Minggu, 30 Maret 2014

analisis Puisi

ANALISIS PUISI
MENGGUNAKAN TEORI SOSIOLOGI SASTRA
Disusun untuk memenuhi tugas akhir semester ganjil
Mata kuliah: Puisi
Dosen pengampu: Kusmarwanti, M. Pd., M.A.
Uny.JPG

Disusun oleh :
DEVI ARTATI
10201244039
Kelas N




PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011/2012

        I.            Pendahuluan
Karya sastra merupakan salah satu media bagi para sastrawan untuk mengungkapkan pandangan mereka terhadap apa yang terjadi di masyarakat. Dapat dikatakan juga bahwa karya sastra itu sendiri berobjek pada realita, yaitu adanya karya sastra berdasarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia nyata. Hal itu dapat terlihat dari berbagai karya sastra yang mengandung berbagai macam aspek di dalamnya seperti aspek politik, sosial, agama, budaya, cinta, kebahagiaan, potret kehidupan, dan lain-lain.
Berdasarkan penjelasan diatas bahwa suatu karya sastra merupakan penggambaran dari relita di dunia. Maka cocok sekali jika dalam menganalisis suatu karya dengan pendekatan atau teori sosiologi sastra. Ketika membedah karya sastra dengan toeri sosiologi sastra maka akan diketahui tujuan dari diciptakannya karya sastra tersebut.  Grebstein (1968) mengungkapkan bahwa pengungkapan atas karya sastra hanya mungkin dapat dilakukan secara lebih lengkap apabila karya sastra itu tidak dipisahkan dari lingkungan, kebudayaan atau peradaban yang menghasilkannya. Dia mengatakan juga bahwa karya sastra adalah hasil pengaruh yang rumit dari faktor-faktor kultural. Hal itu berarti dalam memahami sebuah karya sastra perlu menghubungkan dengan faktor-faktor sosio-budaya. Hubungan tersebut akan tampak pada unsur-unsur pembangun karya sastra tersebut misalnya ungkapan, diksi, simbol dan yang lainnya yang ada pada karya sastra itu sendiri.
      II.            Kajian Teori
Kajian puisi ini akan mengkaji puisi dengan teori sosiologi sastra, yaitu memahami puisi dalam hubungannnya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatan. Teori sosiologi sastra merupakan pengembangan dari teori mimetik dalam mengkaji suatu karya sastra. Teori tersebut dilatarbelakangi oleh fakta bahwa keberadaan karya sastra tidak terlepas dari realitas sosial yang terjadi di masyarakat. Sosiologi sastra terdiri dari kata sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal dari bahasa Yunani yaitu kata sos yang berarti bersama, bersatu, kawan,  teman dan logia atau logos yang berarti sabda, perkataan, perumpamaan. Sedangkan kata sastra berakar dari kata dari bahasa sansekerta yang berarti mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk dan intruksi. Akhiran tra memiliki arti alat atau sarana. Sebagai salah satu teori dalam kritik dan kajian sastra, sosiologi sastra dapat mengacu pada cara memahami dan menilai sastra yang mempertimbangkan hal-hal yang terjadi di masyarakat. Berdasarkan namanya, teori sosiologi sastra merupakan perpaduan antara ilmu sastra dengan ilmu sosiologi. Oleh karena itu, agar bisa memahami suatu karya sastra dengan menggunakan teori sosiologi sastra maka harus menguasai ilmu sastra dan ilmu sosiologi. Selain itu juga harus menguasai hal-hal yang terjadi di masyarakat.
Sosiologi sastra menurut Wallek dan Warren (1990) diklasifilkasikan menjadi tiga tipe, yaitu sosiologi pengarang, sosiologi karya, dan sosiologi pembaca dan dampak sosial karya sastra. Dalam sosiologi pengarang ditelaah latar belakang sosial, status sosial pengarang, dan ideologi pengarang di luar karya sastra. Dalam sosiologi karya ditelaah isi karya sastra, tujuan serta hal-hal yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitan dengan masalah sosial. Sedangkan dalam sosiologi pembaca dan dampak sosial karya sastra ditelaah sejauh mana sastra ditentukan atau tergantung dari latar sosial, perubahan dan perkembangan sosial.
Dalam perkembangan selanjutnya teori sosiologi sastra memiliki berbagai varian, yang masing-masing memiliki kerangka teori dan metode sendiri. Dalam hal ini Junus (1986) membedakan sejumlah teori sosiologi sastra ke dalam beberapa macam, yaitu:
a)      sosiologi sastra yang mengkaji karya sastra sebagai dokumen sosialbudaya;
b)      sosiologi sastra yang mengkaji penghasilan dan pemasaran karya sastra;
c)      sosiologi sastra yang mengkaji penerimaan masyarakat terhadap karya sastra seorang penulis tertentu dan apa sebabnya;
d)      sosiologi sastra yang mengkaji pengaruh sosial budaya terhadap penciptaan karya sastra;
e)      sosiologi sastra yang mengkaji mekanisme universal seni, termasuk karya sastra;
f)       strukturalisme genetik yang dikembangkan oleh Lucien Goldman dari Perancis.

