Minggu, 30 Maret 2014

cerpen lagi :)

USAHA DALAM HIDUPNYA

Rasa syukur adalah ucapan paling pantas saat ini ketika apa yang saya inginkan bisa tercapai. Tekadnya untuk keluar dari belenggu kemiskinan membuatnya yakin akan kesuksesan yang akan menghampiri dirinya dimasa depan. Berbagai macam kesulitan dan pahit manisnya kehidupan telah dia rasakan selama ini bersam keluarganya. Orang-orang yang ada disekelilingnya telah membuatnya sadar akan segala sesuatu itu harus diraih dengan usaha yang keras. Seseorang telah membuat saya lebih sadar akan kemudahan yang telah Allah berikan kepada saya selama ini. Dia bernama Naning Anjarwati. Dia mahasiswa  pendidikan ekonomi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dia berasal dari salah satu desa terpencil di Gunung Kidul Yogyakarta. Dia anak ke-3 dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan. Sedangkan mata pencaharian bapaknya hanya sebagai tukang jual ronde keliling di kota Yogyakarta dan ibunya hanya sebagai petani bayam yang tidak seberapa pendapatannya. Kehidupan ekonomi mereka sangatlah sederhana ataupun bisa dibilang kurang mampu. Namun mereka sadar bahwa kesuksesan itu harus diperoleh melalui usaha yang keras terlebih dahulu.
Menurut cerita ayahnya, kelahiran Naning sebagai anak permpuan kurang diharapkan oleh ayahnya. Ayah Naning menginginkan anak ketiganya lahir laki-laki tapi Tuhan berkehendak lain. Naning pun lahir kedunia sebagai anak permpuan.Dampaknya ketika dia tumbuh dari anak-anak hingga dewasa dia tumbuh sebagai anak yang kurang patuh kepada kedua orang tuanya.Dia suka bermain sampai larut malam walaupun dia adalah anak perempuan.Dia juga tidak pernah belajar seperti kakak-kakaknya yang pandai dan pintar. Tapi sayangnya kakak-kakaknya tidak  bisa melanjutkan sekolah sampai ke perguruan tinggi karena kendala keuangan keluarga mereka.
Perjalanan Naning sampai saat ini diawali dari sekolah SD. Dia sekolah di SD MI Negeri Wonosari. Dia tidak penah memakai seragam sekolah baru seperti teman-teman yang lain ketika tahun pelajaran baru. Dia hanya memakai baju seragam bekas kakaknya yang kebetualan masih bisa dipakai. Dia sering diejek oleh teman-temanya namun Naning tak pernah mempedulikannya. Sifatnya yang bandal dank eras kepala memberikan satu keuntungan tersendiri sehingga dia tetap bertahan dengan ekjekan-ejekan yang teman-temannya lontarkan untuk Naning. Semasa SD dia tak pernah menjadi juara kelas. Peringkat terbaik yang pernah dia peroleh adalah peringkat ke-5 pada saat kelas 6.
Setelah lulus dari SD Naning ingin melanjutkan sekolahnya ke tingkat SMP. Namun dia bingung akan masuk ke sekolah yang mana karena menurutnya sekolah itu membutuhkan biaya yang mahal sedangkan kakaknya yang kedua masih sekolah di tingkat SMK. Inilah awal yang membuatnya sadar untuk bisa melihat jauh ke depan tentang cita-cita yang harus dia raih dengan berbagi alang merintang yang dihadapi.
“ Kamu mau melanjutkan ke sekolah mana Ning? ” Tanya ibunya.
“ Di sekolah muhamadiyah saja lah bu. ” Jawab Naning.
“ Kenapa kamu milih di sekolah muhamadiyah? Tidak pengen yang negeri?” Tanya ibunya lagi.
“ Pengin si bu, tapi kalau di negeri uang bayarannya tidak bisa diangsur. Kalau di muhamadiyah kan bisa di angsur. Iya kan bu? ” Naning menjawab dengan polosnya.
Ibu Naning menangis mendengar jawaban dari Naning yang begitu polosnya menyadari keadaan mereka. Naning dipeluknya. Tanpa sadar pula Naning ikut menangis melihat ibunya menangis.
Satu hari sebelum pembayaran registrasi sekolah, secara diam-diam ibu Naning membawa sepeda ontelnya ke salah satu tetangganya untuk digadaikan guna membayar registrasi sekolah Naning yang baru.Sepeda itu biasa dipakai ibu Naning untuk membawa bayam-bayamnya ke pasar. Kini Naning tak pernah melihat ibunya memakai sepedanya ke pasar.Ibunya hanya bilang kalau sepedanya tersebut sedang dipinjam oleh tetangganya sehingga beliau tidak memakai sepedanya ke pasar. Hingga suatu saat pun kebohongan ibunya diketahui oleh Naning karena sepedanya dipakai oleh temannya bernama Vita.
“ Vita, kalau pinjem sepeda di kembalikan dong, itu kan sepeda ibuku!” perintah Naning.
“ Inikan sepeda saya ning, ibumu menjualnya ke ibu saya waktu itu.” Jawab Vita.
Naning segera pulang kerumah untuk mencari kejelasan tentang sepeda itu. Dia tahu bahwa ibunya telah menjual sepedanya ke tetangganya untuk biaya sekolahnya. Tapi ibunya berbohong kepada Naning tentang penjualan sepeda tersebut.
“ Ibu berbohong pada saya tentang sepeda ibu yang ibu jual itu ya? Ibu sendiri yang bilang bahwa ketika orang tua itu buruk sifatnya maka sifat anaknya akan lebih buruk dari pada orang tuanya. Iya kan bu? Tapi sekarang ibu berbohong pada saya, ibu bilang sepeda ibu hanya dipinjam oleh tetangga tetapi nyatanya ibu menjualnya kan?”
“ Iya nak, maafkan ibu.Ibu hanya tidak mau membebani kamu dengan kesusahan ibu dalam membiayai sekolahmu.” Mereka menangis bersama dan saling berpelukan.
Sampai saat itu Naning masih masih saja tetap bersifat keras kepala. Dia pernah meminta sepeda motor kepada kedua orangtuanya tanpa memandang keadaan ekonomi mereka. Dia seperti itu karena dia iri kepada teman-temannya yang saat itu sudah berangkat sekolah menggumakan sepeda motor sedangkan dia selalu berjalan kaki melewati sawah dan kebun. Dia nekad untuk latihan menggunakan sepeda motor tetangganya. Namun karena mungkin ibunya telah kesal kepada Naning, maka dia jatuh dari dari sepeda motor dengan luka yang parah. Kaki dan tangannya terluka.
Sejak saat itu Naning jadi menyadari keaadan kelurganya yang sulit. Maka dia mulai sadar bahwa apa yang bisa dia banggakan kepada orang lain dari dirinya dan keluarganya. Selama di SMP Muhamadiyah 2 Playan, dia mulai sadar untuk belajar dan meningkatkan presasinya.Hal itu terbukti dia selalu mendapat peringkat pertama sehingga dia tidak pernah membayar biaya sekolah.
Naning lulus dari SMP Muhamadiyah 2 Playan pada tahun 2007. Dia melanjutkan sekolahnya ke SMK Muhamadiyah 2 Playan mengambil jurusan akutansi. Pada kelas dua dia dipercaya sekolah untuk mewakili sekolahnya lomba koperasi ditingkat kabupaten. Dia mendapat juara satu kemudian maju ketingkat provinsi mendapatkan juara ke tiga.
Kini dia sudah kelas tiga.  Kegiatan pengayaan dilakukan sekolah setiap hari. Dia selalu berangkat pagi dan pulang sore hari dengan jalan kaki melewati sawah yang berlumpur dan kebun yang gelap. Suatu hari sekolah mengumumkan adanya pendaftaran beasiswa bidik misi di perguruan tinggi untuk jenjang S1. Naning berniat untuk mendaftarkan diri.Pulang sekolah dia membicarakannya kepada kedua orangtuanya. Tapi ibunya menentang Naning untuk mendaftar beasiswa tersebut walaupun naming telah memberikan pengertian kepada ibunya. Naning hanya akan meminta doa restu kepada ibunya.
“ Ibu tidak mau kamu mendaftar beasiswa itu. Walaupun beasiswa pasti tetep membayar kan? Kamu harus sadar siapa bapak dan ibumu.Bapakmu hanya seoarang pedagang wedang ronde dan ibumu petani bayam kecil-kecilan. Dari mana orang tuamu bisa membiayai kuliah mu nanti Ning?”
“ Bu, Naning hanya minta doa restu dari ibu saja. Mudah-mudahan saya bisa diterima.Ibu tidak usah memikirkan tentang biaya.Apa ibu tidak ingin melihat anaknya sukses. Naning ingin sukses bu… Naning ingin merubah kehidupan kita yang insya Allah menjadi lebih baik. Tidak melulu seperti ini…”
Ibu Naning tetap saja kekeh tidak mengijinkan Naning mendaftar ke perguruan tinggi melalui jalur bidik misi. Tapi Naning tetap melengkapi persyaratan yang diperlukan untuk mendaftar dengan dibantu oleh ayahnya. Setelah kejadian itu, Naning tidak pernah berbincang dengan ibunya saat di rumah. Sampai-sampai dia tidak ingin pulang kerumah karena keadaan yang seperti itu. Setiap kali Naning pulang sekolah dia selalau langsung pergi ke kamarnya dan keluar ketika sekolah saja.
Ujian nasional telah dilaksanakan. Naning melawati dengan mudah. Naning percaya bahwa dia bisa lulus. Tapi untuk mendapat beasiswa bidik misi itu baginya mustahil dia peroleh. Menjelang hari pengumuman ujian nasional, sekolah Naning mengadakan perpisahan untuk para sisiwa kelas XII.Naning ditugasi untuk menjadi MC dalam acara itu. Tapi sebelum pelaksanaan Naning memepersiapkan baju  seragam yang akan dipakai dalam acara perpisahahan  itu. Di tengah-tengah Naning menyetrika bajunya, dia meluruskan kabel setrikaan yang menggulung. Naas, Naning pun tersengat listrik yang ada dalam kabel yang lecet itu. Naning meminta tolong tapi tidak ada yang mendengar.Tubuh Naning tak bisa digerakan lagi. Dia tak sadarkan diri sampai dia siuman sudah ada di puskesmas.Dia sadar saat sedang ditranfusi darah dari ibunya. Tak lama setelah mendapat tranfusi darah, Naning merasa membaik. Dia memutuskan untuk kembali ke sekolah menyelesaikan tanggungjawabnya sebagai MC pada acara perpisahan kelas XII. Tak ada warga sekolah yang mengetahui peristiwa yang telah Naning alami. Hal itu sengaja Naning rahasiakan agar acara bisa berjalan dengan lancar.
Inilah waktu yang ditunggu-tunggu oleh para siswa kelas XII yaitu hari pengumuman ujian nasional. Semua anak kelas XII datang ke sekolah untuk melihat pengumuman yang dipampang di papan mading sekolah. Semua siswa berebut untuk melihatnya. Ada yang bersorak kegirangan setelah mereka mengetahui bahwa nama-nama mereka tertera pada pengumuman tersebut. Namun lain dengan yang Naning. Dia mencari namanya di papan pengumuman tersebut tidak ada. Namanya telah terlewati oleh nama teman-temannya yang lain. Naning segera bertanya pada salah seorang gurunya. Ternyata yang menghabat pengumuman Naning adalah karena dia belum melunasi semua tanggungan sebesar Rp. 300.000, -. Dia tak mungkin meminta kepada orangtunya karena mereka pasti tidak punya uang simpanan sebesar itu. Kemudian dia segera menelepon kakaknya untuk segera membawakan uang kesekolahan agar pengumumannya dapat diambil.Entah dari mana kakanya mendapat uang sebesar itu dalam waktu singkat, tak lama kemudian kakaknya datang membawa uang sebesar RP. 300.000,-. Amplop pengumuman pun diberikan kepada Naning.Setelah membukanya Naning tak membaca secara seksama.Dia hanya melihat ada tulisan yang memandakan bahwa dia tidak lulus. Naning langsung menangis dan berlari ke kamar mandi. Disana dia mengunci pitunya. Dia merasa malu kepada semua teman-temannya. Semua teman-temannya tidak mempercayai kalau Naning tidak lulus. Ternyata setelah diselidiki dan dibaca ulang,surat tersebut adalah surat palsu yang dibuat oleh para guru untuk membohongi Naning. Teman-teman Naning berusaha menyakinkan Naning bahwa surat itu adalah palsu. Akhirnya Naning mau keluar dari kamar mandi dan menerima surat pemberitahuan yang asli dari para guru-gurunya.
Setelah lulus Naning berencana untuk merantau ke Jakarta bersama teman-temanya. Naning telah menentukan hari untuk berangkat ke Jakarta. Namun, hal itu gagal karena salah seorang tetangganya meninggal dunia. Naning tidak diperbolehkan berangkat oleh ayahnya karena masih dalam suasana duka. Keberangkatan Naning ditunda sampai dia sudah mengambil ijasah dari sekolah. Surat panggilan pun datang pada Naning. Dia dipanggil untuk menghadap ke kepala sekolah. Dia senang mendapat surat panggilan tersebut. Dia kira surat panggilan tersebut adalah panggilan kerja  untuk bekerja di koperasi sekolah SMK Muhamadiyah 2 Playan. Naning menanggapi hal itu dengan gembira karena jika dia diterima untuk bekerja di koperasi tersebut dia tidak usah pergi jauh ke Jakarta untuk mencari kerja. Dia datang ke sekolah menggunakan seragam sekolah.Karena jalan yang dia lalui berlumpur, di tengah perjalanan dia terperosok hingga semua bajunya kotor. Dia terpaksa harus pulang untuk mengganti bajunya dengan yang kebih bersih.Dia berangkat ke sekolah lagi menggunakan baju yang dikenakan sehari-hari terlebih dahulu. Sesampainya di sekolah dia baru mengganti bajunya dengan seragam sekolah seperti kebiasaannya saat masih menjadi siswa di SMK Muhammadiyah 2 Playan. Sesampainya di sekolah dia menghadap kepada seorang guru. Dia bertanya tentang surat panggilan yang ditujukan kepadanya. Namun sebelum itu dia diperintahkan untuk mengepel dan membersihan ruang guru terlebih dahulu. Setelah semunya selesai dia diberi sebuah surat yang menyatakan bahwa dia diterima di Universitas Negeri Yogyakarta melalui jalur bidik misi. Naning tak percaya dengan pengumuman tersebut.Dia merasa tak pantas menerima beasiswa tersebut karena menurutnya ada teman-teman yang lebih pintar yang pantas menerima beasiswa tersebut. Dia segera pulang ke rumah. Ibunya menanyakan tentang surat panggilan dari sekolahnya itu. Naning menjawabnya bahwa di sekolahnya dia hanya disuruh untuk mengepel dan membersihakan ruang guru mungkin untuk training awal sebelum bekerja di koperasi sekolah.
Hari berikutnya Naning disms untuk datang ke sekolah menyelesaikan masalah yang belum selesai berkaitan dengan dirinya.Naning datang ke ruang guru. Di sana semua guru sudah berkumpul untuk meyakinkan Naning bahwa dia diterima di UNY melalui jalur bidik misi. Naning pun masih tak percaya walaupun sudah diyakinkan oleh semua guru yang ada di sekolah tersebut. Naning kembali berkumpul dengan teman-temannya. Tak lama kemudian melalui mega phon Naning dipanggil lagi untuk menghadap ke kepala sekolah. Dia pun menuju ke ruang kepala sekolah.
“ Sebenarnya setelah sekolah ini apa rencana kamu selanjutnya nak?” tanya bapak kepala sekolah kepada Naning.
“ Saya mau bekerja ke Jakarta pak.”Jawabnya dengan lugas.
“Kamu tidak ingin melanjutkan ke perguruan tinggi?”
“ Mau si pak, tapi orang tua saya tidak mampu membiayai saya sekolah lagi.”
“ Inilah kesepatan kamu. Bukalah baik-baik surat ini bacalah dengan seksama bahwa surat ini tidak bohong dan ditujukan benar-benar untuk kamu.” Bapak kepala sekolah menyakinkan Naning.
“ Tapi mungkin saja ada orang lain yang bernama sama dengan saya.”
“ Tapi segala identitas yang ada dalam surat ini sama dengan identitas kamu?” tanya bapaknya lagi.
“Tapi mungkin saja ada juga yang identitasnya sama persis dengan saya, dan ini bukan ditujukan untuk saya pak.”
           Kepala sekolah tak tahu harus berkata apa lagi kepada Naning. Cara terakhir yang mereka tempuh adalah dengan menelepon pihak UNY melalui nomor yang tertera padasurat tersebut. Setelah itu Naning baru mau menerima surat tersebut untuk dibawa pulang dan menunggu pengumuman selanjutnya. Naming tidak menceritakan tentang berita ini kepada siapapun. Dia masih merenungi sendiri tentang kebenaran surat pemberitahuan yang ditujukan kepadanya.
Naning pulang dengan rasa khawatir dan takut. Dia takut saat memberitahu ibunya maka beliau akan marah dan tidak menijinkanya kuliah di UNY. Sesampainya di rumah di sudah di tunggu oleh ibunya.
“ Ijasahnya sudah kamu ambil Ning?” tanya ibu.
“ Sudah bu, ini ada surat ibu mau membacanya?” Tawar Naning kepada ibunya.
Naning mencoba untuk memberikan surat pemberitahuan tersebut kepada ibunya. Namun tak sempat di pegang, ibunya langsung pergi ke dapur. Dengan kecewa Naning memasukan kembali surat tersebut ke dalam tasnya. Dia mencari waktu yang tepat untuk memberitahu kepada ibunya.Keesokan harinya, tanpa sepengatahuan Naning, Bapak kepala sekolah dan satu orang guru datang kerumahnya untuk member tahu danmengucapkan selamat kepada kedua orang tua Naning atas di terimanya Naning di UNYmelalui jalur bidik misi. Mereka menjelaskan berbagi macam tentang apa itu beasiswa bidik misi yang di terima oleh Naning. Namun saat itu Naning sedang bermain ke sawah dan tidak tahu bahwa di rumah ada tamu dari sekolahnya.
Sepulangnya Naning dari sawah, Naning ditanya oleh ibunya.
“ Mana ijasah mu ning, ibu mau lihat hasil ujianmu?” tanya ibu Naning.
“ Ini bu.” Jawab Naning sambil mengulurkan ijasahnya.
“ Lalu mana surat yang tadi akan kamu berikan pada ibu? Ibu juga mau melihatnya.” Pinta ibunya lagi.
Naning tak memperbolehakan ibunya melihat surat pengumuman tersebut. Dengan segera Naning mengelak dan pergi menuju dapur dan menyalakan api tungku yang sedang digunakan untuk memasak. Ibunya langsung mengambil suratpemberitahuan itu di dalam tas Naning tampa meminta ijin kepada Naning. Kemudian ibunya menghampiri Naning dengan isak tangis yang tak tertahankan.
“ Kenapakamu tidak memberitahu ibu nak?” tanya ibu Naning kepada Naning
“ Naning takut ibu marah sama saya bu.” Jawab Naning dengan menangis pula.
Kini setelah semua terungkap ibu Naning mengijinkan Naning untuk kuliah di UNY. Naning pun telah membuktikan kepada ibunya bahwa dia kini bisa kuliah tanpa biaya dari orang tua. Dia juga bisa membuktikan kepada semua orang bahwa orang yang miskin harta tidak harus miskin ilmu. Seorang Naning yang dulu nakal dan tidak patuh keda orang tua kini telah sadar bahwa dia harus membawa keluarganya ke pintu kebahagiaan kelak.Inilah secoret tinta hitam yang dapat mengabadikan lika-liku kehidupan seorang Naning. Dari kisah ini dapat dijadikan cermin kehidupan bagi para mereka yang telah diberi kemudahan dalam hidupnya.
Setelah menyelesaikan kuliahnya dia bekerja sebagai tenaga pengajar di sebuah sekolah di Gunung Kidul. Dia langsung diterima di sekolah yang dia datangi. Dia tak ingin meninggalkan tempat lahirnya. Dia sadar bahwa di situlah dia dibesarkan hingga menjadi seperti sekarang yang berkecukupan. Maka dari itu dia ingin memajukan daerahnya itu dengan sedikit tenaga dan pikiran yang dia punya. Mungkin dengan menjadi guru dan memberikan ilmu yang dia punya kepada murid-muridnya agar mereka bisa menjadi orang yang berilmu.
Beberapa tahun pun berlalu. Kini Naning sudah menjadi seorang guru. Melalui provesinya dia juga bisa mendapatkan sumber mata pencahariannya. Hidupnya dan keluargannya sudah hidup berkecukupan. Seiring berjalannya waktu pun dia telah menemukan dambatan hatinya. Dia bernama Agung yang juga berprovesi sebagi seorang guru. Namun mereka tidak mengajar di sekolah yang sama. Mereka bertemu saat masimg-masing sedang mendampingi murid mereka mengikuti lomba pidato di kabupaten. Mereka pun berkenalan dan pada akhirnya mereka saling jatuh cinta. Kini keduanya berencana untuk melangsungkan pernikahan untuk membina keluarga yang bahagia.
Oleh : Devi Artati ( 10201244039 )
PBSI kelas I




Synopsis cerpen “USAHA DALAM HIDUPNYA
Dalam cerpen USAHA DALAM HIDUPNYA” menceritakan tentang seorang wanita yang selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang dia cita-citakan selama ini. Ceritanya diawali sejak dia masih kecil hingga apa yang dia cita-citakan tercapai. Namanya adalah Naning Anjarwati, tapi dia suka disapa dengan nama Naning saja. Dia sekarang menjadi seorang guru yang sangat bijaksana. Dia hidup dalam keluarga yang bisa dibilang kekurangan tapi dia adalah seorang yang pintar. Walaupun sebenarnya dia sejak kecil adalah anak yang nakal dan suka membantah orang tua tapi sejak dia sekolah tinggkat SMA dia menjadi sadar bahwa dia hasrus bisa mengubah kehidupan keluarganya menjadi lebih baik terutama dari segi keuangan.
Walaupun bapaknya hanya sebagai seorang pedagang ronde keliling di kota Yogyakarta, dia ingin sekali sekolah di perguruan tinggi.  Akhirnya dia bisa sekolah di perguruan tinggi negeri di Yogyakarta melalui jalur bidik misi yang pada awalnya dia mendapat pertentangan dari ibunya sendiri saat akan mendaftar ke PTN tersebut. Tapi semua rintangan yang dihadapi naning bisa dilaluinya berkat kesabaran selama ini. Hingga kini ia telah menjadi seorang yang berharga di linggkungannya. Dan tentu kedua orangtunya amatlah bangga dengan apa yang di peroleh oleh Naning itu. Sekian sedikit cerita dari cerpen yang berjudul “USAHA DALAM HIDUPNYA”. Semoga dapat menghibur teman-teman semua dan bisa menjadi cermin kehidupan yang telah kita peroleh dari Allah SWT selama ini.


Sedikit tentang pengarang cerpen USAHA DALAM HIDUPNYA
Devi Artati, itu adalah nama saya. Saya senang ketika teman-teman menyapa saya dengan nama Devi. Saya lahir di Purbalingga pada tanggal 11 Oktober 1992. Sekarang saya kuliah di UNY semester 3 jurusan PBSI FBS kelas N. Motifasi saya mengikuti lomba cerpen ini adalah untuk mengetahui kemampuan saya dalam bidang tulis menulis. Mudah-mudahan saja saya bisa mendapat ilmu baru dari pengalaman saya mengikuti lomba ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar