ANALISIS
PUISI
MENGGUNAKAN
TEORI SOSIOLOGI SASTRA
Disusun untuk
memenuhi tugas akhir semester ganjil
Mata kuliah: Puisi
Dosen pengampu:
Kusmarwanti, M. Pd., M.A.
Disusun
oleh :
DEVI ARTATI
10201244039
Kelas N
PENDIDIKAN
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS
NEGERI YOGYAKARTA
2011/2012
I.
Pendahuluan
Karya sastra
merupakan salah satu media bagi para sastrawan untuk mengungkapkan pandangan
mereka terhadap apa yang terjadi di masyarakat. Dapat dikatakan juga bahwa
karya sastra itu sendiri berobjek pada realita, yaitu adanya karya sastra
berdasarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia nyata. Hal itu dapat
terlihat dari berbagai karya sastra yang mengandung berbagai macam aspek di
dalamnya seperti aspek politik, sosial, agama, budaya, cinta, kebahagiaan,
potret kehidupan, dan lain-lain.
Berdasarkan
penjelasan diatas bahwa suatu karya sastra merupakan penggambaran dari relita
di dunia. Maka cocok sekali jika dalam menganalisis suatu karya dengan pendekatan
atau teori sosiologi sastra. Ketika membedah karya sastra dengan toeri
sosiologi sastra maka akan diketahui tujuan dari diciptakannya karya sastra
tersebut. Grebstein (1968) mengungkapkan
bahwa pengungkapan atas karya sastra hanya mungkin dapat dilakukan secara lebih
lengkap apabila karya sastra itu tidak dipisahkan dari lingkungan, kebudayaan
atau peradaban yang menghasilkannya. Dia mengatakan juga bahwa karya sastra
adalah hasil pengaruh yang rumit dari faktor-faktor kultural. Hal itu berarti
dalam memahami sebuah karya sastra perlu menghubungkan dengan faktor-faktor
sosio-budaya. Hubungan tersebut akan tampak pada unsur-unsur pembangun karya
sastra tersebut misalnya ungkapan, diksi, simbol dan yang lainnya yang ada pada
karya sastra itu sendiri.
II.
Kajian Teori
Kajian
puisi ini akan mengkaji puisi dengan teori sosiologi sastra, yaitu memahami
puisi dalam hubungannnya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatan. Teori
sosiologi sastra merupakan pengembangan dari teori mimetik dalam mengkaji suatu
karya sastra. Teori tersebut dilatarbelakangi oleh fakta bahwa keberadaan karya
sastra tidak terlepas dari realitas sosial yang terjadi di masyarakat. Sosiologi
sastra terdiri dari kata sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal dari bahasa
Yunani yaitu kata sos yang berarti bersama, bersatu, kawan, teman dan logia
atau logos yang berarti sabda,
perkataan, perumpamaan. Sedangkan kata sastra berakar dari kata dari bahasa
sansekerta yang berarti mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk dan
intruksi. Akhiran tra memiliki arti alat atau sarana. Sebagai salah satu teori
dalam kritik dan kajian sastra, sosiologi sastra dapat mengacu pada cara
memahami dan menilai sastra yang mempertimbangkan hal-hal yang terjadi di
masyarakat. Berdasarkan namanya, teori sosiologi sastra merupakan perpaduan
antara ilmu sastra dengan ilmu sosiologi. Oleh karena itu, agar bisa memahami
suatu karya sastra dengan menggunakan teori sosiologi sastra maka harus
menguasai ilmu sastra dan ilmu sosiologi. Selain itu juga harus menguasai hal-hal
yang terjadi di masyarakat.
Sosiologi
sastra menurut Wallek dan Warren (1990) diklasifilkasikan menjadi tiga tipe,
yaitu sosiologi pengarang, sosiologi karya, dan sosiologi pembaca dan dampak sosial
karya sastra. Dalam sosiologi pengarang ditelaah latar belakang sosial, status sosial
pengarang, dan ideologi pengarang di luar karya sastra. Dalam sosiologi karya
ditelaah isi karya sastra, tujuan serta hal-hal yang tersirat dalam karya
sastra itu sendiri dan yang berkaitan dengan masalah sosial. Sedangkan dalam
sosiologi pembaca dan dampak sosial karya sastra ditelaah sejauh mana sastra
ditentukan atau tergantung dari latar sosial, perubahan dan perkembangan sosial.
Dalam
perkembangan selanjutnya teori sosiologi sastra memiliki berbagai varian, yang
masing-masing memiliki kerangka teori dan metode sendiri. Dalam hal ini Junus
(1986) membedakan sejumlah teori sosiologi sastra ke dalam beberapa macam,
yaitu:
a) sosiologi sastra yang
mengkaji karya sastra sebagai dokumen sosialbudaya;
b) sosiologi sastra yang
mengkaji penghasilan dan pemasaran karya sastra;
c) sosiologi sastra yang
mengkaji penerimaan masyarakat terhadap karya sastra seorang penulis tertentu
dan apa sebabnya;
d) sosiologi sastra yang mengkaji
pengaruh sosial budaya terhadap penciptaan karya sastra;
e) sosiologi sastra yang
mengkaji mekanisme universal seni, termasuk karya sastra;
f) strukturalisme genetik
yang dikembangkan oleh Lucien Goldman dari Perancis.
III.
Pembahasan
Mengkaji
karya sastra dengan teori sosiologi sastra ini akan diterapkan pada mengkaji
puisi yang pertama berjudul “Kalian
Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis, Lalu Kalian Paksa Kami Masuk Penjajahan Baru,
Kata Si Toni” karya Taufik Ismail. Dalam mengkaji puisi tersebut menggunakan
teori sosiologi sastra sehingga harus ditelaah dengan tiga sudut pandang. Sudut
pandang tersebut meliputi sudut pandang sosiologi pengarangnya, sosiologi
karya, serta sosiologi pembaca dan dampak sosial karya sastra tersebut.
Mengkaji
puisi “Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis, Lalu Kalian Paksa Kami Masuk Penjajahan
Baru, Kata Si Toni” dari segi pengarangnya yaitu Taufik Ismail. Dalam hal ini
dalam mengkaji dari segi pengarangnya maka pemaknaan puisi itu dikaitkan dengan
latar belakang perjalanan hidup Taufik Ismail.
Secara
umum makna dari puisi “Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis, Lalu Kalian
Paksa Kami Masuk Penjajahan Baru, Kata Si Toni” adalah kekecewaan masyarakat
Indonesia pada masa pemerintahan orde baru periode yang terakhir (sekitar Tahun
1990-1998 an). Kekecewaan tersebut lebih pada kegagalan pemerintah dalam bidang
ekonomi. Kaitannya dengan sastrawan Taufik Ismail yaitu bahwa dia sendiri
adalah warga Negara Indonesia yang turut serta merasakan dan mengamati fenomena
pemerintahan pada masa orde baru. Taufik Ismail saat itu aktif diberbagai
organisasi di Indonesia sehingga dia banyak tahu tentang silsilah pemerintahan.
Sebagai pengarang puisi, Taufik kerap kali membacakan puisinya di berbagai
tempat, baik di luar maupun di dalam negeri. Dalam setiap peristiwa yang
bersejarah di Indonesia Taufik selalu tampil dengan membacakan puisi-puisinya,
seperti jatuhnya rezim Soeharto, peristiwa Trisakti, dan peristiwa Pengeboman
Bali.
Mengkaji
puisi “Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis, Lalu Kalian Paksa Kami Masuk
Penjajahan Baru, Kata Si Toni” dari segi karya sastra itu sendiri. Dalam hal
ini makna dalam puisi itu dikaitkan dengan kejadian-kejadian yang ada di
masyarakat.
Pemknaan
puisi tersebut dapat dilihat pada kutipan puisi berikut ini.
Jadi sangat
tergantung pada budaya
Meminjam uang ke
mancanegara
Sudah satu
keturunan jangka waktunya
Hutang selalu
dibayar dengan hutang baru pula
Lubang itu
digali lubang itu juga ditimbuni
Lubang itu,
alamak, kok makin besar jadi
Kalian
paksa-tekankan budaya berhutang ini
Sehingga
apa bedanya dengan mengemis lagi
Kutipan puisi tersebut
mengungkapan bahwa Negara Indonesia yang memiliki banyak hutang kepada negara
lain. Hutang-hutang tersebut tidak kunjung dilunasi tapi malah semakin hari
semakin banyak. Kemudian jangka waktunya melibatkan generasi bangsa selanjutnya
yang sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang hal tersebut. Dalam buku Sejarah
Indonesia Modern 1200-2008 (2008:686) mengungkapkan bahwa pada saat itu
Indonesia memiliki jumlah hutang jangka pendek yang besar, karena banyak hutang
masuk ke dalam Indonesia yang biasanya dalam bentuk dolar Amerika, sehingga
membengkak karena mengikuti pergerakan mata uang rupiah yang tidak bagus. Hutang
jangka pendek ini berkisar US$ 30-40 miliar pada tahun 1997. Sedangkan sistem
perbankan masih belum tertata dengan baik. Indonesia sedang mengalami
kekeringan sehingga sektor pendapatan dari segi pertanian berkurang.
Pada bait ke
dua menggambarkan pada waktu keterpurukan Indonesia yang mempunyai banyak
hutang. Untuk melunasi hutang-hutang tersebut bangsa indonesia bekerja keras
dengan memanfaatkan berbagai macam yang dimiliki alam Indonesia. Namun kehidupan
sebagian orang-orang penting yang berkecimpung dalam pemerintahan
Indonesiajustru hidup bermewah-mewahan tanpa memikirkan keadaan negara yang
saat itu sedang terpuruk. Makna seperti ini dapat diperoleh melalui kutipan puisi
bait ke dua berikut ini.
Dibenarkan
serangkai teori penuh sofistikasi
Kalian
memberi contoh hidup boros berasas gengsi
Dan
fanatisme mengimpor barang luar negeri
Gaya
hidup imitasi, hedonistis dan materialistis
Kalian cetak kami jadi bangsa pengemis
Ketika
menadahkan tangan serasa menjual jiwa
Realita yang digambarkan
dalam puisi tersebut yaitu berdasarkan buku Sejarah Indonesia Modern (2008:684)
menyatakan bahwa beredarnya kabar Indonesia akan merakit mobil nasionalnya
sendiri di dalam negeri, yang mensyaratkan adanya pembebasan pajak. Presiden
menyerahkan kontrak tersebut kepada Tommy Soeharto bekerja sama dengan pabrik
Kia di Korea. Namun hal terungkap yang nyatanya usaha bersama tersebut adalah
bukan membuat mobil nasional namun mobil tersbut menjadi mobil pribadi. Tommy
mengatakan bahwa ia akan mengirimkan orang Indonesia untuk bekerja di pabrik
Kia di Korea. Sehingga akan tepatlah mobil itu sebagai mobil nasional. Yang
semakin absurd adalah mobil baru tersebut diberi nama Timor. Presiden Soeharto
menyetujui mengimport 45.000 mobil Timor pada tahun pertama. Negara yang berada
dalam situasi banyak hutang pemerintah masih juga bersenang-senang dengan hidup
mewah sedangkan di sisi lain mereka mengabaikan masyarakatnya sendiri hidupnya
belum sejahtera karena kebijakan mereka dari pemerintah.
Mengkaji puisi dari respon pembaca. Kali ini dikaitkan
dengan tanggapan pembaca terhadap puisi “Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa
Pengemis, Lalu Kalian Paksa Kami Masuk Penjajahan Baru, Kata Si Toni” karya
Taufik Ismail sangat diminati untuk dibaca para penikmat sastra.Puisi ini
merupakan karya sastra sebagai media kritik kepada pemerintah, selain itu salah
satu manfaatnya juga sebagai media untuk mengabadikan peristiwa sejarah bangsa
Indonesia. Ketika generasi muda yang tidak tahu fenomena pemerintahan sejarah
pada masa orde baru maka jika membaca puisi ini akan merasa penasaran dengan
makna dari puisi ini. Sehingga pembaca menjadi tahu tentang sejarah
pemerintahan dari Negara Indonesia melalui puisi karya Taufik Ismail ini.
Selanjutnya mengkaji puisi yang keduadengan teori
sosiologi sastra.Puisi berjudul “Monolog Seorang Veteran Yang Tercecer Dari
Arsip Negara” buah karya Ahmadun Yosi Hervanda. Sebenarnya tidak jauh berbeda
dengan puisi yang pertama. Puisinya adalah sebagai berikut.
MONOLOG SEORANG VETERAN
YANG TERCECER DARI ARSIP NEGARA
Oleh Ahmadun Yosi Hervanda
Bendera-bendera berkibar di udara
Dan, orang-orang berteriak “telah
bebes negeri kita”
Tapi aku tertatih sendiri
Di bawah patung kemerdekaanyang
letih
Dan tersuruk di bawah mimpi
reformasi
Kau pasti tak mengenaliku lagi
Seperti dulu, ketika tubuhku
terkapar penuh luka
Di stasiun jatinegara, setelah
sebutir peluru
Menghajarku dalam penyerbuan itu
Dan negeri yang kacau mengubur
Sejarah dalam gundukan debu
Setengah abad lewat kita
melangkah
Di tanah merdeka, sejak
Soekarno-Hatta
Mengumumkan kebebasan negeri kita
Lantas kalian dirikan
partai-partai
Juga kursi-kursi kekuasaan di
atasnya
Gedung-gedung berjulanga
Hotel-hotel berbintang, took-toko
swalayan
Jalan-jalan layang, mengembang
bersama
Korupsi, kolusi, monopoli,
manipulasi,
Yang membengkakkan perutmu
sendiri
Sdang kemiskinan dan kebodohan
Tetap merebak di mana-mana
Dan, aku pun masih prajurit tanpa
nama
Tanpa tanda jasa, tanpa seragam
veteran
Tanpa kursi jabatan, tanpa gaji
bulanan
Tanpa tanah peternakan, tanpa
rekening siluman
Tanpa istri simpanan
Meskipun begitu, aku sedih juga
Mendengarmu makin terjerat hutang
Dan keinginan IMF yang makin
menggencat
Kebijakn Negara.
Karena itu, maaf, saat engkau
menyapaku, “Merdeka!”
Dengan rasa sembilu
Aku masih menjawab, “Belum!”
Jakarta, 1998-2008
Maksud dari puisi ini adalah kritik terhadap
pemerintah di masa paska orde baru yaitu masa pemerintahan presiden Soeharto. Pada
masa pemerintahan Soeharto, pembangunan dalam negeri sangat pesat dan pejabat
yang duduk di pemerintahan hidup bermewah-mewah menikmati hasil korupsi. Sementara
itu, nasib rakyat kecil terabaikan termasuk mereka yang ikut berjuang
mempertahankan kemerdekaan. Banyak sekali pejuang veteran yang miris nasibnya. Alih-alih
mendapatkan kesejahteraan, identitas mereka saja pemerintah bahkan tidak
menghiraukan. Meski jumlah mereka banyak, pemerintah seolah menutup mata atas
keberadaan mereka. Pemerintah hanya menikmati negara yang sudah merdeka tapi
tidak memikirkan bagaimana perjuangan para veteran dalam memperjuangkan Negara
Indonesia menuju kemerdekaan.
Ketika kemerdekaan sudah berlangsung lama dan
pembangunan negara berlangsung para pemerintah sibuk dengan kepentingan
kenegaraansaja. Namun mereka justru hanya mementingan keuntungan diri mereka
sendiri. Orang-orang penting dalam pemerintahan melakukan KKN di berbagai
Institusi sedangkan rakyat mereka yang harusnya diperjuangkan kesejahteraan
justru terbengkalai. Termasuk para pejuang veteran bangsa Indonesia. Mereka
turut dilalaikan oleh pemerintah. Hal seperti itu pun kadang masih terlihat
sampai saat ini.
Keadaan negara sendiri pada saat orde baru sempat
dalam situasi yang genting. Negara mempunyai banyak hutang kepada IMF dan
Negara lain. Keadaan penduduk Indonesia yang masih di bawah taraf
kesejahteraan. Hal itu menggambarkan bahwa kemerdekaan Indonesia hanyalah
sebatas status namun pada kenyataan dalam kehidupan para penduduknya sungguh
belum merdeka.Itulah yang diungkapkan Ahmadun Yosi Hervanda melalui puisinya
ini. Para veteran sebagai saksi berjalannya kepemerintahan negara Indonesia.
Ahamdun Yosi Hervanda merupakan satrawan yang aktif
dalam penulisan di berbagai media masa. Selain menulis karya sastra yang dimuat
diberbagai media masa, dia juga menulis karya sastra maupun esai dengan
mengambil tema kritik sosial. Seperti karyanya ini merupakan salah satu kritik
sosial. Penuangan idenya dalam puisinya “Monolog Seorang Veteran Yang Tercecer
Dari Arsip Negara”karena terinspirasi dari pengamatannya pada lingkungan
sekitar. Saat terjadinya carut marut dalam kepemerintahan orde baru dan
setelahnya Ahamdun Yosi Hervanda sedang tinggal di Jakarta karena bekerja di
sana.
Penerapan teori
sosiologi sastra pada puisi ini berkaitan dengan makna dan peristiwa yang
tejadi di Negara Indonesia saat menuju peralihan revormasi. Pembangunan negara
sangat pesat terjadi pada masa orde baru. Sedangkan Indonesia yang memiliki
banyak hutang juga terjadi pada orde baru tahun 90an seperti yang diungkapkan
pada oleh sejarahwan M.C. Ricklefs pada bukunya “Sejarah Indonesia Modern
1200-2008” (2008:659-692).
Penerapan teori
sosiologi sastra pada puisi ini adalah bagaimana pengaruhnya bagi para pembaca.
Puisi ini merupakan sebagai kritik terhadap pemerintah agar lebih memperhatikan
masyarakat Indonesia dan para veteran yang telah memperjuangkan Indonesia.
Selain itu puisi ini sebagai pewaris sejarah Negara Indonesia kepada genarsi
yang akan datang.
IV.
Penutup
Pada
hakikatnya kedua puisi yang berjudul “Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis, Lalu Kalian
Paksa Kami Masuk Penjajahan Baru, Kata Si Toni” karya Taufik Ismail dan puisi
“Monolog Seorang Veteran Yang Tercecer Dari Arsip Negara” buah karya Ahmadun
Yosi Hervanda satu sama lainmemiliki tujuan untuk mengkritik pemerintahan
Indonesia dimasa orde baru dan setelahnya. Ketika kedua piusi dikaji dengan
teori sosiologi sastra maka keduanya mengungkapan tentang sejarah kepemerintahan di Negara
Indonesia.Berbagi macam penyimpangan terjadi dimasa pemerintahan tersebut. Mulai
dari tindak korupsi kolusi dan nepoisme yang dilakukan oleh para petinggi
negara. Sedangkan penduduk negara yang harusnya diperhatikan kesejahteraannya
justru diabaikan.
Kemerdekaan
yang disandang oleh Negara Indonesia seakan-akan hanyalah topeng belaka.
Mengkaji puisi karya Taufik Ismail
dan Ahmadun Yosi Hervanda dengan teori sosiologi sastra itu sama saja menghubungkan pemakanaan puisi
tersebut dengan kehidupan sosial yang terjadi dimasyarakat sekitar. Berdasarkan
teori tersebut maka puisi-puisi yang dikaji merupakan penggambaran peristiwa
yang terjadi pada masa orde baru. Hal itu berdasarkan pengkajian yang telah
dilakukan seperti yang telah dijabarkan dalam pembahasan.
V.
Daftar pustaka
Ricklefs, M. C. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008.
Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.
Wiyatmi. 2009. Pengantar Kajian Sastra.
Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.
Anonim.
2011.
Sosiologi Sastra Sebagai Pendekatan,
“ kajiansastra.blogspot.com”.Diunduh
pada 29 Desember 2011
Anonim. 2012. Biografi Ahmadun Yosi Hervanda, “id.wikipedia.org”. Diunduh pada 5 Januari 2012.