    III.            Pembahasan
Mengkaji karya sastra dengan teori sosiologi sastra ini akan diterapkan pada mengkaji puisi yang pertama  berjudul “Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis, Lalu Kalian Paksa Kami Masuk Penjajahan Baru, Kata Si Toni” karya Taufik Ismail. Dalam mengkaji puisi tersebut menggunakan teori sosiologi sastra sehingga harus ditelaah dengan tiga sudut pandang. Sudut pandang tersebut meliputi sudut pandang sosiologi pengarangnya, sosiologi karya, serta sosiologi pembaca dan dampak sosial karya sastra tersebut.
Mengkaji puisi “Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis, Lalu Kalian Paksa Kami Masuk Penjajahan Baru, Kata Si Toni” dari segi pengarangnya yaitu Taufik Ismail. Dalam hal ini dalam mengkaji dari segi pengarangnya maka pemaknaan puisi itu dikaitkan dengan latar belakang perjalanan hidup Taufik Ismail.
Secara umum makna dari puisi “Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis, Lalu Kalian Paksa Kami Masuk Penjajahan Baru, Kata Si Toni” adalah kekecewaan masyarakat Indonesia pada masa pemerintahan orde baru periode yang terakhir (sekitar Tahun 1990-1998 an). Kekecewaan tersebut lebih pada kegagalan pemerintah dalam bidang ekonomi. Kaitannya dengan sastrawan Taufik Ismail yaitu bahwa dia sendiri adalah warga Negara Indonesia yang turut serta merasakan dan mengamati fenomena pemerintahan pada masa orde baru. Taufik Ismail saat itu aktif diberbagai organisasi di Indonesia sehingga dia banyak tahu tentang silsilah pemerintahan. Sebagai pengarang puisi, Taufik kerap kali membacakan puisinya di berbagai tempat, baik di luar maupun di dalam negeri. Dalam setiap peristiwa yang bersejarah di Indonesia Taufik selalu tampil dengan membacakan puisi-puisinya, seperti jatuhnya rezim Soeharto, peristiwa Trisakti, dan peristiwa Pengeboman Bali.
Mengkaji puisi “Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis, Lalu Kalian Paksa Kami Masuk Penjajahan Baru, Kata Si Toni” dari segi karya sastra itu sendiri. Dalam hal ini makna dalam puisi itu dikaitkan dengan kejadian-kejadian yang ada di masyarakat.


Pemknaan puisi tersebut dapat dilihat pada kutipan puisi berikut ini.

Jadi sangat tergantung pada budaya
Meminjam uang ke mancanegara
Sudah satu keturunan jangka waktunya
Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula
Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni
Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi
Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi                                   
Kutipan puisi tersebut mengungkapan bahwa Negara Indonesia yang memiliki banyak hutang kepada negara lain. Hutang-hutang tersebut tidak kunjung dilunasi tapi malah semakin hari semakin banyak. Kemudian jangka waktunya melibatkan generasi bangsa selanjutnya yang sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang hal tersebut. Dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008:686) mengungkapkan bahwa pada saat itu Indonesia memiliki jumlah hutang jangka pendek yang besar, karena banyak hutang masuk ke dalam Indonesia yang biasanya dalam bentuk dolar Amerika, sehingga membengkak karena mengikuti pergerakan mata uang rupiah yang tidak bagus. Hutang jangka pendek ini berkisar US$ 30-40 miliar pada tahun 1997. Sedangkan sistem perbankan masih belum tertata dengan baik. Indonesia sedang mengalami kekeringan sehingga sektor pendapatan dari segi pertanian berkurang.
Pada bait ke dua menggambarkan pada waktu keterpurukan Indonesia yang mempunyai banyak hutang. Untuk melunasi hutang-hutang tersebut bangsa indonesia bekerja keras dengan memanfaatkan berbagai macam yang dimiliki alam Indonesia. Namun kehidupan sebagian orang-orang penting yang berkecimpung dalam pemerintahan Indonesiajustru hidup bermewah-mewahan tanpa memikirkan keadaan negara yang saat itu sedang terpuruk. Makna seperti ini dapat diperoleh melalui kutipan puisi bait ke dua berikut ini.

Dibenarkan serangkai teori penuh sofistikasi
Kalian memberi contoh hidup boros berasas gengsi
Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri
Gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis
Kalian cetak kami jadi bangsa pengemis               
Ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa
           
Realita yang digambarkan dalam puisi tersebut yaitu berdasarkan buku Sejarah Indonesia Modern (2008:684) menyatakan bahwa beredarnya kabar Indonesia akan merakit mobil nasionalnya sendiri di dalam negeri, yang mensyaratkan adanya pembebasan pajak. Presiden menyerahkan kontrak tersebut kepada Tommy Soeharto bekerja sama dengan pabrik Kia di Korea. Namun hal terungkap yang nyatanya usaha bersama tersebut adalah bukan membuat mobil nasional namun mobil tersbut menjadi mobil pribadi. Tommy mengatakan bahwa ia akan mengirimkan orang Indonesia untuk bekerja di pabrik Kia di Korea. Sehingga akan tepatlah mobil itu sebagai mobil nasional. Yang semakin absurd adalah mobil baru tersebut diberi nama Timor. Presiden Soeharto menyetujui mengimport 45.000 mobil Timor pada tahun pertama. Negara yang berada dalam situasi banyak hutang pemerintah masih juga bersenang-senang dengan hidup mewah sedangkan di sisi lain mereka mengabaikan masyarakatnya sendiri hidupnya belum sejahtera karena kebijakan mereka dari pemerintah.
Mengkaji puisi dari respon pembaca. Kali ini dikaitkan dengan tanggapan pembaca terhadap puisi “Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis, Lalu Kalian Paksa Kami Masuk Penjajahan Baru, Kata Si Toni” karya Taufik Ismail sangat diminati untuk dibaca para penikmat sastra.Puisi ini merupakan karya sastra sebagai media kritik kepada pemerintah, selain itu salah satu manfaatnya juga sebagai media untuk mengabadikan peristiwa sejarah bangsa Indonesia. Ketika generasi muda yang tidak tahu fenomena pemerintahan sejarah pada masa orde baru maka jika membaca puisi ini akan merasa penasaran dengan makna dari puisi ini. Sehingga pembaca menjadi tahu tentang sejarah pemerintahan dari Negara Indonesia melalui puisi karya Taufik Ismail ini.
Selanjutnya mengkaji puisi yang keduadengan teori sosiologi sastra.Puisi berjudul “Monolog Seorang Veteran Yang Tercecer Dari Arsip Negara” buah karya Ahmadun Yosi Hervanda. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan puisi yang pertama. Puisinya adalah sebagai berikut.
MONOLOG SEORANG VETERAN
YANG TERCECER DARI ARSIP NEGARA
Oleh Ahmadun Yosi Hervanda

Bendera-bendera berkibar di udara
Dan, orang-orang berteriak “telah bebes negeri kita”
Tapi aku tertatih sendiri
Di bawah patung kemerdekaanyang letih
Dan tersuruk di bawah mimpi reformasi

Kau pasti tak mengenaliku lagi
Seperti dulu, ketika tubuhku terkapar penuh luka
Di stasiun jatinegara, setelah sebutir peluru
Menghajarku dalam penyerbuan itu
Dan negeri yang kacau mengubur
Sejarah dalam gundukan debu

Setengah abad lewat kita melangkah
Di tanah merdeka, sejak Soekarno-Hatta
Mengumumkan kebebasan negeri kita
Lantas kalian dirikan partai-partai
Juga kursi-kursi kekuasaan di atasnya
Gedung-gedung berjulanga
Hotel-hotel berbintang, took-toko swalayan
Jalan-jalan layang, mengembang bersama
Korupsi, kolusi, monopoli, manipulasi,
Yang membengkakkan perutmu sendiri
Sdang kemiskinan dan kebodohan
Tetap merebak di mana-mana
Dan, aku pun masih prajurit tanpa nama
Tanpa tanda jasa, tanpa seragam veteran
Tanpa kursi jabatan, tanpa gaji bulanan
Tanpa tanah peternakan, tanpa rekening siluman
Tanpa istri simpanan

Meskipun begitu, aku sedih juga
Mendengarmu makin terjerat hutang
Dan keinginan IMF yang makin menggencat
Kebijakn Negara.
Karena itu, maaf, saat engkau
menyapaku, “Merdeka!”
Dengan rasa sembilu
Aku masih menjawab, “Belum!”

Jakarta, 1998-2008

Maksud dari puisi ini adalah kritik terhadap pemerintah di masa paska orde baru yaitu masa pemerintahan presiden Soeharto. Pada masa pemerintahan Soeharto, pembangunan dalam negeri sangat pesat dan pejabat yang duduk di pemerintahan hidup bermewah-mewah menikmati hasil korupsi. Sementara itu, nasib rakyat kecil terabaikan termasuk mereka yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Banyak sekali pejuang veteran yang miris nasibnya. Alih-alih mendapatkan kesejahteraan, identitas mereka saja pemerintah bahkan tidak menghiraukan. Meski jumlah mereka banyak, pemerintah seolah menutup mata atas keberadaan mereka. Pemerintah hanya menikmati negara yang sudah merdeka tapi tidak memikirkan bagaimana perjuangan para veteran dalam memperjuangkan Negara Indonesia menuju kemerdekaan.
Ketika kemerdekaan sudah berlangsung lama dan pembangunan negara berlangsung para pemerintah sibuk dengan kepentingan kenegaraansaja. Namun mereka justru hanya mementingan keuntungan diri mereka sendiri. Orang-orang penting dalam pemerintahan melakukan KKN di berbagai Institusi sedangkan rakyat mereka yang harusnya diperjuangkan kesejahteraan justru terbengkalai. Termasuk para pejuang veteran bangsa Indonesia. Mereka turut dilalaikan oleh pemerintah. Hal seperti itu pun kadang masih terlihat sampai saat ini.
Keadaan negara sendiri pada saat orde baru sempat dalam situasi yang genting. Negara mempunyai banyak hutang kepada IMF dan Negara lain. Keadaan penduduk Indonesia yang masih di bawah taraf kesejahteraan. Hal itu menggambarkan bahwa kemerdekaan Indonesia hanyalah sebatas status namun pada kenyataan dalam kehidupan para penduduknya sungguh belum merdeka.Itulah yang diungkapkan Ahmadun Yosi Hervanda melalui puisinya ini. Para veteran sebagai saksi berjalannya kepemerintahan negara Indonesia.
Ahamdun Yosi Hervanda merupakan satrawan yang aktif dalam penulisan di berbagai media masa. Selain menulis karya sastra yang dimuat diberbagai media masa, dia juga menulis karya sastra maupun esai dengan mengambil tema kritik sosial. Seperti karyanya ini merupakan salah satu kritik sosial. Penuangan idenya dalam puisinya “Monolog Seorang Veteran Yang Tercecer Dari Arsip Negara”karena terinspirasi dari pengamatannya pada lingkungan sekitar. Saat terjadinya carut marut dalam kepemerintahan orde baru dan setelahnya Ahamdun Yosi Hervanda sedang tinggal di Jakarta karena bekerja di sana.
            Penerapan teori sosiologi sastra pada puisi ini berkaitan dengan makna dan peristiwa yang tejadi di Negara Indonesia saat menuju peralihan revormasi. Pembangunan negara sangat pesat terjadi pada masa orde baru. Sedangkan Indonesia yang memiliki banyak hutang juga terjadi pada orde baru tahun 90an seperti yang diungkapkan pada oleh sejarahwan M.C. Ricklefs pada bukunya “Sejarah Indonesia Modern 1200-2008” (2008:659-692).
            Penerapan teori sosiologi sastra pada puisi ini adalah bagaimana pengaruhnya bagi para pembaca. Puisi ini merupakan sebagai kritik terhadap pemerintah agar lebih memperhatikan masyarakat Indonesia dan para veteran yang telah memperjuangkan Indonesia. Selain itu puisi ini sebagai pewaris sejarah Negara Indonesia kepada genarsi yang akan datang.








    IV.            Penutup
            Pada hakikatnya kedua puisi yang berjudul “Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis, Lalu Kalian Paksa Kami Masuk Penjajahan Baru, Kata Si Toni” karya Taufik Ismail dan puisi “Monolog Seorang Veteran Yang Tercecer Dari Arsip Negara” buah karya Ahmadun Yosi Hervanda satu sama lainmemiliki tujuan untuk mengkritik pemerintahan Indonesia dimasa orde baru dan setelahnya. Ketika kedua piusi dikaji dengan teori sosiologi sastra maka keduanya mengungkapan tentang sejarah kepemerintahan di Negara Indonesia.Berbagi macam penyimpangan terjadi dimasa pemerintahan tersebut. Mulai dari tindak korupsi kolusi dan nepoisme yang dilakukan oleh para petinggi negara. Sedangkan penduduk negara yang harusnya diperhatikan kesejahteraannya justru diabaikan. Kemerdekaan yang disandang oleh Negara Indonesia seakan-akan hanyalah topeng belaka.
            Mengkaji puisi karya Taufik Ismail dan Ahmadun Yosi Hervanda dengan teori sosiologi sastra  itu sama saja menghubungkan pemakanaan puisi tersebut dengan kehidupan sosial yang terjadi dimasyarakat sekitar. Berdasarkan teori tersebut maka puisi-puisi yang dikaji merupakan penggambaran peristiwa yang terjadi pada masa orde baru. Hal itu berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan seperti yang telah dijabarkan dalam pembahasan.










    V.            Daftar pustaka
Ricklefs, M. C. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.
Wiyatmi. 2009. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.
Anonim. 2011. Sosiologi Sastra Sebagai Pendekatan, kajiansastra.blogspot.com.Diunduh pada 29 Desember 2011
Anonim. 2012. Biografi Taufik Ismail, “www.kolom-biografi.blogspot.com”. Diunduh pada 5 Januari 2012.

Anonim. 2012. Biografi Ahmadun Yosi Hervanda, “id.wikipedia.org”. Diunduh pada 5 Januari 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar