ANALISIS
NOVEL BELENGGU
KARYA
ARMIJN PANE
DENGAN
PENDEKATAN STRUKTURAL
Oleh Devi Artati
10201244039
A.
Pendahuluan
Armijn Pane lahir di kota Muara Sipongi,
Tapanuli Selatan, pada tanggal 18 Agustus 1908 (Sumardjo, 1992). Dia mengawali
pendidikannya di Hollandsislandse School (HIS) Padang Sidempuan dan Tanjung
Balai sekolah. Kemudian melanjutkan sekolahnya di Europese Lagere School (ELS),
yaitu pendidikan untuk anak-anak Belanda di Sibolga dan Bukittinggi. Dia juga
pernah sekolah kedokteran di STOVIA Jakarta pada tahun 1923. Kemudian dia
melanjutkan sekolah kedokterannya di Nederlands-Indische Artsenschool (NIAS) yang
didirikan pada tahun 1913 di Surabaya. Dia juga pernah sekolah AMS A-I (sastra
barat) di Solo yaitu sekolah yang bertumpu pada bahasa dan sastra (Rosidi,
1969: 41). Dia menamatkan sekolahnya pada tahun 1931 sehingga dia menjadi ahli
dalam hal tulis-menulis karya sastra.
Dalam perkembangan kesusastraan di
Indonesia, Armijn Pane termasuk dalam sastrawan angkatan Pujangga Baru. Dia terjun
dalam dunia sastra diawali dengan banyak mengirim karya-karyanya di majalah
Pujangga Baru. Saat itu dia banyak menulis esai, sajak, dan cerita pendek yang
kerap sekali dimuat pada majalah Pujangga Baru. Namun, dia selalu menggunakan
nama samaran seperti A.Pandji, A.Mada, A.Djawa, Adinata, Kasmoto, dan yang
lainnya (Sumardjo, 1992).
Armijn Pane banyak dipengaruhi oleh
sastrawan-sastrawan lain dalam menulis karya-karyanya. Sastrawan yang pernah
mempengaruhinya diantaranya adalah Noto Suroto sebagai penyair Jawa dalam
bahasa Belanda. Selain itu, yang pernah mempengaruhinya adalah Rebindranath
Tagore, Krisnamurti dan ajaran Theosofi (Sumardjo, 1992). Dia juga mendapat
pengaruh kuat dari Gerakan 80 di negeri Belanda sehingga dia kerap kali dituduh
sebagai sastrawan yang menggunakan bahasa Indonesia yang dipengaruhi bahasa
Belanda.
Banyak sekali
sastrawan Indonesia yang menghasilkan karya sastra yang begitu memukau
pembacanya. Bahkan dari hasil karya-karya sastra tersebut bisa menumbuhkan
kebangkitan dalam berbangsa bagi beberapa orang bangsa Indonesia. Karya sastra
karangannya yang paling terkenal yaitu roman yang berjudul Belenggu. Sebelum menulis romannya itu, dia banyak menulis cerpen,
sajak, esai, dan sandiwara (Rosidi, 1969).
Ada beberapa
karya sastra yang telah beredar di masyarakat. Karya sastra dalam bentuk drama
yaitu Jinak-jinak Merpati, Antara Bumi dan Langit, Nyai Lenggang Kencana, Lukisan Masa, dan Barang Tidak Berharga (Nursisto, 2000:
99). Semua karya sastra dalam bentuk drama tersebut telah dijadikan dalam satu
buku.
Hal yang menarik
dari Armijn Pane dan karyanya yaitu beberapa karyanya didasari rasa
kebangsaannya terhadap Negara Indonesia. Hal tersebut mencerminkan bahwa dia
merupakan orang yang punya rasa nasionalis tinggi. Rasa kebangsaan yang tinggi
tersebut diturunkan oleh ayahnya yang merupakan seorang politisi Indonesia.
Ayah Armijn Pane dulunya adalah seorang aktivis politik dan aktif dalam partai
Nasional pada masa pergerakan Nasional di Palembang. Hal itulah yang kemudian
diturunkan kepada anak-anaknya termasuk Armijn Pane.
Sebelum menulis
Novel Belenggu, Armijn Pane banyak
menulis karya sastra maupun karya ilmiah. Karya-karyanya berupa novel, cerpen,
esai, sajak, dan drama. Armijn Pane pernah menulis banyak cerpen yang ditulis
pada masa sesudah perang, kemudian cerpen-cerpen tersebut dijadikan kumpulan
cerpen yang berjudul Kisah Antara Manusia
yang diterbitkan pada tahun 1953 (Rosidi, 1969: 42).
Sebagian
pengalaman hidupnya juga mempengaruhi Armijn Pane dalam menciptakan karya
sastra. Pengalamannya yang pernah sekolah dalam bidang kedokteran mempengaruhi
beberapa tokoh yang ada dalam karyanya. Contohnya dokter Sukartono dalam Novel Belenggu. Karakter dokter yang dimiliki
oleh Armijn Pane terdapat dalam tokoh novel
walaupun digambarkan tidak sempurna selayaknya seorang dokter. Penggambarannya
hanya sebatas status dan karakter pekerjaan seorang dokter. Selain tokoh dokter
Sukartono, cerminan pribadinya juga ada terdapat pada tokoh-tokoh dalam naskah
drama Antara Bumi dan Langit.
Novel Belenggu merupakan salah satu novel yang
mempengaruhi sejarah sastra Indonesia. Menurut Rosidi (1969: 42), Novel Belenggu adalah sebuah roman yang
menarik karena yang dilukiskannya bukanlah gerak-gerik lahir tokoh-tokohnya
tetapi gerak-gerik batinnya. Pada Novel Belenggu
menceritakan berbagai macam masalah yang cukup komplek dalam kehidupan rumah
tangga. Tepatnya kehidupan rumah tangga dokter Sukartono dan Sumartini. Rumah
tangga yang mereka bina berjalan tidak harmonis karena antara dokter Tono dan
Tini bersikap acuh tak acuh satu sama lain. Dokter Tono menganggap Tini sebagai
wanita yang tidak pengertian kepada suaminya. Dia ingin Tini untuk selalu bisa
melayani apa yang diinginkan olehnya. Misalnya seperti menyambutnya saat pulang
dari bekerja. Namun, hal itu tidak dilakukan oleh Tini karena dia berprofesi
sebagai wanita modern maka dia berfikir bahwa seorang wanita atau istri tidak harus ada di rumah saja. Keinginan
dokter Tono tersebut yang tidak ada dalam diri istinya, Tini maka dia menjadi
tertarik pada salah seorang wanita bernama Nyonya Eni. Di mata dokter Tono
Nyonya Eni yang dikenalnya saat menjadi pasien adalah wanita yang bisa
membahagiakan dirinya, tidak seperti istrinya sendiri. Maka dari itu Dokter
Tono dan Yah menjalin hubungan terlarang dibelakang Tini. Nyonya Eni alias Yah
merupakan teman dokter Tono saat masih SMA dan pernah menyimpan perasaan kepada
dokter Tono. Namun, dokter Tono tidak mengenal Yah sebagai masalalunya. Di
kemudian hari Hartono dan dokter Tono bertemu kembali setelah sekian lama
berpisah. Mereka bersahat saat kuliah bersama di Malang. Ternyata fakta
mengungkapkan bahwa Hartono sebenarnya merupakan mantan pacar Tini yang amat
berkesan. Hal tersebut yang merupakan penyebab pernikahan antara dokter Tono
dan Tini menjadi tidak harmonis. Baik dokter Tono, Tini, maupun Yah sama-sama
terbelenggu dengan masa lalu mereka masing-masing sehingga tidak bisa menerima
satu sama lain. Akhirnya pernikahan dokter Tono dan Tini berakhir dengan
perceraian dan dokter Tono juga ditinggal oleh Yah ke luar negeri.
Berdasarkan
penjabaran cerita di atas, Novel Belenggu
memiliki banyak keistimewaan yang dapat menarik pembaca untuk mengkajinya. Unsur
pembangun yang berupa unsur instrinsik sangat mempengaruhi cerita yang akan
disampaikan kepada pembaca. Ketika membaca novel, segi struktur penceritaannya
lebih ditonjolkan (Pradopo, 2002). Hal itu karena novel merupakan karya sastra yang
sifatnya naratif. Unsur instrinsik yang ada dalam Novel Belenggu meliputi tema yang menjadikan suatu jalan cerita, tokoh
dan penokohan, alur, latar, sudut pandang dari penceritaan cerita dalam novel
dan moral yang disampaikan Armijn Pane kepada para pembaca. Semua unsur intrinsik
yang telah disebutkan merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan untuk
membentuk makna dalam cerita.
Kata
novel berasal dari bahasa Itali Novell, sedangkan
dalam bahasa Jerman disebut Novelle. Nurgiantoro
(2010) mengatakan bahwa secara harfiah Novella
berarti sebuah barang baru yang kecil. Kemudian Abrams (Nurgiantoro, 2010),
mengartikan novel sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa. Berdasarkan hal
tersebut maka kata Novelle atau Novella di Indonesia dikenal dengan
istilah novelette yang diserap dari
bahasa Inggris yaitu Novellet.
Novelet berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu
panjang, namun juga tidak terlalu pendek (Nurgiantoro, 2010).
Karya
sastra adalah suatu bentuk karya seni dari seseorang dalam bentuk tulis. Karya
sastra itu sendiri memiliki beberapa jenis. Jenis karya sastra sering disebut
juga dengan Genre sastra. Jenis atau
genre sastra ialah suatu hasil klasifikasi terhadap bentuk dan isi karya sastra
yang terdapat dalam realitas (Wiyatmi, 2009). Karya sastra terbagi dalam beberapa
jenis yaitu sebagai berikut.
Menurut
pandangan Aristoteles
(dalam Wiyatmi, 2009) dalam
teori-teorinya, karya sastra dapat berbentuk drama. Ada tiga kesatuan dalam
drama yaitu kesatuan waktu, kesatuan ruang dan kesatuan peristiwa. Berkaitan
dengan hal tersebut, Aristoteles mengungkapkan ada dua jenis sastra yaitu
bersifat cerita daan bersifat drama (Wiyatmi, 2009). Namun, ada tambahan lagi
mengenai jenis sastra. Selain dua jenis sastra yang diungkapakan oleh
Aristoteles, ada juga jenis karya sastra yang dikenal masyarakat yaitu jenis
puitik. Jenis puitik ini diungkapkan oleh Hartoko & Rahmanto dalam bukunya
(Wiyatmi, 2009). Jenis-jenis teks yang hidup dimasyarakat adalah puitik, drama,
dan teks naratif yang meliputi prosa, cerpen, novel atau roman.
Perbedaan
antara jenis-jenis karya sastra satu dengan yang lain sangat mencolok. Karya
sastra yang dibahas pada makalah ini lebih di vokus pada karya sastra yang
berbentuk novel. Perbedaan antara novel dengan karya sastra yang lain yaitu
sebagai berikut.
a.
Novel dengan
jenis-jenis puitik
Perbedaan
jenis karya sastra berupa novel dengan karya sastra berbentuk puitik bisa
didentifikasi dari bentuk fisiknya. Novel merupakan cerita yang disajikan secara
naratif dan terdiri dari beberapa urutan kejadian serta melibatkan beberapa
tokoh. Namun, pada karya sastra yang berbentuk puitik tidak memiliki ciri seperti
yang ada pada novel. Jenis karya sastra puitik sama-sama memiliki unsur instrinsik
namun pembangun antara novel dan puitik berbeda.
b.
Novel dengan cerpen
Pada
dasarnya karya sastra yang berbentuk novel dan cerpen sama-sama berupa cerita
atau karya fiksi. Perbedaan yang utama yaitu pada pada segi formalitas
bentuknya yang berupa panjang pendeknya cerita yang disajikan. Novel biasanya
terdiri dari ratusan halaman atau lebih. Sedangkan untuk cerpen sesuai dengan
namanya cerita pendek. Untuk ukuran panjang pendeknya belum ada ukurannya
tersendiri. Tapi Edgar Allan Poe (Nurgiantoro, 2010), menyatakan bahwa cerita
pendek adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira
berkisar antara setengah sampai dua jam yang sekiranya tidak mungkin dilakukan
untuk sebuah novel.
Dilihat
dari fokus cerita pada tokohnya, cerita yang disajikan pada novel cenderung lebih
panjang dan tokoh cerita yang disajikan tidak fokus pada satu tokoh saja. Novel
cenderung bersifat expands “meluas”,
sedangkan cerpen lebih mengutamakan intensitas yang menitikberatkan munculnya complexity “kompleksitas” (Sayuti,
2000). Sedangkan pada cerpen ceritanya lebih pendek dan ceritanya lebih fokus
pada satu tokoh saja.
Kesamaan
yang terdapat dalam novel dan cerpen adalah mereka sama-sama dibangun dengan
unsur-unsur cerita yang sama. Keduanya sama-sama mengandung unsur instrinsik
yang berupa tema, alur, plot, tokoh dan penokohan, sudut pandang dan lain-lain.
Sehingga cerpen dan novel dapat dianalisis dengan pendekatan yang sama.
B.
Pengkajian
Novel dengan Pendekatan Struktural
Pendekatan struktural adalah salah satu
pendekatan yang digunakan untuk membedah suatu karya sastra. Pendekatan
tersebut dipelopori oleh kaum Formalis Rusia dan Srukturalisme Praha.
Pendekatan stuktur sendiri mendapat pengaruh
langsung dari teori linguistik yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure (Fananie,
2000).
Menurut Teeuw (Pradopo, 2002), analisis
struktural itu kebulatan makna
instrinsik karya sastra dapat digali berdasarkan pemahaman tempat dan
fungsi unsur itu dalam suatu karya sastra. Unsur-unsur instrinsik dalam suatu
karya sastra juga mendukung untuk memahami makna dalam suatu karya sastra
sehingga perlu dianalisis secara mendalam.
Suatu
bentuk atau bahasa yang digunakan dalam karya sastra memiliki arti yang akan
disampaikan oleh penulis kepada pembaca. Pada karya sastra seperti novel, unsur
struktural tidak hanya dilihat pada kata dan bahasa saja, namun dapat juga
dikaji dengan melihat berbagai macam unsur-unsur pembangun karya sastra yang
berbentuk novel seperti tema, plot, karakter, sudut pandang, latar, moral yang disampaikan,
dll.
1.
Tema
Tema adalah ide, gagasan, pandangan
hidup pengarang yang melatarbelakangi penciptaan karya sastra (Fananie,
2000). Setiap tema pada suatu karya
sastra tidak diungkapkan secara langsung. Tema terletak secara implisit sehingga
pembaca harus mampu menafsirkan sendiri makna yang terkandung yang ingin
disampaikan oleh penulis melalui cerita-cerita yang disajikan. Tema dapat
ditemukan pada bagian-bagian tertentu dari suatu karya sastra seperti melalui
dialog tokoh-tokohnya, melalui konflik yang terjadi, melalui karakter tokoh,
ataupun komentar secara tidak langsung. Akhir cerita pada suatu karya sastra
juga menentukan tema. Tapi akhir dari setiap cerita tidak selalu tergantung
pada penulis saja. Akhir cerita yang menggantung berarti menyerahkan secara
utuh bagaimana akhir cerita suatu karya sastra kepada pembaca, sehingga temanya
tergantung kepada pembaca itu sendiri.
Tema dapat digolongkan menjadi beberapa
kategori berdasarkan sudut pandang Dikhotomis yaitu:
a)
Tema Tradisional adalah
tema yang merujuk pada tema yang bisa ditemukan dalam berbagai cerita, termasuk
cerita lama (Nurgiantoro, 2010). Misalnya cerita yang bertema (1) kebenaran dan
keadilan yang mengalahkan kejahatan, (2) tindak kejahatan walau ditutup-tututpi
pasti akan terbongkar juga, (3) tindak kebenaran maupun kejahatan masing-masing
akan mimetik hasilnya, (4) cinta yang sejati menuntut pengorbanan, dan
tema-tema yang lain.
b)
Berdasarkan pendapat
Nurgiantoro (2010: 79) menyatakan bahwa tema Nontradisional adalah tema yang
bersifat tidak lazim dan tidak sesuai dengan harapan pembaca. Biasanya tema
nontradisional bersifat melawan arus, mengejutkan, menyebalkan, dan tidak biasa
terjsadi dalam kehidupan masyarakat sebenarnya. Misalnya, jalan cerita yang
menceitakan tentang kejujuran justru membuat suatu kehidupan menjadi keruh atau
berantakan. Jalan cerita lebih melindungi kejahatan daripada kebenaran. Hal
tersebut menyatakan adanya ketidakwajaran tema yang diangkat sehingga tema-tema
tersebut di sebut tema Nontradisional.
2.
Tokoh dan Penokohan
Tokoh merupakan
para pelaku yang ada dalam suatu novel atau cerita fiksi lainnya. Menurut
Abrams (Nurgiantoro, 2010) tokoh cerita adalah orang-orang yang ditampilkan
dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki
kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam
ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Tokoh bersifat imajinatf karena pada dasarnya merupakan rekaan
penulisnya saja. Namun, tokoh fiktif tersebut harus seorang tokoh yang hidup
secara wajar, sewajarnya kehidupan manusia di dunia. Tokoh-tokoh pada cerita fiksi fungsinya tidak
hanya sebagai pelaku dalam cerita saja, namun sebagai alat untuk menyampaikan
ide atau gagasan, tema, alur, serta moral dari penulis kepada pembacanya.
Abrams (Fananie, 2000) mengatakan bahwa untuk menilai karakter tokoh dapat
dilihat dari apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan tokoh itu sendiri. Tokoh
cerita merupakan unsur dari karya sastra berupa fiksi yang bertugas sebagai pembawa
dan menyampaikan pesan, amanat, moral, dan segala sesuatu yang ingin disampaikan
pengarang kepada pembaca.
Unsur tokoh dan
penokohan sangat penting untuk membangun sebuah cerita fiksi karena saling
berkaitan dengan unsur-unsur yang lain. Penokohan dan Pemplotan satu sama lain
saling berkaitan erat. Dalam membangun sebuah cerita, pemplotan sangat penting,
namun tokoh-tokoh cerita akan lebih menarik perhatian pembaca. Plot hanya
sarana untuk memahami jalan cerita (Nurgiantoro, 2010). Maka dari itu, untuk menunjukan
jati diri dan kehidupan tokoh dalam cerita perlu ada alur (plot) perjalanan
hidup dari tokoh-tokoh tersebut.
Keterkaitan
tokoh dengan tema juga tidak kalah pentingnya. Tema merupakan dasar cerita dari
sebuah jalan cerita dalam novel. Dalam fiksi tema bersifat mengikat dan
bersifat menyatukan unsur-unsur fiksi yang lain. Melalui tokoh-tokoh itu, tema
yang dijunjung dalam cerita dapat tersampaikan kepada pembaca.
Setiap tokoh
dalam cerita mempunyai watak untuk membangun cerita dalam novel. Watak dapat diwujudkan
dengan bermacam-macam cara penokohan seperti yang diungkapkan oleh S. Tasrif (Pradopo,
2002) yaitu (a) Lukisan
bentuk lahiriyah dari tokoh itu sendiri (Physical
description), (b)
Lukisan jalan pikiran atau apa yang melintas dalam pikiran
tokoh (portrayal of thoughtor stream of
consciousness), (c) Reaksi
terhadap peristiwa (reaction of event), (d) Analisis watak secara
langsung (direct author analysis), (d) Lukisan keadaan sekitar
tokoh (discussion of environment), (e) Reaksi-reaksi pelaku
lain terhadap tokoh (reaction of others
to character).
3.
Latar / Setting
Latar
atau setting cerita merupakan unsur
pembangun yang penting yang mengiringi jalan cerita. Walaupun setting atau latar dimaksudkan untuk
mengidentifikasi situasi yang tergamar dalam cerita, keberadaan elemen setting hakikatnya tidak sekedar
menyatakan dimana, kapan, dan bagaimana situasi peristiwa berlangsung, melainkan
berkaitan juga dengan tradisi, karakter, perilaku sosial, dan pandangan
masyarakat pada waktu cerita ditulis (Fananie, 2000: 98). Fungsi setting atau latar itu sendiri tidak
bisa terpisah dari unsur pembangun karya sastra yang lain karena merupakan satu
kesatuan yang saling menentukan.
Setting
atau latar yang berhasil adalah harus terintegrasi dengan tema, watak, gaya,
implikasi atau kaitan filosofinya (Sumardjo, 1986: 76). Untuk mengetahui
ketepatan setting atau latar dalam
suatu karya sastra dapat dilihat dari beberapa indikator. Abrams (Fananie,
2000) menyebutkan ketiga indikator tersebut, yaitu (1) General
local (tempat terjadinya peristiwa), (2) Historical
time (saat terjadinya peristiwa itu), (3) Social circumstances
(situasi sosialnya). Berdasarkan berbagai macam indikator tersebut maka pembaca
tahu sejauh mana kewajaran dari setting
atau latar karya sastra dengan peristiwa/situasi yang terjadi dikalangan
masyarakat saat itu.
Ada unsur-unsur yang membangun sebuah latar
dalam cerita. Menurut Nurgiantoro (2010) menjelaskan bahwa unsur-unsur tersebut
adalah (1) Latar tempat,
merupakan lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi, (2) Latar waktu, berkaitan
dengan “kapan” peristiwa dalam karya sastra itu terjadi, (3) Latar sosial, mengungkapkan
tentang perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tampat yang diceritakan
dalam karya fiksi. Hal itu bisa berupa adat-istiadat, kebiasaan hidup, tradisi,
keyakinan, atau pandangan hidup.
4.
Alur / Plot
Alur atau plot adalah salah satu unsur
instrinsik yang membangun sebuah karya sastra berupa novel. Unsur-unsur
tersebut saling berkaitan untuk menyampaikan cerita kepada pembaca. Pada
kegiatan pengkajian plot atau alur ini digunakan untuk mengetahui peristiwa apa
saja yang terdapat dalam cerita novel. Menurut Staton (Wardani, 2009)
menyatakan bahwa plot adalah deretan peristiwa yang disusun berdasarkan hubungan
sebab akibat. Peristiwa yang terjadi dalam deretan cerita merupakan sebuah
akibat dari peristiwa yang sebelumnya. Staton (Nurgiantoro, 1995) juga
mengatakan bahwa plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun
kejadian-kejadian tersebut hanya dihubungkan secara sebab akibat. Begitu juga
dengan Foster yang mengemukakan bahwa plot adalah peristiwa-peristiwa dalam
cerita novel yang mempunyai penekanan pada adanya kausilitas. Selain itu Foster
(Nurgiantoro, 1995) mengemukakan bahwa plot bersifat misterus dan intelektual.
Pembaca harus mempunyai pemikiran yang intelektual untuk bisa memahami dan
menebak plot yang ada dalam cerita novel. Jadi pada dasarnya plot adalah
serangkaian peristiwa yang terjadi dalam cerita fiktif yang mengantarkan pembaca
ke dalam jalan cerita.
Pemahaman dan penghayatan pada sebuah
novel sangat tergantung sekali terhadap plot/alur yang disajikan oleh penulis. Kesederhanaan
plot/alur dalam sebuah novel akan mempermudah pembaca dalam memahami cerita
dalam novel. Sedangkan plot yang sulit akan mengurangi pemahaman pembaca
terhadap cerita. Namun, biasanya kesulitan penyajian plot dalam sebuah cerita
akan menjadi sebuah karakteristik gaya penulisan karya sastra.
Dalam mengembangkan plot dalam
cerita, maka ada tiga unsur yang harus diperhatikan. Unsur-unsur tersebut
adalah peristiwa, konflik, dan klimaks. Ketiga unsur tersebut saling berhubungan
satu sama lain.
a)
Peritiwa
Luxemburg (Nurgiantoro, 2010) menyatakan
bahwa peristiwa merupakan peralihan dari suatu keadaan yang lain. Maka pembaca
harus mampu membedakan kalimat-kalimat yang mengandung peristiwa ataupun tidak.
Berdasarkan hal tersebut maka ada pembagian peristiwa menjadi tiga yaitu
peristiwa Fungsional, peristiwa kaitan, dan peristiwa acuan.
Peristiwa fungsional adalah
peristiwa-peritiwa yang menentukan atau mempengaruhi perkembangan plot itu
sendiri. Peristiwa kaitan adalah peristiwa-peristiwa yang yang berfungsi
mengaitkan peristiwa penting dalam cerita yang disajikan. Peristiwa acuan
adalah peristiwa yang tidak secara langsung berpengaruh dan atau berhubungan
dengan perkembangan plot, namun mengacu pada unsur-unsur lain.
b)
Konflik
Konflik adalah sebuah kejadian yang bisa
menjadi pusat perhatian pembaca. Konflik juga merupakan masalah yang sangat
berpengaruh dalam pengembangan plot. Wallek dan Werren (Nurgiantoro, 2010) menyatakan
bahwa konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara
kedua kekuatan yang seimbang menyiratkan adanya aksi balasan. Bentuk peristiwa
yang berupa konflik dapat berupa konflik batin dan konflk fisik. Maka dari itu,
Staton (Nurgiantoro, 2010) mengatakan bahwa konflik merupakan bentuk kejadian
yang dapat dibedakan menjadi dua kategori yaitu konflik fisik dan konflik
batin, konflik eksternal dan konflik internal.
c)
Klimaks
Staton (Nurgiantoro, 2010), mengatakan
bahwa klimaks telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan saat hal itu
merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari kejadiannya. Klimaks merupakan
puncak dari konflik yang ada dalam cerita dan menentukan bagaimana solusi yang
digunakan untuk menyelesaikan konflik tersebut.
5.
Sudut pandang
Staton (Nurgiantoro, 2010) menggolongkan
sudut pandang atau point of view merupakan salah satu unsur fiksi yang
digunakan sebagai sarana cerita. Ada tidaknya sudut pandang mempengaruhi
penyajian cerita untuk mempermudah pemahaman pembaca. Penyudut pandangan
menurut Abrams (Nurgiantoro, 2010), adalah cara dan atau pandangan yang
digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan
berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada
pembaca. Pada hakikatnya sudut pandang hanyalah sebuah strategi pengarang untuk
menyampaikan cerita kepada pembaca sehingga semua gagasan dan ide-ide yang ada
dalam pikiran pengarang bisa tertuang lewat cerita tersebut dengan
masing-masing gayanya.
Sudut pandang cerita secara garis
besar dapat dibedakan ke dalam dua macam (Nurgiantoro, 2010) yaitu persona
pertama (first person). Biasanya
menggunakan gaya “aku” sebagai pencerita. Sudut pandang yang ke dua yaitu
persona ke tiga (third-person), yang
bercerita adalah sosok orang lain selain tokoh dalam cerita yang biasa disebut
“dia”. Pengarang mempunyai kebebasan yang tidak terbatas untuk menuangkan
cerita melalui sudut pandang yang dikehendaki dan yang paling efektif.
Pemilihan
sudut pandang dalam menyajikan sebuah cerita menjadi penting karena hal itu
berhubungan dengan gaya baik retorika maupun gramatikanya. Teknik penyajian
sudut pandang tertentu akan lebih efektif jika diikuti oleh pemilihan bentuk
gramatika dan retorika yang sesuai (Nurgiantoro, 2010). Penyajian sudut pandang
juga digunakan untuk menyampaikan nilai-nilai, sikap, dan pandangan hidup
pengarang selain dituangkan dalam tokoh dalam cerita itu sendiri.
Macam-macam
sudut pandang menurut Nurgiantoro (2010) yaitu :
1)
Sudut Pandang Persona
Ke Tiga
Pengisahan
cerita yang mempergunakan sudut pandang persona ketiga, menggunakan gaya “dia”.
Narator cerita adalah seseorang yang berada di luar cerita yang menampilkan
tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama tokoh atau sebutan ia, dia, dan mereka.
Sudut pandang “dia” dapat dibedakan menjadi beberapa golongan berdasarkan
tingkat kebebasan dan keterikatan pengarang terhadap bahan ceritanya. (a) Narator dapat dengan
bebas menceritakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tokoh “dia”. Jadi
narator tersbut bersifat mahatahu (“dia” mahatahu), (b) Menurut Staton
(Nurgiantoro, 2010), sudut pandang “dia” terbatas hanya mengetahui sebagaian
dari apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikir, dan dirasakan oleh tokoh
cerita.
2)
Sudut Pandang Persona Pertama:
“Aku”
Dalam
sudut pandang ini narator terlibat langsung dalam cerita yang disajikan. Jadi
selain sebagai pencerita juga sebagai tokoh sekaligus dalam cerita. (a) “Aku” Tokoh utama. Teknik penggunaan sudut
pandang ini, “aku” mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang
dialaminya. (b) “Aku”
Tokoh Tambahan. Tokoh
“aku” hadir untuk membawakan cerita kepada pembaca. Sedangkan tokoh utama dalam
cerita menceritakan sendiri tentang berbagai macam pengalamannya.
3)
Sudut Pandang Campuran
Penggunaan
sudut pandang dalam sebuah cerita berupa penggunaan sudut pandang persona
ketiga dengan teknik “dia” mahatahu dan “dia” sebagai pengamat, persona pertama
dengan teknik “aku” sebagai tokoh utama dan “aku” tambahan sebagai saksi,
bahkan dapat berupa campuran antara persona pertama dan ketiga antara “aku” dan
“dia” sekaligus.
6.
Moral
Moral merupakan sesuatu yang ingin
disampaikan penulis kepada pembaca yang harapannya bisa dijadikan pembelajaran
hidup bagi pembaca. Menurut KBBI (2008) moral merupakan ajaran baik buruk yang
diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban. Dapat juga diartikan
sebagai akhlak, budi pekerti, susila. Pengertian yang lain yaitu kondisi mental
yang membuat orang tetap semangat, bergairah, berdisiplin, bersedia berkorban,
menderita, menghadapi bahaya, atau merupakan isi hati atau keadaan perasaan
sebagaimana terungkap dalam perbuatan.
Menurut Nurgiantoro (2010), moral dalam
karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan,
pandangan tentang nilai-nilai kebenaran dan hal itulah yang ingin disampaikan
pengarang kepada pembaca melalui cerita yang disajikan tersebut. Kenny (Nurgiantoro,
2010), mengungkapkan bahwa moral dalam cerita biasanya dimaksudkan sebagai
suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat
praktis, yang dapat diambilkan dan ditafsirkan melalui cerita yang bersangkutan
kepada pembaca.
C.
Kajian
Novel Belenggu Menggunakan Pendekatan
Struktural
1.
Tema dalam Novel Belenggu
Tema
merupakan ini atau pokok pikiran dalam suatu cerita. Tema juga digunakan
sebagai penentu semua unsur-unsur dalam suatu cerita. Tema yang digambarkan
dari Novel Belenggu ini adalah
kehidupan rumah tangga suami-istri (manusia modern) tidak dapat bahagia karena
masing-masing tidak dapat menerima apa yang telah ada. Mereka terikat dengan
angan-angan masa lalu dan peristiwa masa lalu yang tidak terwujud (Pradopo,
2002). Hal itu terlihat pada keseluruhan jalan cerita antara Tono dan Tini
tidak seperti hidup berkeluarga pada umumnya namun saling membenci dan tidak
mendukung satu sama lain.
Penggolongan
tema berdasarkan sudut pandang dikhotomis dapat dibedakan menjadi tema tradisional
dan nontradisional. Jika melihat jalan cerita yang disampaikan dalam Novel Belenggu maka tema yang membangun jalan
cerita novel tersebut adalah kehidupan keluarga yang tidak harmonis. Tema
tersebut termasuk dalam tema tradisional. Hal itu karena ketidakharmonisan
keluarga yang dibangun oleh dokter Tono dan Tini. Dalam keluarga mereka selalu
ada konflik yang mengakibatkan mereka berdua selalu tidak akur layaknya
keluarga. Konflik yang ada dalam novel tersebut adalah adanya perselingkuhan
yang dilakukan Tono. Hal itu sebagai akibat dari masing-masing mereka yang
saling acuh tak acuh sebagai suami istri. Perselingkuhan yang dilakukan oleh
dokter Tono dengan Yah tersebut diketahui oleh Tini, sehingga mengakibatkan
perceraian antara suami istri tersebut. Akhir cerita pun Tono ditinggalkan oleh
kedua wanita yang pernah bersamanya yaitu Tini dan Yah. Berdasarkan cerita
tersebut maka dapat disimpulkan bahwa setiap keburukan pasti akan mendapat
imbalan yang sesuai.
Kategori
tema yang tradisional adalah tema yang diangkat dalam cerita dapat ditemukan
dalam cerita lain. Tema yang ada dalam Novel Belenggu termasuk dalam tema tradisional. Jalan cerita pada novel
tersebut masih mengangkat tentang tema bahwa setiap keburukan pasti akan mendapat
imbalan yang sesuai. Hal itu bisa ditemukan dalam cerita novel lain seperti
pada Novel Salah Asuhan karya Abdul
Muis. Kesamaan tersebut terlihat ketika sebuah keluarga yang hancur karena adanya
orang ketiga.
Dalam
Novel Belenggu, Tono merasa tidak puas
dengan istrinya, Tini. Kemudian dia mencari sosok wanita yang bisa
membahagiakan dia dan berlaku seperti apa yang dia inginkan. Tono menemukan Yah
(Ny. Eni) yang merupakan temannya waktu kecil sekaligus pasiennya. Mereka pun
manjalin hubungan terlarang. Namun, pada akhirnya hubungan mereka diketahui
oleh Tini dan keluarga mereka bercerai walaupun sebenarnya Tono tidak menginginkan
hal itu. Tono pun ditinggalkan oleh Tini maupun Yah. Dibandingkan dengan Novel Salah Asuhan tidak jauh berbeda tema
yang diangkat. Hanafi sebagai bangsa Indonesia yang selalu merendahkan
bangsanya sendiri karena dia selalu mengagungkan bangsa Belanda. Hal tersebut
karena dia jatuh cinta kepada wanita keturunan Belanda bernama Corry. Karena
mengejar cinta Corry, Hanafi pergi ke Jakarta dan meninggalkan anak dan
istrinya serta keluarganya di Minangkabau dan disana dia memang bisa bersatu
dengan Corry. Namun, berbagai aral melintang menghampiri keluarga Corry dan
Hanafi. Diakhir cerita Corry meninggal. Hanafi pulang kembali ke Minangkabau,
namun hanya ibunya yang mau menerima Hanafi kembali. Oleh karena itu, Hanafi
akhirnya meninggal karena over dosis.
2.
Tokoh dan Penokohan
pada Novel Belenggu
Selain
berbicara tentang tokoh-tokoh yang ada dalam cerita, dalam hal ini juga
membicarakan tentang karakteristik masing-masing tokoh. Setiap tokoh yang ada
dalam cerita pasti memiliki ciri perwatakan. Secara umum perwatakan dalam suatu
cerita dibagi menjadi dua yaitu tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Tokoh protagonis merupakan tokoh utama dalam
suatu cerita. Sedangkan tokoh antagonis adalah tokoh yang bersifat menentang
tokoh utama dalam cerita.
Tokoh
protagonis dalam Novel Belenggu yaitu
Tono (Sukartono) karena Tono menjadi sorotan utama yang selelu dibicarakan
dalam novel. Tono juga sebagai pangkal utama yang menjadikan adanya konflik
yang membangun cerita novel. Hal itu karena setiap peristiwa dalam cerita pasti
melibatkan tokoh Tono.
Tokoh
antagonis dalam Novel Belenggu yaitu
Tini (Sumartini) sebagai istri Tono dan Yah (alias Ny. Eni atau Siti Rohayah
atau Siti Hayati) kekasih Tono. Tokoh Tini selalu menentang apa yang dilakukan
oleh Tono. Tokoh
Yah juga termasuk dalam salah satu tokoh antagonis dalam Novel Belenggu. dalam cerita Yah yang tidak
pada jalan yang benar. Ketika Yah tahu bahwa Tono telah beristri tapi dia tetap
mau menjadi kekasih Tono sehingga menimbulkan masalah dalam keluarga Tono dan
Tini.
Ada
juga tokoh-tokoh lain yang merupakan tokoh pembantu yang fungsinya untuk
memperjelas jalan cerita dalam menyelesaikan masalah dan konflik-konflik yang
ada. Tokoh-tokoh pembantu tersebut diantaranya Hartono (teman Tono di SMA dan
bekas kekasih Tini), Mardani (teman Tono dan Hartono), Mangunsucipto (paman
Tini), Karno (bujang Tono), Abdul (sopir Tono), Puteri Aminah, Nyonya Sumardjo,
dan tokoh lain sebagai teman seprovesi dengan Tini (Pradopo: 2002).
Perwatakan
dalam Novel Belenggu dapat ditentukan
dengan teknik analitik dan dramatik. Misalnya deskripsi fisik Tini yang cantik,
suka bersolek, memakai rouge di bibir dan pipi untuk menunjukan Tini sebagai
ratu pesta yang menarik para pemuda hingga akhirya dapat menarik Tono dan
dijadikan istri (Pradopo, 2002). Penggambaran secara fisik untuk tokoh Tini
terdapat pada kutipan sebagai berikut.
“…
diamat-amatinya sebentar badan yang terlentang itu, molek, karena suka sport
dahulu. Tetapi, nafsunya tiada tertarik, tiada berkobar seperti dahulu. Sambil
menuju ke kursinya, dia berfikir: badannya masih cantik. Memang Tini cantik,
pandai memakai sembarang pakaian. Suka mata memandang dia.” (hal. 61)
Tokoh Tini yang
bersifat suka menentang suaminya sendiri juga dikemukakan secara eksplisit pada
kutipan sebagai berikut.
“Sukartono
terkejut, memendang kearah istrinya, tetapi ia sudah berpaling lagi, menuju ke
kamar tidur. Menyala-nyala dalam hatinya, hendak terhambur kata marah dari
mulutnya …ah, alangkah cantiknya, ramping langsir, sikapnya menantang demikian
itu.” (hal. 19)
Selain
watak-watak Tini di atas, masih ada watak yang dapat terlihat dari tingkah laku
yang dilakukan Tini kepada tokoh-tokoh lain. Misalnya seperti pada saat Tini
berbincang dengan Nyonya Rusdio. Tini mengutarakan kecemburuannya kepada Nyonya
Rusdio karena dia mengetahui bahwa sebenarnya Nyonya Rusdio mempunyai perasaan
kepada suaminya. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut.
“Ada
yang hendak ibu katakana, bukan ibu?” kata Tini, sambil duduk dihadapan Nyonya
Rusdio. “ katakanlah ibu, saya dengarkan. Tentu saya yang disalahkan, karena
ibu saying akan suami saya.”
Kata
“suami saya” itu ditekannya, seolah-olah hendak mengatakan, yang hendak engkau
singgungperkara kami sendiri. Nyonya Rusdio merasa juga akan maksud perkataan
Tini itu. Dia tahu Tini tiada terlalu suka akan dia. Entah apa sebabnya. …”.
(hal. 55)
Deskripsi
tokoh Tini di atas juga dapat menimbulkan reaksi-reaksi pelaku-pelaku lain,
misalnya pelaku wanita dalam cerita yang kerap menggunjingkan ketidakcocokan
antara Tono dan Tini setelah mereka berdua manikah.
Perwatakan
pada Yah atau Ny. Eni yang dapat di deskripsikan secara fisik yaitu Yah yang
berparas cantik dan menarik bagi kaum lelaki serta membuat orang nyaman berada
di dekatnya. Dia penyayang dan banyak lelaki tertarik termasuk Tono sehingga
terjadilah perselingkuhan antara Tono dan Yah. Kepribadian Yah dapat di ketahui
melalui deskripsi yang diungkapkan Tokoh dokter Tono ketika membandingkan
dengan sifat istrinya sendiri. “Pikirannya melayang kembali ke Yah, yang baru
ditinggalkan. Benar-benar perempuan, ramah-tamah, pandai bergurau,
bercumbu-cumbu.” (hal. 61)
Watak
Ny. Eni atau yang suka dipanggil Yah itu juga memiliki sifat perhatian.
Perhatian Yah itu dia berikan kepada dokter Tono seakan-akan mengetahui apa
yang diinginkan oleh Tono. Hal tersebut dapat diketahui melalui gerak-gerik Yah
yang dia lakukan kepada dokter Tono yang diungkapkan melalui kutipan percakapan
sebagai berikut.
“ …
dia tiada menunggu jawab dokter Sukartono, dengan segera ditinggalkannya.
Sesudah disangkutkannya baju itu dia kembali, lalu berlutut dihadapan
Sukartono, terus ditanggalkannya sepatunya, dipasangkannya sandal yang
diambilnya dari bawah kursi Sukartono.” (hal. 34)
Perwatakan
tokoh dokter Tono disampaikan secara eksplisit oleh penulis yaitu dokter Tono
yang memiliki sifat tanggung jawab terhadap keluarganya, rajin belajar ketika
masih sekolah kedokteran, tidak mudah mengalah atau putus asa, dan lain-lain. Hal
tersebut disampaikan penulis melalui kutipan cerita sebagai berikut.
“pikiran
kawan-kawannya akan terkabul, sukartono akan patah di tengah jalan, kalau suatu
ketika tiada surat dari saudaranya., mengatakan anaknya masih banyak yang perlu
juga diteruskan pelajarannya, karena dia tahu, lebih bijaksana kalau perasaan
tanggungjawab Sukartono disinggung. Saudaranya tahu, sejak kecil, memang sudah
begitu tabiat Sukartono. Memang perasaan tanggung jawab keras padanya. Maka
sejak Kartono menerima surat saudaranya itu, kawan-kawannya heran melihat
Sukartono rajin belajar, tiada pernah kalah-kalah, bahkan selalu menang ujian
dengan mendapat pujian …”. (hal. 24)
Adanya
penokohan dari setiap tokoh itu saling berkaitan erat dengan unsur-unsur
instrinsik lain misalnya seperti berkitan dengan plot serta amanat atau moral
yang akan disampaikan kepada pembaca. Hal itu sangat bisa terlihat sekali pada
Novel Belenggu karya Armijn Pane.
Perwatakan dari tokoh dokter Tono yang mulanya setia kepada istrinya, Tini. Namun,
karena dia yang tidak mempunyai pendirian yang mantap maka dia mencari sosok
wanita lain yang dapat membahagiakan dirinya. Dia pun memilih Yah sebagai
wanita yang bisa membahagiakan dirinya. Perubahan sifat Tono tersebut yang
mengantarkan konflik dalam plot yang terjadi dalam Novel Belenggu ini. hal tersebut membuktikan adanya keterkaitan antara
penokohan atau karakteristik dari tokoh yang mendukung terjadinya plot dalam
suatu cerita fiksi.
3.
Plot atau Alur
Alur
cerita Novel Belenggu termasuk dalam
alur maju. Hal tersebut dapat diketahui melalui jalan cerita yang runtut dalam
Novel Belenggu. Namun, di tengah
cerita terselip alur mundur (flashback)
karena menceritakan kembali masa lalu dari tokoh.
Penjelasan
secara sederhana tentang alur dalam Novel Belenggu
yaitu cerita di mulai ketika kehidupan keluarga Tini dan Tono yang tidak
harmonis karena saling mengedepankan
keinginan masing-masing. Tini sebagai wanita modern, tidak ingin
terkekang dengan kehidupan dalam keluarga saja sedangkan Tono menginginkan Tini
menjadi seorang istri yang seutuhnya. Ketidakharmonisan dalam keluarga mereka
juga di pengaruhi dengan kisah cinta yang telah menjadi masa lalu mereka yang kemudian
kehidupannya saat ini. Pada peristiwa tersebut sudah menimbulkan adanya masalah
yang timbul dalam cerita Belenggu.
Beranjak
menuju konflik yang menjadi masalah yaitu setelah Tono yang tidak merasa nyaman
berada dalam berkeluarga dengan Tini maka dia mencari sosok wanita yang bisa
mengayomi dirinya. Wanita tersebut bernama Yah atau Ny. Eni yang merupakan
pasiennya. Wanita tersebut merupakan pelacur dan ternyata merupakan salah satu
temannya saat sekolah di bangku SMA. Yah juga merupakan salah satu wnita yang
pernah Tono cintai saat belum bertemu dengan Tini. Begitu juga dengan Yah yang
sempat memendam rasa cintanya kepada Tono sejak dulu. Saat itu Tono merasa
nyaman ketika bersama Yah. Meraka menjalin hubungan tanpa sepengetahuan Tini.
Konflik
memuncak ketika hubungan Tono dan Yah diketahui oleh Tini. Tini merasa jengkel
dan akan menemui Yah yang telah merusak rumah tangganya. Namun Tini sadar bahwa
Yah adalah wanita yang memang bisa membuat lelaki akan merasa nyaman ada
bersamanya termasuk suaminya, Tono. Tidak seperti dirinya yang selama ini apa
yang dilakukannya kepada Tono. Tini memutuskan untuk menceraikan Tono, begitu
juga dengan Yah yang akhirnya meninggalkan Tono keluar negeri karena dia merasa
bahwa dirinya tidak pantas untuk menjadi istri Tono.
4.
Latar cerita Novel Belenggu
Beberapa latar
cerita terdapat pada Novel Belenggu . Latar-latar
tersebut dapat mendukung jalan cerita sehingga pesan atau makna dapat
tersampaikan kepada pembaca.
a)
Latar tempat
Ada
beberapa tempat yang digunakan dalam melangsungkan cerita dalam Novel Belenggu. Latar tempat yang pertama
yaitu cerita terjadi di rumah dokter Tono dan Tini. Latar tempat yang berada di
rumah ini mempengaruhi jalan cerita dalam novel. Latar rumah tersebut merupakan
tempat dimana Tono dan Tini bertemu dan bertengkar yang membuat terjadinya
konflik dalam cerita. Hal tersebut terdapat pada kutipan berikut ini.
“Seperti
biasa, setibanya di rumah lagi, dokter Sukartono terus saja menghampiri meja kecil,
di ruang tengah, di bawah tempat telepon.
Ah,
mengapa pula ditaruhnya disini. Diangkatnya barang sulaman istrinya di atas
meja, akan mencari bloc-note, tempat mencatat nama orang kalau ada yang
meneleponnya, waktu dia keluar.” (hal. 15)
Selain itu latar tempat juga terjadi di Hotel kamar
nomor tiga tampat Yah tinggal sebagai tempat pertama kalinya Tono dan Yah
bertemu. Berkaitan dengan plot yang ada
dalam cerita maka, tempat tersebut merupakan awal dari timbulnya benih-benih
cinta Yah dan Tono yang akhirnya mereka menjalin hubungan terlarang di belakang
Tini. Hal tersebut terdapat pada kutipan yaitu sebagai berikut.
“Dibelakangnya,
di dalam kamar nomor lima terdengar suara perempuan, tertawa karena geli,
diiringi suara laki-laki terbahak-bahak. Diketoknya pintu tertutup itu, maka
kedengaran suara nyaring: “ya…” sebentar lagi kedengaran orang turun dari
tempat tidur, lalu suara sandal terseret menghampiri pintu, maka Sukartono
berhadapan dengan perempuan montok berpakaian kimono, yang di tutupkannya dengan
tangan kirinya.” (hal. 20)
Latar
tempat yang selanjutnya adalah di rumah ke dua Yah (Ny. Eni) yaitu Gang Baru
No. 24. Seperti yang terdapat dalam kutipan surat Yah kepada dokter Tono untuk
memberitahukan rumahnya yang baru yaitu “Saya sudah pindah ke Gang Baru No. 24.
Kalau tuan dokter kebetulan lintas disana, sukalah mampir di rumah saya, bekas
patient tuan dokter.” Latar rumah ini selanjutnya dijadikan tempat Yah dan
dokter Tono bertemu. Rumah ini juga dijadikan dokter Tono untuk beristirahat
dan menemukan kedamaian yang tidak ditemukan di rumahnya sendiri. Hal tersebut
terungkap dalam kutipan sebagai berikut.
“Sehabis
payah praktijk, Kartono bisalah pergi ke rumahnya yang kedua akan melepaskan
lelah. Pikirannya tenang kalau disana. Disanalah pula dia acapkah membaca
majalah dan bukunya yang perlu dibaca, sedang Yah lagi asyik merenda.
Mula-mulanya masih merasa berbuat salah dalam hatinya terhadap istrinya.
Bukankah berbohong namanya itu? tetapi pikirnya pula: “kalau kulepaskan Yah,
kemana perginya nanti?” lambat laun pertanyaan itu berubah menjadi: “kalau dia
pergi apa jadinya aku? Dimana aku mendapat tempat damai?” (hal. 41)
b)
Latar waktu
Terdapat latar
waktu malam hari pada Novel Belenggu.
Latar waktu tersebut di ungkapkan secara eksplisit dalam percakapan dokter Tono
dan Nyonya Eni yaitu sebagai berikut “Selamat malam, tuan dokter. Sangka saya
tiada akan selekas ini bersua lagi dengan tuan. Kebetulan ada patient didekat
sini, dokter?” tanya menjeling.” (hal. 33)
Berikut ini juga
digambarkan waktu malam hari ketika Tini menunggu dokter Tono pulang ke rumah
yang terdapat dalam kutipan sebagai berikut.
“Tini
lagi berbaring di sofa membawa buku. Kedua belah tangannya memegang buku itu ke
atas, supaya terang kena cahaya lampu dari belangnya. Kepalanya berbantalkan
tiga buah bantal sofa , supaya tinggi, badannya seolah-olah setengah
bersandarkan bantal itu. biasanya dia sudah tidur, atau sudah baring di tempat
tidur, seolah-olah sudah nyenyak, tetapi sebenarnya dia menunggu-nunggu Kartono
pulang.” (hal 57)
Waktu sore hari
juga menjadi latar dalam cerita pada Novel Belenggu.
waktu sore hari terdapat pada saat dokter Tono akan mengunjungo pasiennya yang
telah memanggilnya. Waktu tersebut disebutkan secara terang dalam kutipan
sebagai berikut.
“Hatinya
senang, kemudian di dalam mobil dengan gembira dia mengisap serutunya, sambil
di sudut tempat duduk. Mobil melancar, hari sudah hampir gelap, lampu di tepi
jalan sudah dipasang. Hawa sudah mulai sejuk. Matanya memandang ke kiri dan ke
kanan, melihat ke luar, akan memalaikan pikirannya.” (hal. 19)
c)
Latar suasana
Suasana hati
Tono yang gembira setelah bertemu dengan Yah. Hal tersebut dapat terlihat
terdapat tingkah laku yang dilakukan dokter Tono dalam kutipan “Ketika dokter Sukartono
keluar dari pekarangan rumah patient yang penghabisan, hatinya girang benar,
belum pernah segirang itu pada waktu yang akhir-akhir ini…… “. (hal. 32)
Berikut ini
merupakan kutipan percakapan yang menggambarkan suasana yang menyenangkan bagi
dokter Tono ketika bercakap-cakap dengan temannya, Hartono. “Sukartono merasa
gembira: “Memang, benar demikian, yaitu kalau kita biarkan kita dibelanggu,
tapi kalu kita pada mulanya benar suadah memasang segala tenaga kita, kalau
kita terus juga bersikeras hendak melepaskan belanggu itu,…”. (hal. 113)
Latar suasana
yang menyenangkan dalam hotel tempat Yah tinggal juga ada dalam cerita ketika
dokter Tono memeriksa Yah yang mempunyai keluhan. Suasana tersebut tergambar
pada percakapan antara dokter Tono dan Yah (Ny. Eni) pada sebagai berikut.
“Ketika
dokter Sukartono keluar dari pekarangan rumah patient yang penghabisan, hatinya
girang benar, belum pernah segirang itu pada waktu yang akhir-akhir ini. dalam
notesnya tidak ada lagi patient lain, baru saja diteleponnya ke rumah, kata
Karno tidak ada patient. ….” (hal. 32)
Suasana hati
yang mengecewakan Tono ketika mendapati Rumah Yah telah pindah. “Kegirangan
hatinya bertukar menjadi perasaan jengkel, ketika dia keluar dari mobil,
disambut oleh jongos yang malam kemaren dulu dengan kata: “sudah pindah, tuan
dokter.” (hal. 32)
Suasana ruangan
yang bising karena suara radio juga tergambar pada kutipan yaitu sebagai
berikut.
“Dia
berdiri dihadapan radio. Diputarnya knop penghubung kekawat listrik, lampu
menyala di dalam, diputarnya knop untuk gelombang, diputarnya sampai 190,
terdengar lagu keoncong baru, lalu diperlahankannya. Dia pergi bersandar pada meja
tulisnya. Suara berhenti. Kata omruper: sehabis ini akan diperdengarkan suara
Siti Haryati dari piring hitam dengan lagu: Ingat aku.“ (hal. 61)
Suasana yang
mengharukan dapat ditemukan pada saat Yah mengutarakan bahwa dirinya adalah
Rohayah yang merupakan teman dokter Tono semasa SMA. Yah berusaha mengingatkan
hal itu kepada dokter Tono tapi doketr Tono masih belum mengingatnya. Maka Yah
menangis dalam keadaan itu. Hal tersebut terdapat pada kutipan pada sebagai
berikut.
“dia
tertiarap di lantai, kedua belah tangannya bersilang menutup matanya. Badannya
tersentak-sentak karena menagis tertahan-tahan. Kartono melutut, hendak
mengangkat badan Yah. Yah menolaknya … “. (hal. 51)
5.
Sudut pandang dalam
cerita Novel Belenggu
Sudut
pandang yang dipilih oleh Armijn Pane dalam Novel Belenggu yaitu menggunakan teknik orang ketiga serba tahu. Jadi
orang ketiga serba tahu ini merupakan bukan termasuk salah satu tokoh dalam Novel
Belenggu. Sudat pandang tersebut bisa
penulis atau pun orang lain. Hal tersebut bisa diketahui dengan cara
mengidentifikasi yang mana pencerita selalu menyapa nama-nama tokoh. Selain
itu, bisa diketahui seakan-akan pencerita seperti seseorang yang sedang
bercerita melalui tulisan kepada pembaca.
6.
Moral
Pembelajaran
moral yang bisa diambil dari cerita dalam Novel Belenggu yaitu menerima kelebihan dan kekurangan dari suami atau
istri karena kita telah memilihnya menjadi pasangan hidup sehingga harus mampu
sehidup semati dengan pasangan kita. Moral ini sangat menonjol sekali dalam
cerita Novel Belenggu. Hal itu
tergambar dalam inti cerita yaitu perselinggkuhan antara dokter Sukartono dan
Ny. Eni di belakang Sukartini. Hal itu terjadi karena menurut dikter Tono,
istrinya merupakan istri yang belum sempurna ketika harus membahagiakan dirinya
sebagai suaminya. Sedangkan sosok istri yang diidamankan oleh dokter Tono ada
dalam diri Ny. Eni.
Pesan
moral yang lain yaitu untuk menghargai kelebihan orang lain. Misalnya ketika
Sumartini menyadarai bahwa Ny. Eni atau Yah memang lebih pintar dalam
membahagiakan suaminya maka Sumartini lebih memilih untuk menceraikan dokter
Tono dan merelakan mereka untuk bersama. Harapannya agar mereka bisa lebih
bahagia.
Pesan
moral yang selanjutnya yaitu mengajarkan kita untuk mengakui kesalahan yang
telah dilakukan oleh diri kita sendiri sehingga kita juga berlaku jujur pada
diri sendiri dan orang lain. Hal tersebut seperti yang dilakukan oleh Yah
kepada dokter Tono pada kutipan pada sebagai berikut.
“Tono,
Tono, aku menyanyi sebagus itu, karena hendak memikat hatimu, sebarang
perbuatanku semata-mata untuk mengikat engkau teguh-teguh padaku. Aku tahu
engkau seka bertukar pikiran, karena pikiranmu rusuh, aku pura-pura
mendengarkan katamu, aku pura-pura suka berkata tinggi-tinggi, tapi sebenarnya
aku geli. Perempuan seperti aku pandai memikat, Tono. Percayalah, aku perempuan
jahat. Aku hendakkan engkau, karena engkau dokter. Lantaran aku, engkau
berpisah dengan istrimu.” (hal. 149)
7.
Keterkaitan judul
dengan cerita dalam Novel Belenggu
Judul
Novel Belnggu mempunyai keterkaitan
dengan cerita yang disajikan. Secara harfiah kata belenggu berarti sesuatu yang
mengikat sehingga tidak bebas lagi. Hal tersebut menggambarkan tokoh Tono,
Tini, dan Yah masing-masing terbelenggu dengan kehidupan masa lalunya. Tono
yang telah beristri merasa terbelenggu dengan keadaan yang ada di sekitarnya
dan masalalunya. Dia menikahi Tini bukan berdasarkan cinta namun hanya ingin
menakhlukan niat Tini yang garang (Pradopo, 2002). Sedngkan wanita yang
sebenarnya diidamkan sejak dulu adalah Yah yang akhirnya menjadi wanita yang
diselingkuhinya. Perselingkuhan tersebut merupakan sebagai akibat dari Tono
yang terbelenggu dengan sifat Tini yang tidak pernah menganggap Tono selayaknya
sebagai suami. Tini tidak pernah melayani Tono seperti yang diinginkan Tono
dalam kehidupan rumah tangganya. Misalnya seperti melepaskan sepatu,
mengambilkan rokok, dan hal-hal kecil lainnya.
Begitu
juga dengan apa yang dirasakan dengan Tini. Tini merupakan wanita modern yang
menjunjung tinggi emansipasi wanita sehingga dia tidak mau hidupnya dibatasi
oleh siapapun termasuk Tono sebagai suaminya. Tini yang juga tidak mempunyai
rasa cinta kepada Tono saat menikah. Dia masih terbelenggu dengan masa lalunya
yang pernah mencintai Hartono. Namun, Tini juga merasa bahwa Tono sebagai
suaminya tidak pernah memperhatikan keluarganya sendiri. Tono hanya
mengedepankan kepentingan para pasiennya. Maka dari itu Tini selalu menentang
apa yang dilakukan oleh Tono seperti membuang alamat pasiennya yang telah
menelepon.
Yah
yang merupakan salah satu masa lalu dari Tono juga mempunyai peristiwa yang
menjadikannya terbelenggu. Tini yang mempunyai masa lalu pernah mencintai Tono
ketika mereka sekolah di SMA. Namun, cintanya tersebut tidak kesampaian. Selain
itu, Yah juga mengidamkan lelaki yang berprovesi sebagai dokter kelak akan menjadi
suaminya. Kemudian dia dikawinkan dengan orang yang tidak dicintainya sehingga
dia kabur dan melampiaskannya menajdi seorang pelacur. Hingga suatu hari dia
bertemu dengan Tono yang telah menjadi dokter dan merasa tidak nyaman dengan
keadaan keluarganya sekarang. Kesempatan itulah yang akhirnya membuat Tono dan
Tini merasa cocok dan berselingkuh di belakang Tini. Pada akhirnya
perselingkuhan tersebut diketahui oleh Tini dan membuat Tono dan Tini menjadi
bercerai. Yah juga tidak mau melanjutkan hubungannya dengan Tono walaupun Tono
sebenarnya mencintai Yah. Yah tetap meninggalkan Tono dan pergi keluar negeri.
D.
Kesimpulan
Novel
Belenggu merupakan karya sastra mutakhir
yang terbit menjadi karya sastra Pujangga Baru. Karya sastra ini menjadi karya
yang diterima masyarakat karena ceritanya yang menarik hati para pembacanya.
Selain itu, Armijn Pane sebagai pengarangnya mampu menuangkan ide-ide yang
ingin disampaikan dengan baik dan diterima masyarakat.
Dalam
Novel Belenggu, terdapat unsur
instrinsik yang membangun cerita novel sehingga menjadi lebih menarik bagi
pembacanya. Pembedahan unsur-unsur instrinisk dalam suatu karya sastra disebut
dengan pendekatan struktural. Unsur-unsur tersebut meliputi tema, tokoh dan
penokohan, plot atau alut, latar atau setting
(tempat, waktu dan suasana), sudut pandang, dan moral. Semua unsur-unsur instrinsik
tersebut saling mendukung untuk menyampaikan cerita dalam suatu karya sastra.
Setelah
mengkaji Novel Belenggu, maka dapat
ditemukan bahwa novel karya Armijn Pane tersebut bertema tradisional yaitu
bertema tentang perselingkuhan seorang suami yang didasari pernikahan paksa.
Tema tersebut dikategorikan menjadi tema tradisional karena tema tersebut dapat
ditemukan dalam novel lain seperti Novel Salah
Asuhan karya Abdul Muis.
Tokoh-tokoh
yang menjalani cerita dalam Novel Belenggu
yaitu dokter Sukartono, Sumartini (istri dokter Sukartono), Ny. Eni atau Yah
(selingkuhan dokter Sukartono), Hartono (teman dokter Sukartono), Mardani
(teman Tono dan Hartono), Mangunsucipto (paman Tini), Karno (bujang Tono),
Abdul (sopir Tono), Puteri Aminah, Nyonya Sumardjo, dan yang lainnya. Penokohan
masing-masing teokoh tersebut berbeda-beda karena masing-masing memilki peran
tersendiri dalam membangun cerita dalam Novel Belenggu.
Alur
atau plot yang ada dalam Novel Belenggu
termasuk dalam alur maju karena menceritakan secara runtut kejadian-kejadian
yang ada dalam novel. Novel Belenggu
juga menceritakan dengan jelas bagian-bagian dari konflik, klimak yiatu pada
saat perselingkuhan dokter Sukartono dan Ny. Eni diketahui oleh Sumartini.
Latar
tejadinya cerita-cerita Novel Belenggu
diantaranya dibagi menjadi latar tempat, waktu, dan suasana. Latar tempat
diantaranya terjadi di rumah dokter Sukartono, rumah Ny. Eni yang lama, rumah
Ny. Eni yang baru dan tempat-tempat lainnya. Latar waktu terjadi ketika malam
dan siang hari. Kemudian untuk suasana yang mengiringi cerita Novel Belenggu yaitu suasana yang
menggembirakan maupun menyedihkan.
Sudut
pandang yang digunakan Armijn Pane untuk menyampaikan cerita Novel Belenggu yaitu menggunakan sudut pandang
orang ke tiga serba tahu. Hal itu karena yang bercerita merupakan orang yang
tidak terlibat dalam langsung sebagai tokoh dalam Novel Belenggu.
Moral-moral
yang disampaikan sangat berkaitan sekali dengan kehidupan sehari-hari.
Khususnya untuk para orang-orang dewasa yang telah menikah. Jadi mereka dapat
mengambil nilai-nilai positif yang disampaikan dalam cerita untuk diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari. Nilai moral tersebut seperti pembelajaran untuk
setia kepada pasangan, kejujuran mengakui kesalahan sendiri, dan lain
sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Fananie,
Zainuddin. 2000. Talaah Sastra. Surakarta:
Muhamadiyah University Press.
Muis,
Abdul. 2000. Salah Asuhan. Jakarta:
Balai Pustaka.
Nurgiyantoro,
Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Nursisto.
2000. Ikhtisar Kesusastraan Indonesia.Yogyakarta:
ADICITA KARYA NUSA.
Pane,
Armijn. 2008. Belenggu. Jakarta: Dian
Rakyat.
Pradopo,
Rachmat Djoko. 2002. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Gama
Media.
Rosidi,
Ajip. 1969. Ichtisar Sedjarah Sastra
Indonesia. Bandung: Percetakan GANACO.
Sayuti,
A. Suminto. 2000. Berkenalan dengan Prosa
Fiksi. Yogyakarta: Gama Media.
Suamardjo,
Jacob. 1992. Lintasan Sastra Indonesia Modern Jilid 1. Bandung: PT.
Citra Aditya Bakti.
Wiyatmi.
2009. Pengantar Kajian sastra. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.
dulu pas smp aku baca beginian lo mba (belenggu, dibawah lindungan ka'bah, azab dan sengsara) disuruh buat sinopsis .... baru tau kalo itu ternyata karya sastra terkenal
BalasHapus