselidiki dan dibaca ulang,surat tersebut adalah surat palsu yang dibuat oleh
para guru untuk membohongi Naning. Teman-teman Naning berusaha menyakinkan Naning
bahwa surat itu adalah palsu. Akhirnya Naning mau keluar dari kamar mandi dan
menerima surat pemberitahuan yang asli dari para guru-gurunya.
Setelah lulus
Naning berencana untuk merantau ke Jakarta bersama teman-temanya. Naning telah menentukan
hari untuk berangkat ke Jakarta. Namun, hal itu gagal karena salah seorang tetangganya
meninggal dunia. Naning tidak diperbolehkan berangkat oleh ayahnya karena masih
dalam suasana duka. Keberangkatan Naning ditunda sampai dia sudah mengambil
ijasah dari sekolah. Surat panggilan pun datang pada Naning. Dia dipanggil
untuk menghadap ke kepala sekolah. Dia senang mendapat surat panggilan
tersebut. Dia kira surat panggilan tersebut adalah panggilan kerja untuk bekerja di koperasi sekolah SMK
Muhamadiyah 2 Playan. Naning menanggapi hal itu dengan gembira karena jika dia
diterima untuk bekerja di koperasi tersebut dia tidak usah pergi jauh ke Jakarta
untuk mencari kerja. Dia datang ke sekolah menggunakan seragam sekolah.Karena
jalan yang dia lalui berlumpur, di tengah perjalanan dia terperosok hingga
semua bajunya kotor. Dia terpaksa harus pulang untuk mengganti bajunya dengan
yang kebih bersih.Dia berangkat ke sekolah lagi menggunakan baju yang dikenakan
sehari-hari terlebih dahulu. Sesampainya di sekolah dia baru mengganti bajunya
dengan seragam sekolah seperti kebiasaannya saat masih menjadi siswa di SMK
Muhammadiyah 2 Playan. Sesampainya di sekolah dia menghadap kepada seorang
guru. Dia bertanya tentang surat panggilan yang ditujukan kepadanya. Namun
sebelum itu dia diperintahkan untuk mengepel dan membersihan ruang guru
terlebih dahulu. Setelah semunya selesai dia diberi sebuah surat yang
menyatakan bahwa dia diterima di Universitas Negeri Yogyakarta melalui jalur
bidik misi. Naning tak percaya dengan pengumuman tersebut.Dia merasa tak pantas
menerima beasiswa tersebut karena menurutnya ada teman-teman yang lebih pintar
yang pantas menerima beasiswa tersebut. Dia segera pulang ke rumah. Ibunya
menanyakan tentang surat panggilan dari sekolahnya itu. Naning menjawabnya bahwa
di sekolahnya dia hanya disuruh untuk mengepel dan membersihakan ruang guru
mungkin untuk training awal sebelum bekerja di koperasi sekolah.
Hari
berikutnya Naning disms untuk datang ke sekolah menyelesaikan masalah yang
belum selesai berkaitan dengan dirinya.Naning datang ke ruang guru. Di sana
semua guru sudah berkumpul untuk meyakinkan Naning bahwa dia diterima di UNY
melalui jalur bidik misi. Naning pun masih tak percaya walaupun sudah
diyakinkan oleh semua guru yang ada di sekolah tersebut. Naning kembali
berkumpul dengan teman-temannya. Tak lama kemudian melalui mega phon Naning
dipanggil lagi untuk menghadap ke kepala sekolah. Dia pun menuju ke ruang
kepala sekolah.
“ Sebenarnya setelah sekolah
ini apa rencana kamu selanjutnya nak?” tanya bapak kepala sekolah kepada Naning.
“ Saya mau bekerja ke
Jakarta pak.”Jawabnya dengan lugas.
“Kamu tidak ingin melanjutkan
ke perguruan tinggi?”
“ Mau si pak, tapi orang tua
saya tidak mampu membiayai saya sekolah lagi.”
“ Inilah kesepatan kamu.
Bukalah baik-baik surat ini bacalah dengan seksama bahwa surat ini tidak bohong
dan ditujukan benar-benar untuk kamu.” Bapak kepala sekolah menyakinkan Naning.
“ Tapi mungkin saja ada
orang lain yang bernama sama dengan saya.”
“ Tapi segala identitas yang
ada dalam surat ini sama dengan identitas kamu?” tanya bapaknya lagi.
“Tapi mungkin saja ada juga
yang identitasnya sama persis dengan saya, dan ini bukan ditujukan untuk saya pak.”
Kepala sekolah tak tahu harus berkata apa lagi kepada Naning.
Cara terakhir yang mereka tempuh adalah dengan menelepon pihak UNY melalui
nomor yang tertera padasurat tersebut. Setelah itu Naning baru mau menerima
surat tersebut untuk dibawa pulang dan menunggu pengumuman selanjutnya. Naming
tidak menceritakan tentang berita ini kepada siapapun. Dia masih merenungi
sendiri tentang kebenaran surat pemberitahuan yang ditujukan kepadanya.
Naning
pulang dengan rasa khawatir dan takut. Dia takut saat memberitahu ibunya maka
beliau akan marah dan tidak menijinkanya kuliah di UNY. Sesampainya di rumah di
sudah di tunggu oleh ibunya.
“ Ijasahnya sudah kamu ambil
Ning?” tanya ibu.
“ Sudah bu, ini ada surat ibu
mau membacanya?” Tawar Naning kepada ibunya.
Naning
mencoba untuk memberikan surat pemberitahuan tersebut kepada ibunya. Namun tak
sempat di pegang, ibunya langsung pergi ke dapur. Dengan kecewa Naning memasukan
kembali surat tersebut ke dalam tasnya. Dia mencari waktu yang tepat untuk
memberitahu kepada ibunya.Keesokan harinya, tanpa sepengatahuan Naning, Bapak
kepala sekolah dan satu orang guru datang kerumahnya untuk member tahu
danmengucapkan selamat kepada kedua orang tua Naning atas di terimanya Naning
di UNYmelalui jalur bidik misi. Mereka menjelaskan berbagi macam tentang apa
itu beasiswa bidik misi yang di terima oleh Naning. Namun saat itu Naning
sedang bermain ke sawah dan tidak tahu bahwa di rumah ada tamu dari sekolahnya.
Sepulangnya
Naning dari sawah, Naning ditanya oleh ibunya.
“ Mana ijasah mu ning, ibu
mau lihat hasil ujianmu?” tanya ibu Naning.
“ Ini bu.” Jawab Naning
sambil mengulurkan ijasahnya.
“ Lalu mana surat yang tadi
akan kamu berikan pada ibu? Ibu juga mau melihatnya.” Pinta ibunya lagi.
Naning tak
memperbolehakan ibunya melihat surat pengumuman tersebut. Dengan segera Naning
mengelak dan pergi menuju dapur dan menyalakan api tungku yang sedang digunakan
untuk memasak. Ibunya langsung mengambil suratpemberitahuan itu di dalam tas
Naning tampa meminta ijin kepada Naning. Kemudian ibunya menghampiri Naning
dengan isak tangis yang tak tertahankan.
“ Kenapakamu tidak
memberitahu ibu nak?” tanya ibu Naning kepada Naning
“ Naning takut ibu marah
sama saya bu.” Jawab Naning dengan menangis pula.
Kini setelah
semua terungkap ibu Naning mengijinkan Naning untuk kuliah di UNY. Naning pun
telah membuktikan kepada ibunya bahwa dia kini bisa kuliah tanpa biaya dari orang
tua. Dia juga bisa membuktikan kepada semua orang bahwa orang yang miskin harta
tidak harus miskin ilmu. Seorang Naning yang dulu nakal dan tidak patuh keda
orang tua kini telah sadar bahwa dia harus membawa keluarganya ke pintu
kebahagiaan kelak.Inilah secoret tinta hitam yang dapat mengabadikan lika-liku
kehidupan seorang Naning. Dari kisah ini dapat dijadikan cermin kehidupan bagi
para mereka yang telah diberi kemudahan dalam hidupnya.
Setelah
menyelesaikan kuliahnya dia bekerja sebagai tenaga pengajar di sebuah sekolah
di Gunung Kidul. Dia langsung diterima di sekolah yang dia datangi. Dia tak
ingin meninggalkan tempat lahirnya. Dia sadar bahwa di situlah dia dibesarkan
hingga menjadi seperti sekarang yang berkecukupan. Maka dari itu dia ingin
memajukan daerahnya itu dengan sedikit tenaga dan pikiran yang dia punya.
Mungkin dengan menjadi guru dan memberikan ilmu yang dia punya kepada
murid-muridnya agar mereka bisa menjadi orang yang berilmu.
Beberapa
tahun pun berlalu. Kini Naning sudah menjadi seorang guru. Melalui provesinya
dia juga bisa mendapatkan sumber mata pencahariannya. Hidupnya dan keluargannya
sudah hidup berkecukupan. Seiring berjalannya waktu pun dia telah menemukan
dambatan hatinya. Dia bernama Agung yang juga berprovesi sebagi seorang guru.
Namun mereka tidak mengajar di sekolah yang sama. Mereka bertemu saat
masimg-masing sedang mendampingi murid mereka mengikuti lomba pidato di
kabupaten. Mereka pun berkenalan dan pada akhirnya mereka saling jatuh cinta.
Kini keduanya berencana untuk melangsungkan pernikahan untuk membina keluarga
yang bahagia.
Oleh : Devi
Artati ( 10201244039 )
PBSI kelas I
Synopsis cerpen “USAHA DALAM HIDUPNYA”
Dalam
cerpen “USAHA DALAM HIDUPNYA” menceritakan
tentang seorang wanita yang selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang dia
cita-citakan selama ini. Ceritanya diawali sejak dia masih kecil hingga apa
yang dia cita-citakan tercapai. Namanya adalah Naning Anjarwati, tapi
dia suka disapa dengan nama Naning saja. Dia sekarang menjadi seorang guru yang
sangat bijaksana. Dia hidup dalam keluarga yang bisa dibilang kekurangan tapi
dia adalah seorang yang pintar. Walaupun sebenarnya dia sejak kecil adalah anak
yang nakal dan suka membantah orang tua tapi sejak dia sekolah tinggkat SMA dia
menjadi sadar bahwa dia hasrus bisa mengubah kehidupan keluarganya menjadi
lebih baik terutama dari segi keuangan.
Walaupun
bapaknya hanya sebagai seorang pedagang ronde keliling di kota Yogyakarta, dia
ingin sekali sekolah di perguruan tinggi.
Akhirnya dia bisa sekolah di perguruan tinggi negeri di Yogyakarta
melalui jalur bidik misi yang pada awalnya dia mendapat pertentangan dari
ibunya sendiri saat akan mendaftar ke PTN tersebut. Tapi semua rintangan yang
dihadapi naning bisa dilaluinya berkat kesabaran selama ini. Hingga kini ia
telah menjadi seorang yang berharga di linggkungannya. Dan tentu kedua
orangtunya amatlah bangga dengan apa yang di peroleh oleh Naning itu. Sekian
sedikit cerita dari cerpen yang berjudul “USAHA DALAM HIDUPNYA”. Semoga dapat
menghibur teman-teman semua dan bisa menjadi cermin kehidupan yang telah kita
peroleh dari Allah SWT selama
ini.
Sedikit tentang pengarang cerpen
“USAHA DALAM HIDUPNYA”
Devi Artati, itu adalah nama
saya. Saya senang ketika teman-teman menyapa saya dengan nama Devi. Saya lahir
di Purbalingga pada tanggal 11 Oktober 1992. Sekarang saya kuliah di UNY
semester 3 jurusan PBSI FBS kelas N. Motifasi saya mengikuti lomba cerpen ini
adalah untuk mengetahui kemampuan saya dalam bidang tulis menulis.
Mudah-mudahan saja saya bisa mendapat ilmu baru dari pengalaman saya mengikuti
lomba ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar