Minggu, 30 Maret 2014

analisis novel "Belenggu"

ANALISIS NOVEL BELENGGU
KARYA ARMIJN PANE
DENGAN PENDEKATAN STRUKTURAL
Oleh Devi Artati
10201244039

A.    Pendahuluan
Armijn Pane lahir di kota Muara Sipongi, Tapanuli Selatan, pada tanggal 18 Agustus 1908 (Sumardjo, 1992). Dia mengawali pendidikannya di Hollandsislandse School (HIS) Padang Sidempuan dan Tanjung Balai sekolah. Kemudian melanjutkan sekolahnya di Europese Lagere School (ELS), yaitu pendidikan untuk anak-anak Belanda di Sibolga dan Bukittinggi. Dia juga pernah sekolah kedokteran di STOVIA Jakarta pada tahun 1923. Kemudian dia melanjutkan sekolah kedokterannya di Nederlands-Indische Artsenschool (NIAS) yang didirikan pada tahun 1913 di Surabaya. Dia juga pernah sekolah AMS A-I (sastra barat) di Solo yaitu sekolah yang bertumpu pada bahasa dan sastra (Rosidi, 1969: 41). Dia menamatkan sekolahnya pada tahun 1931 sehingga dia menjadi ahli dalam hal tulis-menulis karya sastra.
Dalam perkembangan kesusastraan di Indonesia, Armijn Pane termasuk dalam sastrawan angkatan Pujangga Baru. Dia terjun dalam dunia sastra diawali dengan banyak mengirim karya-karyanya di majalah Pujangga Baru. Saat itu dia banyak menulis esai, sajak, dan cerita pendek yang kerap sekali dimuat pada majalah Pujangga Baru. Namun, dia selalu menggunakan nama samaran seperti A.Pandji, A.Mada, A.Djawa, Adinata, Kasmoto, dan yang lainnya (Sumardjo, 1992).
Armijn Pane banyak dipengaruhi oleh sastrawan-sastrawan lain dalam menulis karya-karyanya. Sastrawan yang pernah mempengaruhinya diantaranya adalah Noto Suroto sebagai penyair Jawa dalam bahasa Belanda. Selain itu, yang pernah mempengaruhinya adalah Rebindranath Tagore, Krisnamurti dan ajaran Theosofi (Sumardjo, 1992). Dia juga mendapat pengaruh kuat dari Gerakan 80 di negeri Belanda sehingga dia kerap kali dituduh sebagai sastrawan yang menggunakan bahasa Indonesia yang dipengaruhi bahasa Belanda.
Banyak sekali sastrawan Indonesia yang menghasilkan karya sastra yang begitu memukau pembacanya. Bahkan dari hasil karya-karya sastra tersebut bisa menumbuhkan kebangkitan dalam berbangsa bagi beberapa orang bangsa Indonesia. Karya sastra karangannya yang paling terkenal yaitu roman yang berjudul Belenggu. Sebelum menulis romannya itu, dia banyak menulis cerpen, sajak, esai, dan sandiwara (Rosidi, 1969).
Ada beberapa karya sastra yang telah beredar di masyarakat. Karya sastra dalam bentuk drama yaitu Jinak-jinak Merpati, Antara Bumi dan Langit, Nyai Lenggang Kencana, Lukisan Masa, dan Barang Tidak Berharga (Nursisto, 2000: 99). Semua karya sastra dalam bentuk drama tersebut telah dijadikan dalam satu buku.
Hal yang menarik dari Armijn Pane dan karyanya yaitu beberapa karyanya didasari rasa kebangsaannya terhadap Negara Indonesia. Hal tersebut mencerminkan bahwa dia merupakan orang yang punya rasa nasionalis tinggi. Rasa kebangsaan yang tinggi tersebut diturunkan oleh ayahnya yang merupakan seorang politisi Indonesia. Ayah Armijn Pane dulunya adalah seorang aktivis politik dan aktif dalam partai Nasional pada masa pergerakan Nasional di Palembang. Hal itulah yang kemudian diturunkan kepada anak-anaknya termasuk Armijn Pane.
Sebelum menulis Novel Belenggu, Armijn Pane banyak menulis karya sastra maupun karya ilmiah. Karya-karyanya berupa novel, cerpen, esai, sajak, dan drama. Armijn Pane pernah menulis banyak cerpen yang ditulis pada masa sesudah perang, kemudian cerpen-cerpen tersebut dijadikan kumpulan cerpen yang berjudul Kisah Antara Manusia yang diterbitkan pada tahun 1953 (Rosidi, 1969: 42).
Sebagian pengalaman hidupnya juga mempengaruhi Armijn Pane dalam menciptakan karya sastra. Pengalamannya yang pernah sekolah dalam bidang kedokteran mempengaruhi beberapa tokoh yang ada dalam karyanya. Contohnya dokter Sukartono dalam Novel Belenggu. Karakter dokter yang dimiliki oleh Armijn Pane terdapat dalam  tokoh novel walaupun digambarkan tidak sempurna selayaknya seorang dokter. Penggambarannya hanya sebatas status dan karakter pekerjaan seorang dokter. Selain tokoh dokter Sukartono, cerminan pribadinya juga ada terdapat pada tokoh-tokoh dalam naskah drama Antara Bumi dan Langit.
Novel Belenggu merupakan salah satu novel yang mempengaruhi sejarah sastra Indonesia. Menurut Rosidi (1969: 42), Novel Belenggu adalah sebuah roman yang menarik karena yang dilukiskannya bukanlah gerak-gerik lahir tokoh-tokohnya tetapi gerak-gerik batinnya. Pada Novel Belenggu menceritakan berbagai macam masalah yang cukup komplek dalam kehidupan rumah tangga. Tepatnya kehidupan rumah tangga dokter Sukartono dan Sumartini. Rumah tangga yang mereka bina berjalan tidak harmonis karena antara dokter Tono dan Tini bersikap acuh tak acuh satu sama lain. Dokter Tono menganggap Tini sebagai wanita yang tidak pengertian kepada suaminya. Dia ingin Tini untuk selalu bisa melayani apa yang diinginkan olehnya. Misalnya seperti menyambutnya saat pulang dari bekerja. Namun, hal itu tidak dilakukan oleh Tini karena dia berprofesi sebagai wanita modern maka dia berfikir bahwa seorang wanita atau istri  tidak harus ada di rumah saja. Keinginan dokter Tono tersebut yang tidak ada dalam diri istinya, Tini maka dia menjadi tertarik pada salah seorang wanita bernama Nyonya Eni. Di mata dokter Tono Nyonya Eni yang dikenalnya saat menjadi pasien adalah wanita yang bisa membahagiakan dirinya, tidak seperti istrinya sendiri. Maka dari itu Dokter Tono dan Yah menjalin hubungan terlarang dibelakang Tini. Nyonya Eni alias Yah merupakan teman dokter Tono saat masih SMA dan pernah menyimpan perasaan kepada dokter Tono. Namun, dokter Tono tidak mengenal Yah sebagai masalalunya. Di kemudian hari Hartono dan dokter Tono bertemu kembali setelah sekian lama berpisah. Mereka bersahat saat kuliah bersama di Malang. Ternyata fakta mengungkapkan bahwa Hartono sebenarnya merupakan mantan pacar Tini yang amat berkesan. Hal tersebut yang merupakan penyebab pernikahan antara dokter Tono dan Tini menjadi tidak harmonis. Baik dokter Tono, Tini, maupun Yah sama-sama terbelenggu dengan masa lalu mereka masing-masing sehingga tidak bisa menerima satu sama lain. Akhirnya pernikahan dokter Tono dan Tini berakhir dengan perceraian dan dokter Tono juga ditinggal oleh Yah ke luar negeri.
Berdasarkan penjabaran cerita di atas, Novel Belenggu memiliki banyak keistimewaan yang dapat menarik pembaca untuk mengkajinya. Unsur pembangun yang berupa unsur instrinsik sangat mempengaruhi cerita yang akan disampaikan kepada pembaca. Ketika membaca novel, segi struktur penceritaannya lebih ditonjolkan (Pradopo, 2002). Hal itu karena novel merupakan karya sastra yang sifatnya naratif. Unsur instrinsik yang ada dalam Novel Belenggu meliputi tema yang menjadikan suatu jalan cerita, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang dari penceritaan cerita dalam novel dan moral yang disampaikan Armijn Pane kepada para pembaca. Semua unsur intrinsik yang telah disebutkan merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan untuk membentuk makna dalam cerita.
Kata novel berasal dari bahasa Itali Novell, sedangkan dalam bahasa Jerman disebut Novelle. Nurgiantoro (2010) mengatakan bahwa secara harfiah Novella berarti sebuah barang baru yang kecil. Kemudian Abrams (Nurgiantoro, 2010), mengartikan novel sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa. Berdasarkan hal tersebut maka kata Novelle atau Novella di Indonesia dikenal dengan istilah novelette yang diserap dari bahasa Inggris yaitu Novellet. Novelet berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek (Nurgiantoro, 2010).
Karya sastra adalah suatu bentuk karya seni dari seseorang dalam bentuk tulis. Karya sastra itu sendiri memiliki beberapa jenis. Jenis karya sastra sering disebut juga dengan Genre sastra. Jenis atau genre sastra ialah suatu hasil klasifikasi terhadap bentuk dan isi karya sastra yang terdapat dalam realitas (Wiyatmi, 2009). Karya sastra terbagi dalam beberapa jenis yaitu sebagai berikut.
Menurut pandangan Aristoteles  (dalam Wiyatmi, 2009) dalam teori-teorinya, karya sastra dapat berbentuk drama. Ada tiga kesatuan dalam drama yaitu kesatuan waktu, kesatuan ruang dan kesatuan peristiwa. Berkaitan dengan hal tersebut, Aristoteles mengungkapkan ada dua jenis sastra yaitu bersifat cerita daan bersifat drama (Wiyatmi, 2009). Namun, ada tambahan lagi mengenai jenis sastra. Selain dua jenis sastra yang diungkapakan oleh Aristoteles, ada juga jenis karya sastra yang dikenal masyarakat yaitu jenis puitik. Jenis puitik ini diungkapkan oleh Hartoko & Rahmanto dalam bukunya (Wiyatmi, 2009). Jenis-jenis teks yang hidup dimasyarakat adalah puitik, drama, dan teks naratif yang meliputi prosa, cerpen, novel atau roman.
Perbedaan antara jenis-jenis karya sastra satu dengan yang lain sangat mencolok. Karya sastra yang dibahas pada makalah ini lebih di vokus pada karya sastra yang berbentuk novel. Perbedaan antara novel dengan karya sastra yang lain yaitu sebagai berikut.
a.       Novel dengan jenis-jenis puitik
Perbedaan jenis karya sastra berupa novel dengan karya sastra berbentuk puitik bisa didentifikasi dari bentuk fisiknya. Novel merupakan cerita yang disajikan secara naratif dan terdiri dari beberapa urutan kejadian serta melibatkan beberapa tokoh. Namun, pada karya sastra yang berbentuk puitik tidak memiliki ciri seperti yang ada pada novel. Jenis karya sastra puitik sama-sama memiliki unsur instrinsik namun pembangun antara novel dan puitik berbeda.
b.      Novel dengan cerpen
Pada dasarnya karya sastra yang berbentuk novel dan cerpen sama-sama berupa cerita atau karya fiksi. Perbedaan yang utama yaitu pada pada segi formalitas bentuknya yang berupa panjang pendeknya cerita yang disajikan. Novel biasanya terdiri dari ratusan halaman atau lebih. Sedangkan untuk cerpen sesuai dengan namanya cerita pendek. Untuk ukuran panjang pendeknya belum ada ukurannya tersendiri. Tapi Edgar Allan Poe (Nurgiantoro, 2010), menyatakan bahwa cerita pendek adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam yang sekiranya tidak mungkin dilakukan untuk sebuah novel.
Dilihat dari fokus cerita pada tokohnya, cerita yang disajikan pada novel cenderung lebih panjang dan tokoh cerita yang disajikan tidak fokus pada satu tokoh saja. Novel cenderung bersifat expands “meluas”, sedangkan cerpen lebih mengutamakan intensitas yang menitikberatkan munculnya complexity “kompleksitas” (Sayuti, 2000). Sedangkan pada cerpen ceritanya lebih pendek dan ceritanya lebih fokus pada satu tokoh saja.
Kesamaan yang terdapat dalam novel dan cerpen adalah mereka sama-sama dibangun dengan unsur-unsur cerita yang sama. Keduanya sama-sama mengandung unsur instrinsik yang berupa tema, alur, plot, tokoh dan penokohan, sudut pandang dan lain-lain. Sehingga cerpen dan novel dapat dianalisis dengan pendekatan yang sama.

B.       Pengkajian Novel dengan Pendekatan Struktural
Pendekatan struktural adalah salah satu pendekatan yang digunakan untuk membedah suatu karya sastra. Pendekatan tersebut dipelopori oleh kaum Formalis Rusia dan Srukturalisme Praha. Pendekatan stuktur sendiri mendapat  pengaruh langsung dari teori linguistik yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure (Fananie, 2000).
Menurut Teeuw (Pradopo, 2002), analisis struktural itu kebulatan makna  instrinsik karya sastra dapat digali berdasarkan pemahaman tempat dan fungsi unsur itu dalam suatu karya sastra. Unsur-unsur instrinsik dalam suatu karya sastra juga mendukung untuk memahami makna dalam suatu karya sastra sehingga perlu dianalisis secara mendalam.
Suatu bentuk atau bahasa yang digunakan dalam karya sastra memiliki arti yang akan disampaikan oleh penulis kepada pembaca. Pada karya sastra seperti novel, unsur struktural tidak hanya dilihat pada kata dan bahasa saja, namun dapat juga dikaji dengan melihat berbagai macam unsur-unsur pembangun karya sastra yang berbentuk novel seperti tema, plot, karakter, sudut pandang, latar, moral yang disampaikan, dll.
1.         Tema
Tema adalah ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatarbelakangi penciptaan karya sastra (Fananie, 2000).  Setiap tema pada suatu karya sastra tidak diungkapkan secara langsung. Tema terletak secara implisit sehingga pembaca harus mampu menafsirkan sendiri makna yang terkandung yang ingin disampaikan oleh penulis melalui cerita-cerita yang disajikan. Tema dapat ditemukan pada bagian-bagian tertentu dari suatu karya sastra seperti melalui dialog tokoh-tokohnya, melalui konflik yang terjadi, melalui karakter tokoh, ataupun komentar secara tidak langsung. Akhir cerita pada suatu karya sastra juga menentukan tema. Tapi akhir dari setiap cerita tidak selalu tergantung pada penulis saja. Akhir cerita yang menggantung berarti menyerahkan secara utuh bagaimana akhir cerita suatu karya sastra kepada pembaca, sehingga temanya tergantung kepada pembaca itu sendiri.
Tema dapat digolongkan menjadi beberapa kategori berdasarkan sudut pandang Dikhotomis yaitu:
a)    Tema Tradisional adalah tema yang merujuk pada tema yang bisa ditemukan dalam berbagai cerita, termasuk cerita lama (Nurgiantoro, 2010). Misalnya cerita yang bertema (1) kebenaran dan keadilan yang mengalahkan kejahatan, (2) tindak kejahatan walau ditutup-tututpi pasti akan terbongkar juga, (3) tindak kebenaran maupun kejahatan masing-masing akan mimetik hasilnya, (4) cinta yang sejati menuntut pengorbanan, dan tema-tema yang lain.
b)   Berdasarkan pendapat Nurgiantoro (2010: 79) menyatakan bahwa tema Nontradisional adalah tema yang bersifat tidak lazim dan tidak sesuai dengan harapan pembaca. Biasanya tema nontradisional bersifat melawan arus, mengejutkan, menyebalkan, dan tidak biasa terjsadi dalam kehidupan masyarakat sebenarnya. Misalnya, jalan cerita yang menceitakan tentang kejujuran justru membuat suatu kehidupan menjadi keruh atau berantakan. Jalan cerita lebih melindungi kejahatan daripada kebenaran. Hal tersebut menyatakan adanya ketidakwajaran tema yang diangkat sehingga tema-tema tersebut di sebut tema Nontradisional.
2.         Tokoh dan Penokohan
Tokoh merupakan para pelaku yang ada dalam suatu novel atau cerita fiksi lainnya. Menurut Abrams (Nurgiantoro, 2010) tokoh cerita adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Tokoh bersifat imajinatf  karena pada dasarnya merupakan rekaan penulisnya saja. Namun, tokoh fiktif tersebut harus seorang tokoh yang hidup secara wajar, sewajarnya kehidupan manusia di dunia.  Tokoh-tokoh pada cerita fiksi fungsinya tidak hanya sebagai pelaku dalam cerita saja, namun sebagai alat untuk menyampaikan ide atau gagasan, tema, alur, serta moral dari penulis kepada pembacanya. Abrams (Fananie, 2000) mengatakan bahwa untuk menilai karakter tokoh dapat dilihat dari apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan tokoh itu sendiri. Tokoh cerita merupakan unsur dari karya sastra berupa fiksi yang bertugas sebagai pembawa dan menyampaikan pesan, amanat, moral, dan segala sesuatu yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca.
Unsur tokoh dan penokohan sangat penting untuk membangun sebuah cerita fiksi karena saling berkaitan dengan unsur-unsur yang lain. Penokohan dan Pemplotan satu sama lain saling berkaitan erat. Dalam membangun sebuah cerita, pemplotan sangat penting, namun tokoh-tokoh cerita akan lebih menarik perhatian pembaca. Plot hanya sarana untuk memahami jalan cerita (Nurgiantoro, 2010). Maka dari itu, untuk menunjukan jati diri dan kehidupan tokoh dalam cerita perlu ada alur (plot) perjalanan hidup dari tokoh-tokoh tersebut.
Keterkaitan tokoh dengan tema juga tidak kalah pentingnya. Tema merupakan dasar cerita dari sebuah jalan cerita dalam novel. Dalam fiksi tema bersifat mengikat dan bersifat menyatukan unsur-unsur fiksi yang lain. Melalui tokoh-tokoh itu, tema yang dijunjung dalam cerita dapat tersampaikan kepada pembaca.
Setiap tokoh dalam cerita mempunyai watak untuk membangun cerita dalam novel. Watak dapat diwujudkan dengan bermacam-macam cara penokohan seperti yang diungkapkan oleh S. Tasrif (Pradopo, 2002) yaitu (a) Lukisan bentuk lahiriyah dari tokoh itu sendiri (Physical description), (b) Lukisan jalan pikiran atau apa yang melintas dalam pikiran tokoh (portrayal of thoughtor stream of consciousness), (c) Reaksi terhadap peristiwa (reaction of event), (d) Analisis watak secara langsung (direct author analysis), (d) Lukisan keadaan sekitar tokoh (discussion of environment), (e) Reaksi-reaksi pelaku lain terhadap tokoh (reaction of others to character).
3.         Latar / Setting
Latar atau setting cerita merupakan unsur pembangun yang penting yang mengiringi jalan cerita. Walaupun setting atau latar dimaksudkan untuk mengidentifikasi situasi yang tergamar dalam cerita, keberadaan elemen setting hakikatnya tidak sekedar menyatakan dimana, kapan, dan bagaimana situasi peristiwa berlangsung, melainkan berkaitan juga dengan tradisi, karakter, perilaku sosial, dan pandangan masyarakat pada waktu cerita ditulis (Fananie, 2000: 98). Fungsi setting atau latar itu sendiri tidak bisa terpisah dari unsur pembangun karya sastra yang lain karena merupakan satu kesatuan yang saling menentukan.
Setting atau latar yang berhasil adalah harus terintegrasi dengan tema, watak, gaya, implikasi atau kaitan filosofinya (Sumardjo, 1986: 76). Untuk mengetahui ketepatan setting atau latar dalam suatu karya sastra dapat dilihat dari beberapa indikator. Abrams (Fananie, 2000) menyebutkan ketiga indikator tersebut, yaitu (1) General local (tempat terjadinya peristiwa), (2) Historical time (saat terjadinya peristiwa itu), (3) Social  circumstances (situasi sosialnya). Berdasarkan berbagai macam indikator tersebut maka pembaca tahu sejauh mana kewajaran dari setting atau latar karya sastra dengan peristiwa/situasi yang terjadi dikalangan masyarakat saat itu.
Ada unsur-unsur yang membangun sebuah latar dalam cerita. Menurut Nurgiantoro (2010) menjelaskan bahwa unsur-unsur tersebut adalah (1) Latar tempat, merupakan lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi, (2) Latar waktu, berkaitan dengan “kapan” peristiwa dalam karya sastra itu terjadi, (3) Latar sosial, mengungkapkan tentang perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tampat yang diceritakan dalam karya fiksi. Hal itu bisa berupa adat-istiadat, kebiasaan hidup, tradisi, keyakinan, atau pandangan hidup.  
4.        Alur / Plot
Alur atau plot adalah salah satu unsur instrinsik yang membangun sebuah karya sastra berupa novel. Unsur-unsur tersebut saling berkaitan untuk menyampaikan cerita kepada pembaca. Pada kegiatan pengkajian plot atau alur ini digunakan untuk mengetahui peristiwa apa saja yang terdapat dalam cerita novel. Menurut Staton (Wardani, 2009) menyatakan bahwa plot adalah deretan peristiwa yang disusun berdasarkan hubungan sebab akibat. Peristiwa yang terjadi dalam deretan cerita merupakan sebuah akibat dari peristiwa yang sebelumnya. Staton (Nurgiantoro, 1995) juga mengatakan bahwa plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun kejadian-kejadian tersebut hanya dihubungkan secara sebab akibat. Begitu juga dengan Foster yang mengemukakan bahwa plot adalah peristiwa-peristiwa dalam cerita novel yang mempunyai penekanan pada adanya kausilitas. Selain itu Foster (Nurgiantoro, 1995) mengemukakan bahwa plot bersifat misterus dan intelektual. Pembaca harus mempunyai pemikiran yang intelektual untuk bisa memahami dan menebak plot yang ada dalam cerita novel. Jadi pada dasarnya plot adalah serangkaian peristiwa yang terjadi dalam cerita fiktif yang mengantarkan pembaca ke dalam jalan cerita.
Pemahaman dan penghayatan pada sebuah novel sangat tergantung sekali terhadap plot/alur yang disajikan oleh penulis. Kesederhanaan plot/alur dalam sebuah novel akan mempermudah pembaca dalam memahami cerita dalam novel. Sedangkan plot yang sulit akan mengurangi pemahaman pembaca terhadap cerita. Namun, biasanya kesulitan penyajian plot dalam sebuah cerita akan menjadi sebuah karakteristik gaya penulisan karya sastra.
            Dalam mengembangkan plot dalam cerita, maka ada tiga unsur yang harus diperhatikan. Unsur-unsur tersebut adalah peristiwa, konflik, dan klimaks. Ketiga unsur tersebut saling berhubungan satu sama lain.
a)    Peritiwa
Luxemburg (Nurgiantoro, 2010) menyatakan bahwa peristiwa merupakan peralihan dari suatu keadaan yang lain. Maka pembaca harus mampu membedakan kalimat-kalimat yang mengandung peristiwa ataupun tidak. Berdasarkan hal tersebut maka ada pembagian peristiwa menjadi tiga yaitu peristiwa Fungsional, peristiwa kaitan, dan peristiwa acuan.
Peristiwa fungsional adalah peristiwa-peritiwa yang menentukan atau mempengaruhi perkembangan plot itu sendiri. Peristiwa kaitan adalah peristiwa-peristiwa yang yang berfungsi mengaitkan peristiwa penting dalam cerita yang disajikan. Peristiwa acuan adalah peristiwa yang tidak secara langsung berpengaruh dan atau berhubungan dengan perkembangan plot, namun mengacu pada unsur-unsur lain. 
b)   Konflik
Konflik adalah sebuah kejadian yang bisa menjadi pusat perhatian pembaca. Konflik juga merupakan masalah yang sangat berpengaruh dalam pengembangan plot. Wallek dan Werren (Nurgiantoro, 2010) menyatakan bahwa konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara kedua kekuatan yang seimbang menyiratkan adanya aksi balasan. Bentuk peristiwa yang berupa konflik dapat berupa konflik batin dan konflk fisik. Maka dari itu, Staton (Nurgiantoro, 2010) mengatakan bahwa konflik merupakan bentuk kejadian yang dapat dibedakan menjadi dua kategori yaitu konflik fisik dan konflik batin, konflik eksternal dan konflik internal.
c)    Klimaks
Staton (Nurgiantoro, 2010), mengatakan bahwa klimaks telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan saat hal itu merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari kejadiannya. Klimaks merupakan puncak dari konflik yang ada dalam cerita dan menentukan bagaimana solusi yang digunakan untuk menyelesaikan konflik tersebut.
5.        Sudut pandang
Staton (Nurgiantoro, 2010) menggolongkan sudut pandang atau point of view merupakan salah satu unsur fiksi yang digunakan sebagai sarana cerita. Ada tidaknya sudut pandang mempengaruhi penyajian cerita untuk mempermudah pemahaman pembaca. Penyudut pandangan menurut Abrams (Nurgiantoro, 2010), adalah cara dan atau pandangan yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca. Pada hakikatnya sudut pandang hanyalah sebuah strategi pengarang untuk menyampaikan cerita kepada pembaca sehingga semua gagasan dan ide-ide yang ada dalam pikiran pengarang bisa tertuang lewat cerita tersebut dengan masing-masing gayanya.
            Sudut pandang cerita secara garis besar dapat dibedakan ke dalam dua macam (Nurgiantoro, 2010) yaitu persona pertama (first person). Biasanya menggunakan gaya “aku” sebagai pencerita. Sudut pandang yang ke dua yaitu persona ke tiga (third-person), yang bercerita adalah sosok orang lain selain tokoh dalam cerita yang biasa disebut “dia”. Pengarang mempunyai kebebasan yang tidak terbatas untuk menuangkan cerita melalui sudut pandang yang dikehendaki dan yang paling efektif.
Pemilihan sudut pandang dalam menyajikan sebuah cerita menjadi penting karena hal itu berhubungan dengan gaya baik retorika maupun gramatikanya. Teknik penyajian sudut pandang tertentu akan lebih efektif jika diikuti oleh pemilihan bentuk gramatika dan retorika yang sesuai (Nurgiantoro, 2010). Penyajian sudut pandang juga digunakan untuk menyampaikan nilai-nilai, sikap, dan pandangan hidup pengarang selain dituangkan dalam tokoh dalam cerita itu sendiri.
Macam-macam sudut pandang menurut Nurgiantoro (2010) yaitu :
1)   Sudut Pandang Persona Ke Tiga
Pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang persona ketiga, menggunakan gaya “dia”. Narator cerita adalah seseorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama tokoh atau sebutan ia, dia, dan mereka. Sudut pandang “dia” dapat dibedakan menjadi beberapa golongan berdasarkan tingkat kebebasan dan keterikatan pengarang terhadap bahan ceritanya. (a) Narator dapat dengan bebas menceritakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tokoh “dia”. Jadi narator tersbut bersifat mahatahu (“dia” mahatahu), (b) Menurut Staton (Nurgiantoro, 2010), sudut pandang “dia” terbatas hanya mengetahui sebagaian dari apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikir, dan dirasakan oleh tokoh cerita.
2)    Sudut Pandang Persona Pertama: “Aku”
Dalam sudut pandang ini narator terlibat langsung dalam cerita yang disajikan. Jadi selain sebagai pencerita juga sebagai tokoh sekaligus dalam cerita. (a) “Aku” Tokoh utama. Teknik penggunaan sudut pandang ini, “aku” mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya. (b) “Aku” Tokoh Tambahan. Tokoh “aku” hadir untuk membawakan cerita kepada pembaca. Sedangkan tokoh utama dalam cerita menceritakan sendiri tentang berbagai macam pengalamannya.
3)    Sudut Pandang Campuran
Penggunaan sudut pandang dalam sebuah cerita berupa penggunaan sudut pandang persona ketiga dengan teknik “dia” mahatahu dan “dia” sebagai pengamat, persona pertama dengan teknik “aku” sebagai tokoh utama dan “aku” tambahan sebagai saksi, bahkan dapat berupa campuran antara persona pertama dan ketiga antara “aku” dan “dia” sekaligus.
6.        Moral
Moral merupakan sesuatu yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca yang harapannya bisa dijadikan pembelajaran hidup bagi pembaca. Menurut KBBI (2008) moral merupakan ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban. Dapat juga diartikan sebagai akhlak, budi pekerti, susila. Pengertian yang lain yaitu kondisi mental yang membuat orang tetap semangat, bergairah, berdisiplin, bersedia berkorban, menderita, menghadapi bahaya, atau merupakan isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dalam perbuatan.
Menurut Nurgiantoro (2010), moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangan tentang nilai-nilai kebenaran dan hal itulah yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca melalui cerita yang disajikan tersebut. Kenny (Nurgiantoro, 2010), mengungkapkan bahwa moral dalam cerita biasanya dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diambilkan dan ditafsirkan melalui cerita yang bersangkutan kepada pembaca.

C.      Kajian Novel Belenggu Menggunakan Pendekatan Struktural
1.    Tema dalam Novel Belenggu
Tema merupakan ini atau pokok pikiran dalam suatu cerita. Tema juga digunakan sebagai penentu semua unsur-unsur dalam suatu cerita. Tema yang digambarkan dari Novel Belenggu ini adalah kehidupan rumah tangga suami-istri (manusia modern) tidak dapat bahagia karena masing-masing tidak dapat menerima apa yang telah ada. Mereka terikat dengan angan-angan masa lalu dan peristiwa masa lalu yang tidak terwujud (Pradopo, 2002). Hal itu terlihat pada keseluruhan jalan cerita antara Tono dan Tini tidak seperti hidup berkeluarga pada umumnya namun saling membenci dan tidak mendukung satu sama lain.
Penggolongan tema berdasarkan sudut pandang dikhotomis dapat dibedakan menjadi tema tradisional dan nontradisional. Jika melihat jalan cerita yang disampaikan dalam Novel Belenggu maka tema yang membangun jalan cerita novel tersebut adalah kehidupan keluarga yang tidak harmonis. Tema tersebut termasuk dalam tema tradisional. Hal itu karena ketidakharmonisan keluarga yang dibangun oleh dokter Tono dan Tini. Dalam keluarga mereka selalu ada konflik yang mengakibatkan mereka berdua selalu tidak akur layaknya keluarga. Konflik yang ada dalam novel tersebut adalah adanya perselingkuhan yang dilakukan Tono. Hal itu sebagai akibat dari masing-masing mereka yang saling acuh tak acuh sebagai suami istri. Perselingkuhan yang dilakukan oleh dokter Tono dengan Yah tersebut diketahui oleh Tini, sehingga mengakibatkan perceraian antara suami istri tersebut. Akhir cerita pun Tono ditinggalkan oleh kedua wanita yang pernah bersamanya yaitu Tini dan Yah. Berdasarkan cerita tersebut maka dapat disimpulkan bahwa setiap keburukan pasti akan mendapat imbalan yang sesuai.
Kategori tema yang tradisional adalah tema yang diangkat dalam cerita dapat ditemukan dalam cerita lain. Tema yang ada dalam Novel Belenggu termasuk dalam tema tradisional. Jalan cerita pada novel tersebut masih mengangkat tentang tema bahwa setiap keburukan pasti akan mendapat imbalan yang sesuai. Hal itu bisa ditemukan dalam cerita novel lain seperti pada Novel Salah Asuhan karya Abdul Muis. Kesamaan tersebut terlihat ketika sebuah keluarga yang hancur karena adanya orang ketiga.
Dalam Novel Belenggu, Tono merasa tidak puas dengan istrinya, Tini. Kemudian dia mencari sosok wanita yang bisa membahagiakan dia dan berlaku seperti apa yang dia inginkan. Tono menemukan Yah (Ny. Eni) yang merupakan temannya waktu kecil sekaligus pasiennya. Mereka pun manjalin hubungan terlarang. Namun, pada akhirnya hubungan mereka diketahui oleh Tini dan keluarga mereka bercerai walaupun sebenarnya Tono tidak menginginkan hal itu. Tono pun ditinggalkan oleh Tini maupun Yah. Dibandingkan dengan Novel Salah Asuhan tidak jauh berbeda tema yang diangkat. Hanafi sebagai bangsa Indonesia yang selalu merendahkan bangsanya sendiri karena dia selalu mengagungkan bangsa Belanda. Hal tersebut karena dia jatuh cinta kepada wanita keturunan Belanda bernama Corry. Karena mengejar cinta Corry, Hanafi pergi ke Jakarta dan meninggalkan anak dan istrinya serta keluarganya di Minangkabau dan disana dia memang bisa bersatu dengan Corry. Namun, berbagai aral melintang menghampiri keluarga Corry dan Hanafi. Diakhir cerita Corry meninggal. Hanafi pulang kembali ke Minangkabau, namun hanya ibunya yang mau menerima Hanafi kembali. Oleh karena itu, Hanafi akhirnya meninggal karena over dosis.
2.    Tokoh dan Penokohan pada Novel Belenggu
Selain berbicara tentang tokoh-tokoh yang ada dalam cerita, dalam hal ini juga membicarakan tentang karakteristik masing-masing tokoh. Setiap tokoh yang ada dalam cerita pasti memiliki ciri perwatakan. Secara umum perwatakan dalam suatu cerita dibagi menjadi dua yaitu tokoh protagonis dan tokoh antagonis.  Tokoh protagonis merupakan tokoh utama dalam suatu cerita. Sedangkan tokoh antagonis adalah tokoh yang bersifat menentang tokoh utama dalam cerita.
Tokoh protagonis dalam Novel Belenggu yaitu Tono (Sukartono) karena Tono menjadi sorotan utama yang selelu dibicarakan dalam novel. Tono juga sebagai pangkal utama yang menjadikan adanya konflik yang membangun cerita novel. Hal itu karena setiap peristiwa dalam cerita pasti melibatkan tokoh Tono.
Tokoh antagonis dalam Novel Belenggu yaitu Tini (Sumartini) sebagai istri Tono dan Yah (alias Ny. Eni atau Siti Rohayah atau Siti Hayati) kekasih Tono. Tokoh Tini selalu menentang apa yang dilakukan oleh Tono. Tokoh Yah juga termasuk dalam salah satu tokoh antagonis dalam Novel Belenggu. dalam cerita Yah yang tidak pada jalan yang benar. Ketika Yah tahu bahwa Tono telah beristri tapi dia tetap mau menjadi kekasih Tono sehingga menimbulkan masalah dalam keluarga Tono dan Tini.
Ada juga tokoh-tokoh lain yang merupakan tokoh pembantu yang fungsinya untuk memperjelas jalan cerita dalam menyelesaikan masalah dan konflik-konflik yang ada. Tokoh-tokoh pembantu tersebut diantaranya Hartono (teman Tono di SMA dan bekas kekasih Tini), Mardani (teman Tono dan Hartono), Mangunsucipto (paman Tini), Karno (bujang Tono), Abdul (sopir Tono), Puteri Aminah, Nyonya Sumardjo, dan tokoh lain sebagai teman seprovesi dengan Tini (Pradopo: 2002).
Perwatakan dalam Novel Belenggu dapat ditentukan dengan teknik analitik dan dramatik. Misalnya deskripsi fisik Tini yang cantik, suka bersolek, memakai rouge di bibir dan pipi untuk menunjukan Tini sebagai ratu pesta yang menarik para pemuda hingga akhirya dapat menarik Tono dan dijadikan istri (Pradopo, 2002). Penggambaran secara fisik untuk tokoh Tini terdapat pada kutipan sebagai berikut.

“… diamat-amatinya sebentar badan yang terlentang itu, molek, karena suka sport dahulu. Tetapi, nafsunya tiada tertarik, tiada berkobar seperti dahulu. Sambil menuju ke kursinya, dia berfikir: badannya masih cantik. Memang Tini cantik, pandai memakai sembarang pakaian. Suka mata memandang dia.” (hal. 61)

Tokoh Tini yang bersifat suka menentang suaminya sendiri juga dikemukakan secara eksplisit pada kutipan sebagai berikut.

“Sukartono terkejut, memendang kearah istrinya, tetapi ia sudah berpaling lagi, menuju ke kamar tidur. Menyala-nyala dalam hatinya, hendak terhambur kata marah dari mulutnya …ah, alangkah cantiknya, ramping langsir, sikapnya menantang demikian itu.” (hal. 19)

Selain watak-watak Tini di atas, masih ada watak yang dapat terlihat dari tingkah laku yang dilakukan Tini kepada tokoh-tokoh lain. Misalnya seperti pada saat Tini berbincang dengan Nyonya Rusdio. Tini mengutarakan kecemburuannya kepada Nyonya Rusdio karena dia mengetahui bahwa sebenarnya Nyonya Rusdio mempunyai perasaan kepada suaminya. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut.

“Ada yang hendak ibu katakana, bukan ibu?” kata Tini, sambil duduk dihadapan Nyonya Rusdio. “ katakanlah ibu, saya dengarkan. Tentu saya yang disalahkan, karena ibu saying akan suami saya.”
Kata “suami saya” itu ditekannya, seolah-olah hendak mengatakan, yang hendak engkau singgungperkara kami sendiri. Nyonya Rusdio merasa juga akan maksud perkataan Tini itu. Dia tahu Tini tiada terlalu suka akan dia. Entah apa sebabnya. …”. (hal. 55)

Deskripsi tokoh Tini di atas juga dapat menimbulkan reaksi-reaksi pelaku-pelaku lain, misalnya pelaku wanita dalam cerita yang kerap menggunjingkan ketidakcocokan antara Tono dan Tini setelah mereka berdua manikah.
Perwatakan pada Yah atau Ny. Eni yang dapat di deskripsikan secara fisik yaitu Yah yang berparas cantik dan menarik bagi kaum lelaki serta membuat orang nyaman berada di dekatnya. Dia penyayang dan banyak lelaki tertarik termasuk Tono sehingga terjadilah perselingkuhan antara Tono dan Yah. Kepribadian Yah dapat di ketahui melalui deskripsi yang diungkapkan Tokoh dokter Tono ketika membandingkan dengan sifat istrinya sendiri. “Pikirannya melayang kembali ke Yah, yang baru ditinggalkan. Benar-benar perempuan, ramah-tamah, pandai bergurau, bercumbu-cumbu.” (hal. 61)
Watak Ny. Eni atau yang suka dipanggil Yah itu juga memiliki sifat perhatian. Perhatian Yah itu dia berikan kepada dokter Tono seakan-akan mengetahui apa yang diinginkan oleh Tono. Hal tersebut dapat diketahui melalui gerak-gerik Yah yang dia lakukan kepada dokter Tono yang diungkapkan melalui kutipan percakapan sebagai berikut.

“ … dia tiada menunggu jawab dokter Sukartono, dengan segera ditinggalkannya. Sesudah disangkutkannya baju itu dia kembali, lalu berlutut dihadapan Sukartono, terus ditanggalkannya sepatunya, dipasangkannya sandal yang diambilnya dari bawah kursi Sukartono.” (hal. 34)

Perwatakan tokoh dokter Tono disampaikan secara eksplisit oleh penulis yaitu dokter Tono yang memiliki sifat tanggung jawab terhadap keluarganya, rajin belajar ketika masih sekolah kedokteran, tidak mudah mengalah atau putus asa, dan lain-lain. Hal tersebut disampaikan penulis melalui kutipan cerita sebagai berikut.

“pikiran kawan-kawannya akan terkabul, sukartono akan patah di tengah jalan, kalau suatu ketika tiada surat dari saudaranya., mengatakan anaknya masih banyak yang perlu juga diteruskan pelajarannya, karena dia tahu, lebih bijaksana kalau perasaan tanggungjawab Sukartono disinggung. Saudaranya tahu, sejak kecil, memang sudah begitu tabiat Sukartono. Memang perasaan tanggung jawab keras padanya. Maka sejak Kartono menerima surat saudaranya itu, kawan-kawannya heran melihat Sukartono rajin belajar, tiada pernah kalah-kalah, bahkan selalu menang ujian dengan mendapat pujian …”. (hal. 24)

Adanya penokohan dari setiap tokoh itu saling berkaitan erat dengan unsur-unsur instrinsik lain misalnya seperti berkitan dengan plot serta amanat atau moral yang akan disampaikan kepada pembaca. Hal itu sangat bisa terlihat sekali pada Novel Belenggu karya Armijn Pane. Perwatakan dari tokoh dokter Tono yang mulanya setia kepada istrinya, Tini. Namun, karena dia yang tidak mempunyai pendirian yang mantap maka dia mencari sosok wanita lain yang dapat membahagiakan dirinya. Dia pun memilih Yah sebagai wanita yang bisa membahagiakan dirinya. Perubahan sifat Tono tersebut yang mengantarkan konflik dalam plot yang terjadi dalam Novel Belenggu ini. hal tersebut membuktikan adanya keterkaitan antara penokohan atau karakteristik dari tokoh yang mendukung terjadinya plot dalam suatu cerita fiksi.
3.    Plot atau Alur
Alur cerita Novel Belenggu termasuk dalam alur maju. Hal tersebut dapat diketahui melalui jalan cerita yang runtut dalam Novel Belenggu. Namun, di tengah cerita terselip alur mundur (flashback) karena menceritakan kembali masa lalu dari tokoh.
Penjelasan secara sederhana tentang alur dalam Novel Belenggu yaitu cerita di mulai ketika kehidupan keluarga Tini dan Tono yang tidak harmonis karena saling mengedepankan  keinginan masing-masing. Tini sebagai wanita modern, tidak ingin terkekang dengan kehidupan dalam keluarga saja sedangkan Tono menginginkan Tini menjadi seorang istri yang seutuhnya. Ketidakharmonisan dalam keluarga mereka juga di pengaruhi dengan kisah cinta yang telah menjadi masa lalu mereka yang kemudian kehidupannya saat ini. Pada peristiwa tersebut sudah menimbulkan adanya masalah yang timbul dalam cerita Belenggu.
Beranjak menuju konflik yang menjadi masalah yaitu setelah Tono yang tidak merasa nyaman berada dalam berkeluarga dengan Tini maka dia mencari sosok wanita yang bisa mengayomi dirinya. Wanita tersebut bernama Yah atau Ny. Eni yang merupakan pasiennya. Wanita tersebut merupakan pelacur dan ternyata merupakan salah satu temannya saat sekolah di bangku SMA. Yah juga merupakan salah satu wnita yang pernah Tono cintai saat belum bertemu dengan Tini. Begitu juga dengan Yah yang sempat memendam rasa cintanya kepada Tono sejak dulu. Saat itu Tono merasa nyaman ketika bersama Yah. Meraka menjalin hubungan tanpa sepengetahuan Tini.
Konflik memuncak ketika hubungan Tono dan Yah diketahui oleh Tini. Tini merasa jengkel dan akan menemui Yah yang telah merusak rumah tangganya. Namun Tini sadar bahwa Yah adalah wanita yang memang bisa membuat lelaki akan merasa nyaman ada bersamanya termasuk suaminya, Tono. Tidak seperti dirinya yang selama ini apa yang dilakukannya kepada Tono. Tini memutuskan untuk menceraikan Tono, begitu juga dengan Yah yang akhirnya meninggalkan Tono keluar negeri karena dia merasa bahwa dirinya tidak pantas untuk menjadi istri Tono.
4.    Latar cerita Novel Belenggu
Beberapa latar cerita terdapat pada Novel Belenggu . Latar-latar tersebut dapat mendukung jalan cerita sehingga pesan atau makna dapat tersampaikan kepada pembaca.
a)    Latar tempat
Ada beberapa tempat yang digunakan dalam melangsungkan cerita dalam Novel Belenggu. Latar tempat yang pertama yaitu cerita terjadi di rumah dokter Tono dan Tini. Latar tempat yang berada di rumah ini mempengaruhi jalan cerita dalam novel. Latar rumah tersebut merupakan tempat dimana Tono dan Tini bertemu dan bertengkar yang membuat terjadinya konflik dalam cerita. Hal tersebut terdapat pada kutipan berikut ini.

“Seperti biasa, setibanya di rumah lagi, dokter Sukartono terus saja menghampiri meja kecil, di ruang tengah, di bawah tempat telepon.
Ah, mengapa pula ditaruhnya disini. Diangkatnya barang sulaman istrinya di atas meja, akan mencari bloc-note, tempat mencatat nama orang kalau ada yang meneleponnya, waktu dia keluar.” (hal. 15)

 Selain itu latar tempat juga terjadi di Hotel kamar nomor tiga tampat Yah tinggal sebagai tempat pertama kalinya Tono dan Yah bertemu. Berkaitan dengan  plot yang ada dalam cerita maka, tempat tersebut merupakan awal dari timbulnya benih-benih cinta Yah dan Tono yang akhirnya mereka menjalin hubungan terlarang di belakang Tini. Hal tersebut terdapat pada kutipan yaitu sebagai berikut.

“Dibelakangnya, di dalam kamar nomor lima terdengar suara perempuan, tertawa karena geli, diiringi suara laki-laki terbahak-bahak. Diketoknya pintu tertutup itu, maka kedengaran suara nyaring: “ya…” sebentar lagi kedengaran orang turun dari tempat tidur, lalu suara sandal terseret menghampiri pintu, maka Sukartono berhadapan dengan perempuan montok berpakaian kimono, yang di tutupkannya dengan tangan kirinya.” (hal. 20)

Latar tempat yang selanjutnya adalah di rumah ke dua Yah (Ny. Eni) yaitu Gang Baru No. 24. Seperti yang terdapat dalam kutipan surat Yah kepada dokter Tono untuk memberitahukan rumahnya yang baru yaitu “Saya sudah pindah ke Gang Baru No. 24. Kalau tuan dokter kebetulan lintas disana, sukalah mampir di rumah saya, bekas patient tuan dokter.” Latar rumah ini selanjutnya dijadikan tempat Yah dan dokter Tono bertemu. Rumah ini juga dijadikan dokter Tono untuk beristirahat dan menemukan kedamaian yang tidak ditemukan di rumahnya sendiri. Hal tersebut terungkap dalam kutipan sebagai berikut.

“Sehabis payah praktijk, Kartono bisalah pergi ke rumahnya yang kedua akan melepaskan lelah. Pikirannya tenang kalau disana. Disanalah pula dia acapkah membaca majalah dan bukunya yang perlu dibaca, sedang Yah lagi asyik merenda. Mula-mulanya masih merasa berbuat salah dalam hatinya terhadap istrinya. Bukankah berbohong namanya itu? tetapi pikirnya pula: “kalau kulepaskan Yah, kemana perginya nanti?” lambat laun pertanyaan itu berubah menjadi: “kalau dia pergi apa jadinya aku? Dimana aku mendapat tempat damai?” (hal. 41)

b)   Latar waktu
Terdapat latar waktu malam hari pada Novel Belenggu. Latar waktu tersebut di ungkapkan secara eksplisit dalam percakapan dokter Tono dan Nyonya Eni yaitu sebagai berikut “Selamat malam, tuan dokter. Sangka saya tiada akan selekas ini bersua lagi dengan tuan. Kebetulan ada patient didekat sini, dokter?” tanya menjeling.” (hal. 33)
Berikut ini juga digambarkan waktu malam hari ketika Tini menunggu dokter Tono pulang ke rumah yang terdapat dalam kutipan sebagai berikut.

“Tini lagi berbaring di sofa membawa buku. Kedua belah tangannya memegang buku itu ke atas, supaya terang kena cahaya lampu dari belangnya. Kepalanya berbantalkan tiga buah bantal sofa , supaya tinggi, badannya seolah-olah setengah bersandarkan bantal itu. biasanya dia sudah tidur, atau sudah baring di tempat tidur, seolah-olah sudah nyenyak, tetapi sebenarnya dia menunggu-nunggu Kartono pulang.” (hal 57)

Waktu sore hari juga menjadi latar dalam cerita pada Novel Belenggu. waktu sore hari terdapat pada saat dokter Tono akan mengunjungo pasiennya yang telah memanggilnya. Waktu tersebut disebutkan secara terang dalam kutipan sebagai berikut.

“Hatinya senang, kemudian di dalam mobil dengan gembira dia mengisap serutunya, sambil di sudut tempat duduk. Mobil melancar, hari sudah hampir gelap, lampu di tepi jalan sudah dipasang. Hawa sudah mulai sejuk. Matanya memandang ke kiri dan ke kanan, melihat ke luar, akan memalaikan pikirannya.” (hal. 19)

c)   Latar suasana
Suasana hati Tono yang gembira setelah bertemu dengan Yah. Hal tersebut dapat terlihat terdapat tingkah laku yang dilakukan dokter Tono dalam kutipan “Ketika dokter Sukartono keluar dari pekarangan rumah patient yang penghabisan, hatinya girang benar, belum pernah segirang itu pada waktu yang akhir-akhir ini…… “. (hal. 32)
Berikut ini merupakan kutipan percakapan yang menggambarkan suasana yang menyenangkan bagi dokter Tono ketika bercakap-cakap dengan temannya, Hartono. “Sukartono merasa gembira: “Memang, benar demikian, yaitu kalau kita biarkan kita dibelanggu, tapi kalu kita pada mulanya benar suadah memasang segala tenaga kita, kalau kita terus juga bersikeras hendak melepaskan belanggu itu,…”. (hal. 113)
Latar suasana yang menyenangkan dalam hotel tempat Yah tinggal juga ada dalam cerita ketika dokter Tono memeriksa Yah yang mempunyai keluhan. Suasana tersebut tergambar pada percakapan antara dokter Tono dan Yah (Ny. Eni) pada sebagai berikut.

“Ketika dokter Sukartono keluar dari pekarangan rumah patient yang penghabisan, hatinya girang benar, belum pernah segirang itu pada waktu yang akhir-akhir ini. dalam notesnya tidak ada lagi patient lain, baru saja diteleponnya ke rumah, kata Karno tidak ada patient. ….” (hal. 32)

Suasana hati yang mengecewakan Tono ketika mendapati Rumah Yah telah pindah. “Kegirangan hatinya bertukar menjadi perasaan jengkel, ketika dia keluar dari mobil, disambut oleh jongos yang malam kemaren dulu dengan kata: “sudah pindah, tuan dokter.” (hal. 32)
Suasana ruangan yang bising karena suara radio juga tergambar pada kutipan yaitu sebagai berikut.

“Dia berdiri dihadapan radio. Diputarnya knop penghubung kekawat listrik, lampu menyala di dalam, diputarnya knop untuk gelombang, diputarnya sampai 190, terdengar lagu keoncong baru, lalu diperlahankannya. Dia pergi bersandar pada meja tulisnya. Suara berhenti. Kata omruper: sehabis ini akan diperdengarkan suara Siti Haryati dari piring hitam dengan lagu: Ingat aku.“ (hal. 61)

Suasana yang mengharukan dapat ditemukan pada saat Yah mengutarakan bahwa dirinya adalah Rohayah yang merupakan teman dokter Tono semasa SMA. Yah berusaha mengingatkan hal itu kepada dokter Tono tapi doketr Tono masih belum mengingatnya. Maka Yah menangis dalam keadaan itu. Hal tersebut terdapat pada kutipan pada sebagai berikut.
                                                                            
“dia tertiarap di lantai, kedua belah tangannya bersilang menutup matanya. Badannya tersentak-sentak karena menagis tertahan-tahan. Kartono melutut, hendak mengangkat badan Yah. Yah menolaknya … “. (hal. 51)

5.    Sudut pandang dalam cerita Novel Belenggu
Sudut pandang yang dipilih oleh Armijn Pane dalam Novel Belenggu yaitu menggunakan teknik orang ketiga serba tahu. Jadi orang ketiga serba tahu ini merupakan bukan termasuk salah satu tokoh dalam Novel Belenggu. Sudat pandang tersebut bisa penulis atau pun orang lain. Hal tersebut bisa diketahui dengan cara mengidentifikasi yang mana pencerita selalu menyapa nama-nama tokoh. Selain itu, bisa diketahui seakan-akan pencerita seperti seseorang yang sedang bercerita melalui tulisan kepada pembaca.
6.    Moral
Pembelajaran moral yang bisa diambil dari cerita dalam Novel Belenggu yaitu menerima kelebihan dan kekurangan dari suami atau istri karena kita telah memilihnya menjadi pasangan hidup sehingga harus mampu sehidup semati dengan pasangan kita. Moral ini sangat menonjol sekali dalam cerita Novel Belenggu. Hal itu tergambar dalam inti cerita yaitu perselinggkuhan antara dokter Sukartono dan Ny. Eni di belakang Sukartini. Hal itu terjadi karena menurut dikter Tono, istrinya merupakan istri yang belum sempurna ketika harus membahagiakan dirinya sebagai suaminya. Sedangkan sosok istri yang diidamankan oleh dokter Tono ada dalam diri Ny. Eni.
Pesan moral yang lain yaitu untuk menghargai kelebihan orang lain. Misalnya ketika Sumartini menyadarai bahwa Ny. Eni atau Yah memang lebih pintar dalam membahagiakan suaminya maka Sumartini lebih memilih untuk menceraikan dokter Tono dan merelakan mereka untuk bersama. Harapannya agar mereka bisa lebih bahagia.
Pesan moral yang selanjutnya yaitu mengajarkan kita untuk mengakui kesalahan yang telah dilakukan oleh diri kita sendiri sehingga kita juga berlaku jujur pada diri sendiri dan orang lain. Hal tersebut seperti yang dilakukan oleh Yah kepada dokter Tono pada kutipan pada sebagai berikut.

“Tono, Tono, aku menyanyi sebagus itu, karena hendak memikat hatimu, sebarang perbuatanku semata-mata untuk mengikat engkau teguh-teguh padaku. Aku tahu engkau seka bertukar pikiran, karena pikiranmu rusuh, aku pura-pura mendengarkan katamu, aku pura-pura suka berkata tinggi-tinggi, tapi sebenarnya aku geli. Perempuan seperti aku pandai memikat, Tono. Percayalah, aku perempuan jahat. Aku hendakkan engkau, karena engkau dokter. Lantaran aku, engkau berpisah dengan istrimu.” (hal. 149)


7.    Keterkaitan judul dengan cerita dalam Novel Belenggu
Judul Novel Belnggu mempunyai keterkaitan dengan cerita yang disajikan. Secara harfiah kata belenggu berarti sesuatu yang mengikat sehingga tidak bebas lagi. Hal tersebut menggambarkan tokoh Tono, Tini, dan Yah masing-masing terbelenggu dengan kehidupan masa lalunya. Tono yang telah beristri merasa terbelenggu dengan keadaan yang ada di sekitarnya dan masalalunya. Dia menikahi Tini bukan berdasarkan cinta namun hanya ingin menakhlukan niat Tini yang garang (Pradopo, 2002). Sedngkan wanita yang sebenarnya diidamkan sejak dulu adalah Yah yang akhirnya menjadi wanita yang diselingkuhinya. Perselingkuhan tersebut merupakan sebagai akibat dari Tono yang terbelenggu dengan sifat Tini yang tidak pernah menganggap Tono selayaknya sebagai suami. Tini tidak pernah melayani Tono seperti yang diinginkan Tono dalam kehidupan rumah tangganya. Misalnya seperti melepaskan sepatu, mengambilkan rokok, dan hal-hal kecil lainnya.
Begitu juga dengan apa yang dirasakan dengan Tini. Tini merupakan wanita modern yang menjunjung tinggi emansipasi wanita sehingga dia tidak mau hidupnya dibatasi oleh siapapun termasuk Tono sebagai suaminya. Tini yang juga tidak mempunyai rasa cinta kepada Tono saat menikah. Dia masih terbelenggu dengan masa lalunya yang pernah mencintai Hartono. Namun, Tini juga merasa bahwa Tono sebagai suaminya tidak pernah memperhatikan keluarganya sendiri. Tono hanya mengedepankan kepentingan para pasiennya. Maka dari itu Tini selalu menentang apa yang dilakukan oleh Tono seperti membuang alamat pasiennya yang telah menelepon.
  Yah yang merupakan salah satu masa lalu dari Tono juga mempunyai peristiwa yang menjadikannya terbelenggu. Tini yang mempunyai masa lalu pernah mencintai Tono ketika mereka sekolah di SMA. Namun, cintanya tersebut tidak kesampaian. Selain itu, Yah juga mengidamkan lelaki yang berprovesi sebagai dokter kelak akan menjadi suaminya. Kemudian dia dikawinkan dengan orang yang tidak dicintainya sehingga dia kabur dan melampiaskannya menajdi seorang pelacur. Hingga suatu hari dia bertemu dengan Tono yang telah menjadi dokter dan merasa tidak nyaman dengan keadaan keluarganya sekarang. Kesempatan itulah yang akhirnya membuat Tono dan Tini merasa cocok dan berselingkuh di belakang Tini. Pada akhirnya perselingkuhan tersebut diketahui oleh Tini dan membuat Tono dan Tini menjadi bercerai. Yah juga tidak mau melanjutkan hubungannya dengan Tono walaupun Tono sebenarnya mencintai Yah. Yah tetap meninggalkan Tono dan pergi keluar negeri.

D.                Kesimpulan
Novel Belenggu merupakan karya sastra mutakhir yang terbit menjadi karya sastra Pujangga Baru. Karya sastra ini menjadi karya yang diterima masyarakat karena ceritanya yang menarik hati para pembacanya. Selain itu, Armijn Pane sebagai pengarangnya mampu menuangkan ide-ide yang ingin disampaikan dengan baik dan diterima masyarakat.
Dalam Novel Belenggu, terdapat unsur instrinsik yang membangun cerita novel sehingga menjadi lebih menarik bagi pembacanya. Pembedahan unsur-unsur instrinisk dalam suatu karya sastra disebut dengan pendekatan struktural. Unsur-unsur tersebut meliputi tema, tokoh dan penokohan, plot atau alut, latar atau setting (tempat, waktu dan suasana), sudut pandang, dan moral. Semua unsur-unsur instrinsik tersebut saling mendukung untuk menyampaikan cerita dalam suatu karya sastra.
Setelah mengkaji Novel Belenggu, maka dapat ditemukan bahwa novel karya Armijn Pane tersebut bertema tradisional yaitu bertema tentang perselingkuhan seorang suami yang didasari pernikahan paksa. Tema tersebut dikategorikan menjadi tema tradisional karena tema tersebut dapat ditemukan dalam novel lain seperti Novel Salah Asuhan karya Abdul Muis.
Tokoh-tokoh yang menjalani cerita dalam Novel Belenggu yaitu dokter Sukartono, Sumartini (istri dokter Sukartono), Ny. Eni atau Yah (selingkuhan dokter Sukartono), Hartono (teman dokter Sukartono), Mardani (teman Tono dan Hartono), Mangunsucipto (paman Tini), Karno (bujang Tono), Abdul (sopir Tono), Puteri Aminah, Nyonya Sumardjo, dan yang lainnya. Penokohan masing-masing teokoh tersebut berbeda-beda karena masing-masing memilki peran tersendiri dalam membangun cerita dalam Novel Belenggu.
Alur atau plot yang ada dalam Novel Belenggu termasuk dalam alur maju karena menceritakan secara runtut kejadian-kejadian yang ada dalam novel. Novel Belenggu juga menceritakan dengan jelas bagian-bagian dari konflik, klimak yiatu pada saat perselingkuhan dokter Sukartono dan Ny. Eni diketahui oleh Sumartini.
Latar tejadinya cerita-cerita Novel Belenggu diantaranya dibagi menjadi latar tempat, waktu, dan suasana. Latar tempat diantaranya terjadi di rumah dokter Sukartono, rumah Ny. Eni yang lama, rumah Ny. Eni yang baru dan tempat-tempat lainnya. Latar waktu terjadi ketika malam dan siang hari. Kemudian untuk suasana yang mengiringi cerita Novel Belenggu yaitu suasana yang menggembirakan maupun menyedihkan.
Sudut pandang yang digunakan Armijn Pane untuk menyampaikan cerita Novel Belenggu yaitu menggunakan sudut pandang orang ke tiga serba tahu. Hal itu karena yang bercerita merupakan orang yang tidak terlibat dalam langsung sebagai tokoh dalam Novel Belenggu.
Moral-moral yang disampaikan sangat berkaitan sekali dengan kehidupan sehari-hari. Khususnya untuk para orang-orang dewasa yang telah menikah. Jadi mereka dapat mengambil nilai-nilai positif yang disampaikan dalam cerita untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai moral tersebut seperti pembelajaran untuk setia kepada pasangan, kejujuran mengakui kesalahan sendiri, dan lain sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA
Fananie, Zainuddin. 2000. Talaah Sastra. Surakarta: Muhamadiyah University Press.

Muis, Abdul. 2000. Salah Asuhan. Jakarta: Balai Pustaka.

Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Nursisto. 2000. Ikhtisar Kesusastraan Indonesia.Yogyakarta: ADICITA KARYA NUSA.

Pane, Armijn. 2008. Belenggu. Jakarta: Dian Rakyat.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2002. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Gama Media.

Rosidi, Ajip. 1969. Ichtisar Sedjarah Sastra Indonesia. Bandung: Percetakan GANACO.

Sayuti, A. Suminto. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media.

Suamardjo, Jacob. 1992. Lintasan Sastra Indonesia Modern Jilid 1. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.


Wiyatmi. 2009. Pengantar Kajian sastra. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.

1 komentar:

  1. dulu pas smp aku baca beginian lo mba (belenggu, dibawah lindungan ka'bah, azab dan sengsara) disuruh buat sinopsis .... baru tau kalo itu ternyata karya sastra terkenal

    BalasHapus